Tarsan

Apabila membaca cerita atau menonton film ‘Tarzan’, maka kita akan memahami atau memetik pesan bahwa tidak selamanya persaudaraan itu ditentukan oleh hubungan darah maupun persamaan latar belakang budaya.

Tarzan yang semenjak bayi diasuh oleh seekor induk simpanse akhirnya menganggap simpanse itu orang tuanya, binatang-binatang di hutan saudaranya, dan hutan rimba rumahnya. Selain itu, cerita Tarzan memberi kita nilai balas budi. Sebab, sekalipun Tarzan menyadari dirinya seorang manusia, namun ia tidak begitu saja berpihak pada manusia. Ia dengan sekuat tenaga berusaha membantu dan membebaskan binatang-binatang hutan dari tangan pemburu.

Kini, jika boleh kita renungkan sejenak, “Apa saja yang telah kita lakukan sebagai bentuk balas budi kita atas kebaikan Allah, orang tua, keluarga dan sahabat-sahabat kita?”

Sahabat terkasih, pesan dari cerita ‘Tarzan’ dapat dijadikan pengantar bagi kita dalam memahami Sabda Tuhan Yesus yang terdapat dalam bacaan Injil 21 Juli 2020 (Matius 12: 46-50) bahwa Yesus pun tahu membalas kebaikan atau budi setiap orang yang mau setia melakukan sabda-Nya. Kepada orang banyak Yesus berkata, “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab, siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Waktu itu, orang-orang Yahudi merupakan masyarakat yang sangat mementingkan garis keturunan atau hubungan darah dalam segala aspek kehidupan, seperti mengangkat Imam Kepala, kepala suku, atau pun dalam menilai latar belakang seseorang. Itulah mengapa Yesus mengalami penolakan ketika mengajar di bait Allah, sebab diri-Nya hanyalah anak seorang tukang kayu.

Oleh karena itu, syukur kepada Allah, karena melalui sabda-Nya ini, Tuhan Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa iman tidaklah dinilai atau ditentukan oleh hubungan darah, melainkan melalui ketaatan kita di dalam melakukan kehendak Allah.

Demikian pula, iman dapat kita wariskan kepada setiap orang sekalipun tidak memiliki hubungan darah dan berbeda latar belakang budaya dengan kita. Sehingga harapannya, kita pun menjauhi sikap fanatisme atau eksklusivisme yang hanya menganggap diri atau kelompok kita yang paling baik.

Semoga, semua ini menginspirasi kita bahwa melakukan kehendak Allah lebih utama dari apa pun juga. Dan, jangan berkecil hati, sebab sekalipun mengikuti kehendak Allah tidak mudah, tapi Allah kita ialah Allah yang peduli yang mengerti dengan setiap jatuh bangun yang kita alami dalam mengikuti-Nya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Mikha dalam bacaan pertama (Mikha 7:14-20). “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan