Hagia Sophia di Istanbul, Turkey (©Manikini - stock.adobe.com)
Hagia Sophia di Istanbul, Turki (©Manikini – stock.adobe.com)

Konferensi Gereja-Gereja Eropa (CEC) menyatakan kekecewaannya pada keputusan 10 Juli 2020 oleh Presiden Turki, Tayyip Erdogan, untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid. Organisasi ekumenis itu, yang mewakili 114 gereja anggota di Eropa, banyak di antaranya gereja Ortodoks, menyampaikan keprihatinannya melalui surat yang dikirim 15 Juli 2020 pada Komisi Eropa dan Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Dalam surat kepada Perwakilan Tinggi Komisi Eropa, Josep Borrell Fontelles, CEC mencatat bahwa keputusan baru-baru itu, yang “dimotivasi oleh petisi ke Pengadilan Turki” dan didukung oleh kantor presiden Turki, mempersoalkan “keabsahan dari keputusan presiden itu dari tahun 1934.” Juga dikatakan, ”tindakan seperti itu berpotensi menciptakan tanah subur bagi kebencian dan kekerasan agama selanjutnya.”

Dalam surat terpisah kepada Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, dan Direktur Pusat Warisan Dunia UNESCO, Mechtild Rössler, CEC mendesak badan internasional itu untuk “melakukan tindakan nyata melawan pemerintah Turki guna mencegah perubahan status situs warisan dunia yang ada itu.”

Dengan nada sama, Presiden CEC Pendeta Christian Kriegler mengulangi peringatan CEC bahwa langkah itu bisa menimbulkan alasan intoleransi dan kekerasan agama, dan menambahkan bahwa sebelumnya ia telah menyampaikan kekhawatiran CEC kepada UNESCO dan Lembaga-Lembaga Eropa untuk “mencari pengaruh diplomatik yang menghalangi tindakan seperti itu.”

Wakil Presiden CEC, Metropolitan Cleopas dari Swedia, mengatakan, “dalam statusnya sebagai museum, Hagia Sophia menyatukan orang dan budaya seluruh dunia.” Dengan prihatin, dia menunjukkan, perubahan status mengurangi “warisannya sebagai jembatan yang bisa diakses secara universal, menyatukan Timur dan Barat, melambangkan hidup bersama dengan damai, saling pengertian, dan solidaritas antara beragam orang.”

“Kami menganggap itu tidak pantas dan berbahaya bahwa abad ke-21 Hagia Sophia, yang didedikasikan untuk Kebijaksanaan Suci Allah dan memungkinkan umat beragama dari kedua agama bertemu dan mengagumi kemegahannya, menjadi penyebab konfrontasi dan konflik,” lanjut Metropolitan Cleopas seraya menggemakan kata-kata Patriark Ekumenis Bartholomeus.

“Dalam semangat nama Hagia Sophia, yang secara harfiah berarti Kebijaksanaan Suci, kami berdoa agar kebijaksanaan dan akal budi akhirnya menang dan Hagia Sophia terus beroperasi dengan status museum,” katanya.

Sekretaris Jenderal CEC, Jørgen Skov Sørensen, mengatakan, perkembangan baru-baru ini mengingatkannya pada surat Santo Paulus kepada umat di Korintus, “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:26). Dia menunjukkan, “keputusan ini mempengaruhi gereja-gereja yang terkena dampak langsung.” Namun, “semua gereja anggota CEC terganggu dengan apa yang kita saksikan di Istanbul hari ini.”

Awalnya dibangun sebagai katedral di masa Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia diubah menjadi masjid setelah Ottoman menaklukkan Konstantinopel tahun 1453. Namun, tahun 1934, pemimpin Turki Mustafa Kemal Ataturk memutuskan gereja itu diubah menjadi museum. Sejak itu Hagia Sophia menjadi magnet wisata bagi jutaan orang setiap tahun, dan secara luas dianggap sebagai simbol koeksistensi agama. Hagia Sophia adalah situs warisan dunia UNESCO di Istanbul. Dalam keputusan 10 Juli, pemerintah Turki membatalkan status museumnya dan menyangkal dekrit 1934.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Pastor Benedict Mayaki SJ/Vatican News)

1 komentar

  1. Gereja dan negara jgn berkelahi di Filipina. Mari duduk di satu meja. Dimulai dgn doa: berdiskusi. Cari titik temu. Jgn biarkan negara jln sendiri secara liar. Gereja juga jgn jadi penonton dlm hidup berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Pesan