Protes anti pemerintah di Libanon di tengah memburuknya krisis ekonomi
Protes anti pemerintah di Libanon di tengah memburuknya krisis ekonomi

Sekitar 80% sekolah Katolik, yang memberikan pendidikan bagi sekitar dua pertiga siswa di lembaga swasta Libanon, akan ditutup tahun ajaran 2020-2021, karena kurangnya bantuan pemerintah di tengah krisis ekonomi yang telah berlangsung lama di negara itu.

Pastor Boutros Azar, yang mengepalai Sekretariat Jenderal sekolah-sekolah Katolik, mengangkat alarm itu dalam surat terbuka 4 Juni 2020 kepada Presiden Libanon Michel Aoun. Imam itu menyalahkan masalah itu pada “kelalaian negara” terhadap sektor pendidikan swasta yang penting negara itu, termasuk sekolah-sekolah Katolik.

Menurut Pastor Azar, “Yang muncul hari ini dari Federasi Sekolah-Sekolah Swasta Libanon dan dari Sekretariat Jenderal Sekolah-Sekolah Katolik menegaskan bahwa kita menghadapi tantangan umum untuk sektor pendidikan swasta, yang menyediakan persekolahan bagi lebih dari dua pertiga murid di Lebanon (710 ribu siswa, dibandingkan dengan 260 ribu dalam pendidikan negeri).”

Imam itu mengatakan, penutupan itu adalah “kerugian nasional besar” yang memperburuk situasi yang sakit dari negara itu.

Berbicara kepada surat kabar harian berbahasa Prancis di Libanon, L’Orient-Le Jour (LOJ), Pastor Azar menjelaskan “kelalaian negara” itu mengacu pada UU 46/2018, yang merevisi skala gaji karyawan sektor negeri, seraya menghilangkan gaji karyawan institusi-institusi pendidikan swasta.

Selama lima tahun terakhir, pemerintah belum membayar sekolah-sekolah yang disubsidi sebagian. Untuk sekolah menengah dan kecil, katanya, tidak ada pilihan lagi kecuali menutup atau melakukan pemotongan drastis gaji guru.

Bahkan sebelum Covid-19, Lebanon mengalami krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya, yang memicu protes anti-pemerintah berskala besar tahun lalu.

Saat ini, hampir setengah juta penduduk negara itu hidup di bawah garis kemiskinan. Bulan April, pengunjuk rasa membakar serangkaian bank. Sistem perbankan negara itu dipandang terlibat dalam apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai perampasan negara oleh elit politik sendiri.

Beberapa orang memperingatkan, skala bencana mungkin akan lebih dahsyat daripada perang saudara selama 15 tahun (1975-1990).

Pastor Azar mengatakan dia tidak bisa memahami bias negara terhadap sekolah-sekolah swasta, dan mengatakan sekolah-sekolah itu melayani publik yang harusnya disubsidi.

Mata uang Lebanon telah kehilangan hampir 60% dari nilainya terhadap dolar, dan, di negara yang bergantung pada impor, hal itu menyebabkan inflasi merajalela. Ratusan, jika bukan ribuan bisnis, bangkrut, dan lebih dari sepertiga penduduknya menganggur.

Penutupan sekolah setelah demonstrasi bulan Oktober, kata imam itu, sekarang diikuti dengan penutupan virus corona. Orang tua telah meminta pengurangan biaya sekolah secara proporsional dengan jumlah hari yang ditutup, yaitu sekitar 40% dari tahun sekolah.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Robin Gomes/Vatican News).

2 KOMENTAR

  1. Oohhh… Tuhan berbelaskasihlah kepada Bangsa yang berkekurangan terutama Lebanon, sentulah para Elit Politiknya Tuhan agar berpihak pada orang kecil dan berkekurangan. Amin

Tinggalkan Pesan