Para imam dalam Misa Krisma 2019 untuk Keuskupan Roma. Karena M isa Krisma tahun ini ditunda, Paus menulis surat kepada imam-imam diosesannya  (Vatican Media)
Para imam dalam Misa Krisma 2019 untuk Keuskupan Roma. Karena Misa Krisma tahun ini ditunda, Paus menulis surat kepada imam-imam diosesannya (Vatican Media)

Paus Fransiskus menulis surat kepada para imam Keuskupan Roma dengan mengatakan bahwa dia ingin “mendekati mereka, menemani, ikut, dan meneguhkan” perjalanan mereka dalam memberikan tanggapan pastoral terhadap pandemi Covid-19. “Fase baru yang sudah sedang kita mulai,” tulis paus, “meminta kebijaksanaan, pandangan ke depan, dan komitmen kita bersama, agar semua upaya dan pengorbanan yang dilakukan sejauh ini tidak sia-sia.”

Bapa Suci mengatakan, dia berharap bertemu dengan imam Roma pada Misa Krisma, yang biasanya diadakan setiap tahun pada Kamis Putih. Namun, karena keadaan darurat virus corona, Misa Krisma tahun ini ditunda. “Karena perayaan bersifat keuskupan tidak mungkin, Paus Fransiskus menjelaskan kepada para klerus keuskupan, ‘Saya menulis surat ini untuk Anda’.”

Sebagai Uskup Roma, Paus mengatakan, pertukaran dengan para imam telah “mendorong” dia. Para imam, lanjut Paus, telah membagikan kesaksian, kepedulian dan kebutuhan mereka. Bersama dengan bagian lain Italia, Roma berada dalam pembatasan ketat karena krisis virus corona. Italia sangat terpukul oleh penyakit ini, lebih dari 230.000 kasus terdiagnosa, dan lebih dari 33.000 meninggal karena Covid-19.

Dalam suratnya, Paus memandang komunitas apostolik perdana, yang berkumpul di Ruang Atas setelah Paskah pertama. Meskipun pintu kamar ditutup karena para murid takut, Kristus Yang Bangkit menampakkan diri kepada mereka, memberikan mereka damai sejahtera dan selanjutnya mengirim mereka karunia Roh Kudus.

Bapa Suci mencatat, para imam Roma dekat dengan umatnya, dan bersama mereka mengalami kesulitan-kesulitan akibat lockdown, dan ikut merasakan kesedihan mereka. Mereka menemani orang-orang yang kehilangan orang yang dicintai, petugas kesehatan, pekerja penting, orang-orang yang ditolak dan rentan. Dan bersama mereka, tulis Paus, “Kita mengalami kerentanan dan ketidakberdayaan kita sendiri.”

Virus corona tidak membedakan antara individu, keluarga, kelompok sosial atau negara, tulis Paus. Sebaliknya, setiap orang terdampak oleh penyakit ini. Perkiraan kita dilawan dan persoalan-persoalan baru dan lama terpaksa jadi perhatian kita. Persoalan-persoalan ini, kata Paus, tak bisa dijawab hanya dengan membuka ulang dan kembali pada keadaan semula. Sebaliknya, kita dipanggil “untuk mempromosikan kehidupan baru yang ingin diberikan oleh Tuhan Yang Bangkit kepada kita.” Untuk melawan pencobaan, kita harus tingkatkan harapan agar bisa “merangsang kreativitas, kecerdikan, dan kemampuan kita untuk merespons.”

Yesus “tidak memilih atau mencari situasi ideal untuk masuk dalam kehidupan para murid-Nya,” tulis Paus. Tetapi ketika Dia menampakkan diri kepada para murid di ruang terkunci, Yesus “mampu mengubah semua logika dan memberi makna baru pada sejarah dan peristiwa.”

Kehadiran Yesus, tulis Paus, mengumumkan “hari baru. Paus mendorong para imam untuk tidak takut akan skenario rumit yang akan terjadi saat kita bergerak melampaui tahap pertama dari respons pandemi, dan mengingatkan bahwa sukacita Kristiani datang dari kepastian bahwa Yesus ada di tengah-tengah kita.” Orang-orang yang, seperti Yesus, bisa menyambut dan merangkul kehidupan apa adanya, yang membiarkan diri mereka “menangis bersama orang-orang yang menangis” mampu “mencapai kedalaman hidup dan menjadi benar-benar bahagia.”

Adalah tugas para imam “untuk mengumumkan dan menubuatkan masa depan,” tulis Paus. Kebangkitan “bukan hanya peristiwa historis masa lalu,” melainkan, “pengumuman tentang keselamatan akan suatu waktu yang baru yang bergema dan siap terjadi hari ini.”

Imanlah yang memungkinkan kita membuat “waktu baru” dengan kreativitas evangelis. “Jika kehadiran tak berwujud mampu mengganggu dan membalikkan prioritas-prioritas serta agenda-agenda global yang tampaknya tidak bisa dihentikan,” tulis Paus, “janganlah kuatir, kehadiran Yang Bangkitlah yang menemukan jalan kita, yang membuka cakrawala dan memberi kita keberanian untuk menjalani satu momen bersejarah ini.”

Paus meminta para imam untuk “sekali lagi dikejutkan oleh Yang Bangkit.” Kebangkitan Yesus, kata Paus, “adalah pewartaan bahwa segala sesuatu bisa berubah.” Dan Paus mengingatkan para imam, “Terserah kita untuk bertanggung jawab atas masa depan dan memproyeksikannya.”

Di akhir suratnya, Paus menjelaskan, dia ingin membagikan kepada saudara-saudara imamnya hal-hal yang dia pikirkan dan rasakan selama pandemi, “agar mereka bisa membantu kita memuji Tuhan dan melayani saudara-saudari kita.” Paus menulis, “Saya berharap kita semua menggunakannya ‘untuk semakin mencintai dan melayani’.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan