Screenshot tangan seorang uskup saat Dosa Rosario Laudato Si'/PEN@ Katolik/pcp
Screenshot tangan seorang uskup saat Dosa Rosario Laudato Si’/PEN@ Katolik/pcp

Oleh Wilfrid Babun

“Aku mendamba Romo yang penuh kasih – bukan yang pilih kasih.
Aku  mendamba Romo yang bajunya kadang kekecilan, kadang kegedean, itu berarti pemberian umat sebagai tanda cinta, tanda hormat.
Aku mendamba Romo yang galak, tetapi sumanak, kaku pada dogma, tetapi lucu kala canda. Yang lebih sering memegang rosario dibandingkan bb warna hijau.
Aku mendamba Romo yang lebih banyak mendengar dibandingkan berujar.
Aku mendamba Romo yang menampung air mataku – tanpa ikut menangis, yang mengubah putus asa menjadi harapan, yang mengajarkan ritual sekaligus spiritual.
Duhh, damba dan inginku banyak – banyak sekali, tapi aku percaya tetap terpenuhi karena Romoku mau dan mampu memberi – inilah damba dan doaku, Romoku.
Eeee, masih ada satu lagi!
Sekali mengenakan jubah, jangan berubah, jangan pernah mengubah, walau godaan mewabah,  bahkan sampai ada laut terbelah, kenakan terus jubahmu.
Itulah kotbah yang hidup agar aku bisa menjamah seperti perempuan Samaria pada Yesus Tuhanku.
Aku mendamba Romo yang menatapku kalem bersuara adem

Almarhum Arswendo punya pemahaman unik tentang puisi. Dia mengatakan bahwa puisi itu hanya cocok untuk orang yang sedang jatuh cinta. ‘Suasana puisi mirip suasana jatuh cinta, banyak lamunan, banyak harapan, banyak kemesraan sekaligus juga gregetan karena selalu ada kerinduan tertahan, meskipun sebagian sudah kesampaian’. (Arswendo, Sebutir Mangga di Halaman Gereja, hlm.7). Almarhum Wendo dalam atmosfer ‘jatuh cinta?’ Per definisinya, bisa bilang, iya. Beliau jatuh cinta dengan tokoh yang disebutnya: Romo. Katanya, beliau pernah punya cita-cita ingin menjadi seorang pastor.

Seorang Romo, mestinya sungguh sadar bahwa dia juga manusia ‘yang belum selesai’ (man in the making). Belum di finish. Karena, dia harus terus berpastoral, ‘dari desa ke desa’. Tiap hari. Kabar gembira, syalom, kebaikan, cinta kasih adalah konten. Inti ini yang mesti disampaikannya secara kontinue. Tentu dalam konteksnya masing-masing.  Kalau pun ada jeda, itulah momen untuk proses kontekstualisasi, mengevaluasi dan mengisi energi dari sumber konten itu sendiri . Satu stepping stone,  move on bergerak lagi dalam satu sirklus pastoral yang tidak final. Ada proses penyempurnaan diri. Dan transformasi personal diracik satu dalam aksi sosial yang nyata. Spiritualitas on going formation itu satu kemestian. Pastor sebagai talking theologian dan walking theologian dipadukan dalam dialektika pastoral dalam dan bersama umat. Pastor dan fokus aktivitas pastoralnya dari umat, untuk umat dan bersama umat. Pastor bukan prestise! Kualitasnya teruji oleh faktor keumatan dan relasi intimitas personalnya dengan Tuhan. Dia tidak terjebak dalam rutinitas. Saya kira, pastor yang bersikap omni potent juga sudah out of date. Tetapi pastor yang ‘sering memegang rosario adalah keharusan. Dan, ‘bb warna hijau..’, satu warning!(PEN@ Katolik)

Tinggalkan Pesan