Dalam keadaan serba tidak pasti ini, Paus Fransiskus pun berdoa di depan Bunda Maria dari Maggiore yang ditempatkan di depan Basilika Santo Petrus saat Ibadah dan Adorasi serta Berkat Urbi et orbi 27 Maret 2020 (Foto Vatican Media)
Dalam keadaan serba tidak pasti ini, Paus Fransiskus pun berdoa di depan Bunda Maria dari Maggiore yang ditempatkan di depan Basilika Santo Petrus saat Ibadah dan Adorasi serta Berkat Urbi et orbi 27 Maret 2020 (Foto Vatican Media)

“Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, berikanlah aku sukacita karena keselamatan-Mu” (Mazmur 51:12a.14a)

Memang berat perjuangan untuk mengerti kehendak Allah, apalagi kita yang menjalankan langkah kehidupan yang penuh tantangan. Belakangan ini seakan-akan emosi kita dibuat seperti rollercoaster. Saya teringat masa kecil waktu di Dufan, Ancol, Jakarta. Dari atas bisa ke bawah, dari bawah ke atas kita dibawa, turun dan naik, putar ke kiri dan ke kanan, membuat diri kita lemah dan kehilangan arah. Apa yang harus kita lakukan, ya Tuhan?

Kita penuh semangat mendoakan teman-teman dan keluarga dari anggota kita yang sakit. Tiba-tiba datang berita yang belum ada konfirmasinya. Kita pun terkejut. Sakit ini, begini dan begitu, apalagi dalam situasi sekarang ini. Apa yang harus kita lakukan?

Tuhan bersabda, “Kalian yang haus, datanglah ke sumber air, dan kalian yang tak mampu membayar, mari datanglah dan minumlah dengan gembira.”

Kita diajak datang kepada Tuhan. Kita diberikan ketenangan, ketabahan, kesabaran dalam menjalani peristiwa yang satu ke peristiwa lain bersama-Nya. Ketabahan adalah kekuatan dan keberanian yang memungkinkan kita menanggung segala kesulitan, dan percaya diri dalam kasih Allah bagi kita. Ini adalah kemampuan yang terus-menerus harus kita upayakan dalam melakukan suatu yang baik, serta percaya kepada kehendak Tuhan bahwa Ia akan membuat semuanya  baik dan benar tepat pada waktunya.

Teladan terbaik dalam menjalani kehidupan yang tabah tidak lain kecuali Bunda Maria yang mendoakan dan selalu menemani kita. Dalam pandemi Covid-19 saat ini, saat banyak orang setiap hari terinfeksi oleh virus yang kita tidak mengerti siapa dan dari mana, kita yang tadinya berkumpul dan berdua membawa sukacita dan kedamaian, sekarang diminta untuk social distancing atau menjaga jarak satu sama lain. Lebih lagi, kita harus rayakan perayaan Ekaristi dan Rosario lewat live streaming. Dalam suasana ini, ketaatan dan iman Bunda Maria yang tak tergoyahkan pada kehendak Tuhan jadi panutan kita untuk bertahan dalam melakukan yang baik dan menahan godaan untuk menjadi egois, mementingkan diri kita sendiri.

Ketika kita ketakutan dan terus bertanya, kita kehilangan arah dan iman kita lemah. Ketika kita mengabaikan kebersihan pribadi, mengabaikan pedoman social distancing, melanggar pemberitahuan untuk tinggal di rumah, dan terus melanjutkan perjalanan yang tidak penting, kita juga menempatkan orang lain dalam risiko. Dengan melakukan itu, kita gagal dalam panggilan Kristen kita untuk mencintai dengan penuh ketabahan.

Iman dan ketabahan Bunda Maria memungkinkannya untuk mengatakan “Ya” dalam melakukan kehendak Tuhan di tengah-tengah ketidakpastian, ketakutan, dan keraguan. Demikian pula, dalam krisis sekarang ini, kita harus berbalik kepada Allah dalam iman, seperti yang dilakukan Maria, untuk memberi kita ketabahan dalam melaksanakan kehendak-Nya dalam hidup kita.

Setiap saat, tetapi terutama di masa Prapaskah, memuncak dengan salib-Nya. Yesus selalu berusaha melakukan kehendak Bapa Surgawi. Mari kita bersama Bunda kita, Bunda Maria, yang menemani kita selalu, melaksanakan kehendak putra-Nya dengan ketabahan yang lebih besar.

Tuhan, Engkaulah benteng yang kami imani. Kuatkanlah semangat kami dengan karunia ketabahan sehingga kami dapat menjalani masa yang sulit ini dengan penuh ketangguhan yang tenang, dan selalu berusaha melakukan apa yang menyenangkan bagi-Mu.

Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Aku dibaringkan-Nya di padang rumput yang hijau, dan diantar ke sumber yang segar.(aop)

Tinggalkan Pesan