Shahbaz Bhatti
Shahbaz Bhatti

“Shahbaz Bhatti orang beriman dan pemimpin yang tak kenal takut.” Demikian Pastor Emmanuel Parvez di Keuskupan Faisalabad, Paskitan, mengenang menteri beragama Katolik pada peringatan sembilan tahun pembunuhannya. Menteri untuk Kaum Minoritas Pakistan itu dibunuh di Islamabad, 2 Maret 2011.

“Dia menerima ancaman mati dan kepada orang-orang yang menyarankannya untuk pindah, dia berkata: ‘Saya adalah murid Kristus, saya tidak akan pernah meninggalkan negaraku dan rakyatku,’” kata Pastor Parvez pada peringatan 1 Maret 2020 untuk mengenang sembilan tahun kematian Bhatti di tangan seorang teroris Islam.

Bhatti “selalu aktif mengupayakan terciptanya kesadaran di antara kaum miskin dan tidak bersuara, dengan mendukung mereka dan membela perjuangan mereka di hadapan penguasa,” kata imam itu. “Kapan pun dan di mana pun terjadi ketidakadilan, ia berusaha menjadikan dirinya juru bicara orang yang menderita dan orang yang dianiaya,” lanjut Pastor Parvez imam yang merupakan kerabat Bhatti dan berasal dari desa yang sama, Khuspur.

Wakil-wakil “Aliansi Minoritas Seluruh Pakistan” dan LSM “Misi Shahbaz,” yang diprakarsai Paul Bhatti, saudara laki-laki menteri itu, hadir juga dalam perayaan peringatan itu.

Pastor Parvez juga mengingat bagaimana Bhatti mengkritik undang-undang penistaan agama Pakistan yang kontroversial dan bagaimana vokalnya dia membela perempuan Katolik, Asia Bibi, yang menerima tuduhan palsu melakukan penistaan ​​agama tahun 2009 dan dijatuhi hukuman mati tahun 2010.

Hal itu menyebabkan pembunuhan dirinya sendiri. Tanggal 2 Maret 2011, ketika Bhatti sedang dalam perjalanan untuk kerja, setelah mengunjungi ibunya, seorang pria bersenjata tak dikenal memberondong mobilnya dengan peluru. Sebelumnya, 4 Januari 2011, mantan gubernur Punjab, Salman Taseer, juga ditembak mati karena alasan yang sama oleh pengawalnya sendiri.

Mahkamah Agung Pakistan membebaskan Asia Bibi, 31 Oktober 2018. Dia dan keluarganya diberikan suaka di Kanada. Menurut Pastor Parvez, “pembebasan Asia Bibi adalah tanda harapan karena itulah  kemenangan kebenaran dan keadilan.” Menurut imam itu, pengorbanan dan komitmen Shahbaz tidaklah sia-sia. Imam itu pun berharap Pakistan tidak menyerah pada ekstremisme dan terorisme, dan agar kesadaran tentang penyalahgunaan undang-undang penistaan ​​agama akan tumbuh di seluruh negara dan tidak membuat orang yang tidak bersalah menderita.

Menurut Paul Bhatti, saudaranya “adalah patriot otentik, putra sejati Pakistan.” Kenangan akan dirinya menghormati negeri kita. “Alasannya: dia memberikan hidupnya untuk mempromosikan Pakistan, tempat hukum, keadilan, kebebasan dan kesetaraan merupakan prinsip yang harus dihormati dan dijalani,” kata Paul kepada kantor berita Fides Vatikan.

Peringatan direncanakan berlangsung 3 Maret 2020 di desa Khuspur untuk mengenang warisan spiritual dan kemanusiaannya. Lebih dari 2.000 orang diperkirakan berkumpul di rumah Bhatti yang kini berisi museum. Direncanakan akan dibangun monumen peringatan di tempat itu untuk menghormatinya.

Pastor Parvez mengatakan mereka akan mengenang hidup dan karyanya. “Dia seorang malaikat untuk Pakistan, karunia Allah bagi bangsa.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

Artikel Terkait:

Asia Bibi 10 tahun ditahan karena penistaan agama setiap saat saya simpan Allah di hati

Tinggalkan Pesan