Paus Fransiskus hari Senin 25 November 2019 bertemu para korban gempa bumi, tsunami, dan kecelakaan nuklir yang melanda kota Fukushima, Jepang, tahun 2011, mendengarkan sharing mereka di Tokyo, dan berterima kasih kepada mereka yang dengan murah hati mendukung para korban, baik dengan doa maupun bantuan materi dan keuangan.

“Kita seharusnya tidak membiarkan aksi ini hilang dengan berlalunya waktu atau menghilang setelah guncangan awal,” kata Paus, “melainkan, kita harus melanjutkan dan mempertahankannya.” Paus memohon kepada “semua orang yang memiliki niat baik agar para korban tragedi ini terus menerima bantuan yang sangat dibutuhkan.”

Menurut Paus, sangat diperlukan kebutuhan paling dasar, termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal, dan perlu adanya solidaritas dan dukungan umat. “Tidak ada yang sendiri ‘membangun kembali’; tidak ada yang bisa memulai sendiri,” tegas Paus.

Paus memuji Jepang yang menunjukkan “cara sebuah bangsa bisa bersatu dalam solidaritas, kesabaran, ketekunan, dan ketahanan,” dan mengajak semua yang mendengarnya “untuk bergerak maju setiap hari, sedikit demi sedikit, guna membangun masa depan berdasarkan solidaritas dan komitmen satu sama lain.”

Paus berbicara setelah mendengar kesaksian orang-orang yang selamat dari bencana-bencana itu seraya berterima kasih kepada mereka karena mengungkapkan “kesedihan dan penderitaan mereka,” tetapi juga “harapan mereka untuk masa depan lebih baik.”

Namun di awal pembicaraan, Paus meminta hening sejenak, “agar kata pertama kita menjadi salah satu doa” bagi mereka yang meninggal, keluarga mereka, dan mereka yang masih hilang. “Semoga doa ini menyatukan kita dan memberi kita keberanian untuk menatap ke depan dengan pengharapan.”

Dalam kesaksian, guru taman kanak-kanak Toshito Kato, yang kotanya tersapu oleh tsunami, mengatakan, meskipun dilanda bencana, “Saya menerima lebih banyak daripada yang hilang”. Dia berbicara tentang “pentingnya mengajar anak-anak betapa berharganya kehidupan itu.”

Tokuun Tanaka, pendeta Budha yang kuilnya tidak jauh dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima, bertanya bagaimana bisa menanggapi bencana alam. “Perlu refleksi yang benar ​​dan rendah hati, pemahaman mendalam, dan keputusan tentang apa yang harus dilakukan,” katanya seraya menegaskan, “Yang paling penting adalah mendengar suara bumi.”

Matsuki Kamoshita berusia delapan tahun saat ia dan keluarganya dievakuasi ke Tokyo menyusul kecelakaan nuklir di Fukushima. Dia mengatakan, orang dewasa harus mengatakan yang sebenarnya tentang dampak kontaminasi radioaktif.

Dia meminta Paus untuk ikut berdoa, “sehingga kita bisa saling menghargai rasa sakit dan mencintai sesama.” Dan dia meminta, “Tolong berdoalah bersama kami agar orang-orang seluruh dunia berupaya menghilangkan ancaman paparan radiasi dari masa depan kita.”

Menjawab pertanyaan dari Tokuun tentang cara menanggapi masalah-masalah besar seperti perang, pengungsi, makanan, kesenjangan ekonomi, dan tantangan lingkungan, Paus mengatakan kita tidak bisa menghadapi masalah itu secara terpisah.

Kita harus tahu bahwa tantangan ini saling terkait. Tapi, kata Paus, “yang paling penting … adalah terus membangun budaya yang mampu memberantas ketidakpedulian.” Paus berkata, “Kita perlu bekerja bersama menumbuhkan kesadaran bahwa jika salah satu anggota keluarga menderita, kita semua menderita. Keterkaitan nyata tidak akan terjadi kecuali kalau kita pupuk kearifan kebersamaan.”

Bercermin pada kecelakaan di pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Paus mengatakan, selain masalah ilmiah dan medis, “ada juga tantangan besar untuk memulihkan struktur masyarakat.” Hal ini, kata Paus, mengangkat masalah kekhawatiran tentang kelanjutan penggunaan tenaga nuklir; dan Paus mencatat, para Uskup Jepang menyerukan penghapusan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Di saat kita “tergoda membuat kemajuan teknologi sebagai ukuran kemajuan manusia,” kata Paus, pentinglah untuk berhenti sejenak dan merenungkan “siapakah kita … dan kita inginkan menjadi siapa.”

Ketika berpikir tentang “masa depan rumah kita bersama,” kata Paus, “kita perlu menyadari bahwa kita tidak bisa membuat keputusan egois semata, dan kita bertanggung jawab besar terhadap keputusan di masa depan.” Kesaksian masing-masing korban, kata Paus, mengingatkan kita tentang perlunya menemukan jalan baru untuk masa depan, jalan yang berakar pada saling menghormati dan menghormati dunia alam.”

Mengakhiri pidatonya, Paus mengatakan, “dalam pekerjaan pemulihan dan pembangunan kembali yang sedang berlangsung setelah tiga bencana itu, banyak tangan harus ikut dan banyak hati harus bersatu”sehingga para korban bencana boleh didukung dan tahu mereka tidak dilupakan.”

Paus sekali lagi berterima kasih sekali bagi semua yang “telah berusaha meringankan beban para korban,” dan berharap agar “belas kasih boleh menjadi jalan yang memungkinkan semua orang menemukan harapan, stabilitas, dan keamanan bagi masa depan.” Dan Paus berdoa, “Semoga Allah mengaruniakan kepada kalian semua, dan kepada orang-orang kalian kasihi, berkat kebijakan, kekuatan dan perdamaian-Nya.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Christopher Wells/Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus dalam Misa di Nagasaki: Marilah berdoa bagi semua yang menanggung dosa ini

Paus di Jepang: Kesaksian para martir Katolik membenarkan bahwa kita beriman

Paus di Taman Perdamaian Nagasaki kita tidak bisa mengulangi kesalahan masa lalu

Pemerintah Jepang mengakui Paus sebagai Kaisar Pengajaran

Paus kirim pesan video ke Thailand dan Jepang sebelum kunjungannya

Fukushima 3Le Pape saluant des victimes du Triple désastre de 2011, le 25 novembre 2019 à Tokyo. (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan