PEN@ Katolik/pcp Tangkapan Layar
PEN@ Katolik/pcp Tangkapan Layar

Paus Fransiskus mengakui, “di dunia yang terlalu sering mengalami perselisihan, perpecahan, dan pengucilan ini,” Thailand telah menunjukkan komitmen untuk bekerja keras “untuk meningkatkan kerukunan dan hidup berdampingan secara damai.”

Komitmen itu, kata Paus, “bisa berfungsi sebagai inspirasi” bagi semua orang di seluruh dunia yang berupaya “meningkatkan pengembangan besar dan sejati keluarga manusia kita dalam solidaritas, dalam keadilan dan dalam hidup dalam damai.”

Kata-kata Paus itu terdengar dalam pesan video yang dikirim 15 November 2019 kepada orang-orang Thailand. Negara itu bersiap menyambut Paus yang bepergian ke sana dalam Perjalanan Apostolik ke-32, sebelum ke Jepang. Paus akan berada di Thailand 20-23 November.

Dalam perjalanannya, lanjut Paus, dia akan berkesempatan bertemu dan “menyemangati iman umat Katolik Thailand dan kontribusi mereka bagi seluruh masyarakat.” Paus pun berharap “memperkuat ikatan persahabatan dengan banyak saudara dan saudari Budha.” Sebagian besar atau 93 persen penduduk Thailand beragama Budha.

“Saya percaya, kunjungan saya akan membantu menekankan pentingnya dialog antaragama, saling pengertian, dan kerja sama persaudaraan,” kata Paus. Terutama, lanjut Paus, dalam melayani mereka yang paling membutuhkan, dan “dalam melayani perdamaian.” Saat ini, lanjut Paus, “kita perlu bekerja keras untuk perdamaian.”

Akhirnya, Paus berterima kasih “dengan tulus” kepada orang-orang Thailand atas semua persiapan yang dilakukan dalam kunjungannya, dan memastikan bahwa “di hari-hari ini” dia berdoa untuk semua orang di Thailand.

Ketika berbicara kepada orang-orang Jepang dengan “kata-kata penuh persahabatan,” Paus mengingat tema kunjungannya ke negara itu 23-26 November adalah “Lindungi Semua Kehidupan.” Dalam pesan video yang dikirim 18 November, Paus mengatakan naluri protektif beresonansi dalam hati kita dan sangat penting mengingat ancaman saat ini terhadap hidup bersama secara damai, terutama yang ditimbulkan oleh konflik bersenjata.

“Negara kalian sangat sadar akan penderitaan yang disebabkan oleh perang. Bersama kalian, saya berdoa agar kekuatan senjata nuklir yang menghancurkan tidak akan pernah dilancarkan lagi dalam sejarah manusia.” Dan untuk memperjelas maksudnya, Paus mengatakan, “Penggunaan senjata nuklir tidak bermoral.”

Paus mengatakan orang-orang Jepang tahu nilai dialog di antara tradisi-tradisi keagamaan, yang kata Paus bisa “membantu mengatasi perpecahan, meningkatkan rasa hormat terhadap martabat manusia, dan memajukan pengembangan integral semua bangsa.”

Paus kemudian merefleksikan kekuatan perdamaian yang sejati. “Perdamaian itu indah. Dan ketika perdamaian itu nyata, ia tidak mundur: ia mempertahankan diri dengan setiap ons kekuatan.”

Paus lalu mengatakan bahwa Jepang diberkati dengan “keindahan alam yang besar.” Salah satu elemen alam yang memiliki arti khusus dalam budaya Jepang, kata Paus, adalah bunga sakura, yang melambangkan keindahan hidup tetapi juga kerapuhannya.

Akhirnya, Paus berterima kasih kepada semua orang yang mempersiapkan kedatangannya, dan meyakinkan setiap orang akan “doanya yang tulus untuk kalian semua.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News/Francesca Merlo dan Devin Watkins)

Tinggalkan Pesan