Alex Tilaar

Mengutip pesan Paus Fransiskus saat mengangkat pasangan suami istri sebagai orang kudus, Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan, lelaki atau perempuan yang menjadi orang kudus itu banyak, tapi pasangan yang diangkat menjadi orang kudus itu jarang.

“Kalau saya bertemu Bapak Alex, dia selalu bersama ibu Martha. Ini tanda bahwa mereka selalu berusaha bersama menjalani kehidupan dan karya sebagai satu keluarga. Keluarga menjadi jalan panggilan,” kata Uskup Agung Jakarta itu dalam Misa Malam Kembang dan Tutup Peti jenazah Henry Alexis Rudolf Tilaar (Alex Tilaar), pemilik perusahaan Martha Tilaar sekaligus suami dari Martha Tilaar.

Misa konselebrasi bersama Vikjen KAJ Pastor Samuel Pangestu Pr, Vikep KAJ Pastor Edi Mulyono SJ, dan Pastor Mangkey MSC dari Provinsialat MSC di Jakarta itu dihadiri banyak umat termasuk anggota Komunitas Kawanua Katolik dan Kerukunan Keluarga Kawanua, mantan gubernur Sarundayang, dan Uskup emeritus Manado Mgr Josef Suwatan MSC.

Seusai Misa, warga Kawanua menyanyikan “Opo Wananatas” dan “Mangemo Sako Mangemo,” lagu-lagu penghiburan dari Minahasa tempat asal Alex Tilaar. Anak-anak penerima program beasiswa ASAK (ayo sekolah dan ayo kuliah) dari Paroki Tebet juga menampilkan beberapa lagu.

Dalam homili Misa bertema “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:2), Kardinal Suharyo berbicara tentang menyelesaikan tugas di dunia seperti dalam surat Paulus kepada Timotius itu dan pemberitaan Yohanes dalam Injilnya bahwa sesudah meminum anggur asam di katu salib Yesus mengatakan, “Sudah selesai.”

Apa yang selesai? tanya kardinal. “Selesai melaksanakan kehendak Bapa, yakni menjalani kekudusan nan sempurna. Mengabdi sesama dan Tuhan. Mengabdi keluarga, negara, bangsa dan Gereja. Sebagai tokoh pendidikan, Alex Tilaar sudah menulis banyak buku, mengajar sebagai dosen, dan aktif dalam pelbagai kegiatan,” kata Kardinal Suharyo.

Kardinal juga menceritakan bagaimana mencapai kekudusan, seperti dikatakan Paus, yakni dengan melakukan langkah-langkah yang sangat kecil dan sederhana, misalnya saat bertemu orang kecil dan menderita, lalu tersenyum untuk membantu.

“Saya membayangkan ada ribuan langkah yang sudah dijalani bapak bersama ibu Tilaar ini sejak mereka memutuskan hidup berkeluarga. Saat merintis usaha kecantikan, sudah pasti yang dibayangkan adalah bagaimana mengangkat martabat manusia, bukan sekedar fisiknya saja,” kata kardinal.

Yang dikatakan kardinal dibenarkan oleh kesaksian anak dan cucu yang mengutip apa yang dikatakan almarhum yakni, “Lakukanlah pekerjaan dan kegiatan apapun dengan sepenuh hati” serta “Bila kau marah terhadap seseorang, hendaklah itu selesai sebelum matahari terbenam,” dan “Kasihilah seisi keluargamu, bukan hanya istri anak, tapi juga semua pembantu rumah tangga.”

Alex Tilaar meninggal dunia 30 Oktober 2019, pukul 10.48, dalam usia 87 tahun, dan disemayamkan di Rumah Duka Sentosa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Selain Misa Requiem 1 November, sudah dirayakan Misa Requiem 30 Oktober dipimpin Pastor Yohanes Subagyo Pr bersama Pastor Robertus Belarminus OFMCap, 31 Oktober oleh Pastor Andang Binawan SJ dan Pastor Robert Rimmin SJ. Setelah Misa Pelepasan 2 November yang dipimpin Pastor Yance Mangkey MSC dan Pastor Damian Doraman OFMCap, jenazah diberangkatkan dan dikebumikan di Pemakaman San Diego Hills, Karawang.

Alex Tilaar, pria kelahiran Tataraan, Sulawesi Utara, 16 Juni 1932, meninggal dunia 30 Oktober 2019 dalam usia 87 tahun. Anak ketiga dai keturunan guru yang menjadi tokoh pendidikan Indonesia itu mulai belajar di louwerierschool (sekolah dasar) di masa kolonial Belanda tahun 1946, kemudian normaalschool (sekolah menengah) di Tomohon dan kweekschool (pendidikan guru) juga di Tomohon.

Menurut Kompas.com, sarjana pendidikan Universitas Indonesia tahun 1961 itu kemudian belajar di University of Chicago melalui jalur beasiswa dari USAID dan memperoleh gelar Master of Science Pendidikan dari Universitas Indiana, Bloomington, AS, 1967 dan Doctor Pendidikan di universitas yang sama (1969). Berbagai program paska sarjana diikutinya di Universitas Wisconsin (1965), Universitas Missouri (1966), Universitas Negeri Michigan (1969), Universitas Sussex, dan Institut of Development Studies (1972).

Alex Tilaar menjadi guru besar pada Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Kristen Indonesia Jakarta (1952-2019), Dekan Fakultas Pasca Sarjana IKIP Universitas Negeri Jakarta (1976-1980), dan guru besar emeritus Program Pascasarjana dan Direktur Utama Lembaga Manajemen Universitas Negeri Jakarta.

Selain pendidikan, Alex Tilaar pernah menjadi staf ahli Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) tahun 1970-1974 dan Kepala Biro Pendidikan dan Kebudayaan dari BAPPENAS (1984-1991), Asisten Menteri Negara Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dari Bappenas (1986-1993). Atas jasa-jasa itu, tahun 1988 Alex Tilaar dianugerahi Bintang Jasa Utama Republik Indonesia.

Konsultan UNDP untuk program Indonesia (1994), Bank Dunia (1996), dan konsultan Asian Development Bank (1995/1997) itu juga menjadi anggota Dewan Penyantun ASMI Jakarta (1995-2000), Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik Atmajaya Jakarta (1996-1999) dan menerima berbagai penghargaan atas gagasan pemikirannya dalam mengembangkan dunia pendidikan seperti tertulis dalam ratusan artikel dan puluhan buku yang ditulisnya.

11 September 2009, Alex Tilaar mendapat penghargaan Distinguished Alumni Award dari Fakultas Pendidikan Universitas Indiana. Dialah warga Indonesia pertama yang menerima penghargaan itu. 5 Juli 2010, Alex Tilaar dinobatkan sebagai 100 tokoh pendidikan dunia atau Top 100 Educator 2010 dari Cambridge England bidang Philosophy and Management of Education. Bahkan dia diminta memberikan seminar di Harvard University (2003).

Penyelenggara seminar yang mengerik Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional itu juga mendapatkan Ceritificate of Ceremony, World Record for Achievement in Pedagogy tahun 2007. Biografinya pun tercantum dalam Ensiklopedia Pendidikan (2001), Who’s Who in The World, Millenium Edition 2000, American Bioghrapical Institute, 1000 Great Asean, dan International Bioghraphical Center, England, 2003.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Suasana Misa dipimpin oleh Kardinal Suharyo
Suasana Misa dipimpin oleh Kardinal Suharyo
Suasana Misa dipimpin oleh Kardinal Suharyo
Suasana Misa dipimpin oleh Kardinal Suharyo
Warga Kawanua membawakan lagu penghiburan
Warga Kawanua membawakan lagu penghiburan

Alex Tilaar, Keluarga anak dan cucu

Tinggalkan Pesan