Paus Fransiskus memasangkan 'topi merah' di kepala Ignatius Kardinal Suharyo (Tangkapan Layar PEN@ Katolik)
Paus Fransiskus memasangkan ‘topi merah’ di kepala Ignatius Kardinal Suharyo (Tangkapan Layar PEN@ Katolik)

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo kini menjadi Ignatius Kardinal Suharyo. Ketua Konferensi Waligereja Indonesia itu “diciptakan” sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus dalam “konsistori” 5 Oktober 2019 bersama 12 orang lain yang diumumkan Paus tanggal 1 September 2019.

Konsistori diawali sambutan, yang juga janji untuk bekerja sama dan membantu misi Paus, yang dibawakan, mewakili semua calon kardinal, oleh yang juga calon kardinal yang juga Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Mgr Miguel Angel Ayuso Guixot, kemudian doa pembukaan oleh Paus, yang dilanjutkan dengan Bacaan Injil oleh seorang awam dan homili oleh Paus.

Doa Paus mengawali ritus “penciptaan” kardinal baru. Kemudian Paus menyebut nama-nama yang akan bergabung dalam Kolese Kardinal itu, Para calon kardinal itu berdiri saat dipanggil kemudian bersama-sama mengucapkan Aku Percaya serta sumpah dan janji kesetiaan, semuanya dalam Bahasa Latin.

Dalam konsistori, yang disiarkan secara langsung oleh Vatican News, para calon kardinal mengucapkan janji di depan Santo Petrus, dan satu persatu berlutut di depan Paus Fransiskus yang memasangkan cincin dan topi merah kepada kardinal-kardinal baru. Sesudah “penciptaan” kardinal itu, para kardinal baru melakukan salam damai sambil berpelukan dengan Paus, kemudian turun dan menyalami teman-teman kardinal lainnya, kemudian dinyanyikan doa Bapa Kami. Paus menutup konsistori itu dengan Doa Penutup dan berkat. Paus pun berdoa di depa Patung Maria sambil terdengar lagu Salve Regina, kemudian meninggalkan basilika itu.

Kardinal-kardinal baru itu berasal dari Amerika Utara, Amerika Tengah, Afrika, Eropa dan Asia (dari Indonesia), Maroko, Kuba, Guatemala, Angola, dan Luksemburg. Delapan di antara 13 kardinal baru itu adalah anggota ordo religius, sedangkan lima lainnya adalah imam keuskupan, termasuk Kardinal Suharyo.

Di antara para kardinal itu ada Pastor Michael Czerny SJ, Wakil Sekretaris Bagian Migran dan Pengungsi dalam Dikasteri Peningkatan Pembangunan Manusia Integral, Uskup Agung Michael Fitzgerald sebagai mantan Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan seorang ahli hubungan Kristen-Muslim.

Sebelum konsistori itu jumlah anggota Kolese Kardinal 212 orang, 118 di antaranya adalah pemilih, dan dari 13 kardinal baru, 10 berusia di bawah 80 tahun, termasuk Mgr Suharyo yang berarti memenuhi syarat untuk memilih dalam konklaf yang akan memilih Paus berikutnya. Mgr Suharyo lahir di Yogyakarta 9 Juli 1950 atau masih berusia 69 tahun.

Konsistori yang berasal dari Bahasa Latin berarti “tempat berkumpul” dan kata kerjanya “konsistere” yang secara harfiah berarti “berdiri bersama.” Sedangkan topi kardinal yang berwarna merah adalah simbol darah yang harus siap dicurahkan oleh Kardinal, jika dipanggil untuk “menyerahkan nyawanya untuk domba-dombanya.”

Dalam Konsistori Publik Biasa sekitar 75 menit itu, Paus merenungkan tentang pentingnya belas kasih Tuhan. Belas kasih menjadi kata kunci homili Paus dalam konsistori di hadapan Kolese Kardinal dan wakil-wakil dari lima benua. Menurut Paus, “Belas Kasih adalah kata kunci dalam Injil, yang selamanya tertulis dalam hati Allah.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Paus umumkan penciptaan 13 kardinal baru, antara lain, Mgr Ignatius Surharyo

Paus Fransiskus dan Ignatius Kardinal Suharyo berangkulan (Tangkapan Layar PEN@ Katolik)
Paus Fransiskus dan Ignatius Kardinal Suharyo berangkulan (Tangkapan Layar PEN@ Katolik)
Mgr Ignatius Suharyo bersiap untuk naik ke altar untuk menjadi kardinal (Tangkapan Layar)
Mgr Ignatius Suharyo bersiap untuk naik ke altar untuk menjadi kardinal (Tangkapan Layar)
Suasana Konsistori Umum Biasa saat Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal (Vatican Media)
Suasana Konsistori Umum Biasa saat Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan