Iman Katolik

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu ke-27 dalam Waktu Biasa [C], 6 Oktober 2019: Lukas 17: 5-10)

Jika ada satu kekuatan paling dahsyat di alam semesta, ini adalah iman. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman sekecil biji sesawi dapat melakukan hal yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa dengan iman yang kecil ini, kita dapat memerintahkan pohon ara dicabut dan ditanam di laut. Salah satu hal terkecil di bumi dapat menggerakkan realitas paling besar di dunia. Pohon ara memiliki akar yang dalam, kuat dan menyebar. Tidak mungkin mencabutnya ketika sudah dewasa. Namun, Yesus bahkan mengatakan bahwa kita tidak hanya mampu mencabutnya tetapi juga menanam kembali ini di dasar samudera. Itu membuatnya mustahilnya doble! Inilah hebatnya iman yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah apakah Yesus hanya melebih-lebihkan kekuatan iman, atau Ia sedang mengungkap kebenaran iman yang paling dalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu apa itu iman? Tentunya ada beberapa definisi iman. Dalam arti yang lebih luas, iman adalah kepercayaan pada yang ilahi, sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita. Dalam banyak tradisi keagamaan, yang ilahi ini adalah pribadi yang disebut Tuhan. Iman ini membuat kita berbeda dengan mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ateis. Dalam arti yang lebih sempit, ini merujuk pada kepercayaan pada serangkaian ajaran tertentu tentang yang ilahi. Dalam pengertian ini, iman Katolik berbeda dari iman Lutheran Protestan.

Thomas Aquinas mengingatkan kita bahwa iman pada dasarnya adalah persetujuan dari akal budi dan kehendak. Inilah kenapa iman menjadi luar biasa kuat. Iman tidak bergantung pada kepemilikan duniawi, atau sifat biologis kita, atau emosi kita. Jika kita mendasarkan iman kita pada suasana hati, setiap saat kita merasa tidak bahagia atau tertekan, kita mungkin kehilangan iman kita. Bunda Teresa dari Kalkutta pernah menulis dalam buku hariannya bahwa dia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya selama hampir sepuluh tahun. Jika dia hanya bergantung pada emosinya, dia akan kehilangan imannya. Jika kita menempatkan iman kita pada kesejahteraan tubuh kita, saat kita sakit, atau tubuh kita melemah, kita mungkin kehilangan iman. Padre Pio dari Pietrelcina menerima karisma stigmata dan harus menanggung rasa sakit yang luar biasa, penyaliban selama lebih dari 50 tahun. Jika dia mengandalkan tubuhnya, dia akan kehilangan imannya juga.

Persetujuan akal budi inilah yang membuat iman sangat kuat. Ketika saya ditahbiskan menjadi imam, bagian yang terpenting dari upacara ini adalah penumpangan tangan uskup di atas kepala saya. Namun, saya mengakui bahwa saya tidak merasakan apa pun kecuali sedikit tekanan di kepala saya. Apakah itu berarti tahbisan saya tidak valid? Syukurnya, validitas penahbisan saya tidak didasarkan pada perasaan saya! Ini adalah iman, iman saya, iman uskup saya, iman umat, iman Gereja. Imanlah yang memungkinkan rahmat Allah yang tak terlihat dan tak terasa mengubah jiwa saya menjadi seperti jiwa Yesus, sang imam.

Iman Katolik kita memang benih sesawi yang menggerakkan gunung. Iman inilah yang membuka pikiran kita untuk melihat Tubuh Kristus dalam roti kecil putih tak berasa. Iman inilah yang mendorong kita untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan seorang imam. Iman inilah yang memberdayakan banyak orang beriman untuk bertahan dalam penganiayaan dan siap memberikan darah mereka bagi Yesus. Iman yang memampukan kita untuk mengorbankan hidup kita untuk orang lain dan untuk mengasihi sampai akhirnya.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Tinggalkan Pesan