Paus Fransiskus membuat tanda salib dalam Audiensi Umum (Vatican Media)
Paus Fransiskus membuat tanda salib dalam Audiensi Umum (Vatican Media)

Dalam katekese tentang Kisah Para Rasul dalam Audiensi Umum mingguan, 18 September 2019, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Roh Kudus memberi keberanian kepada orang Kristen dan “seni pencermatan” tatkala menghadapi kesulitan.

Menurut laporan Devin Watkins dari Vatican News, Paus memulai katekese itu dengan merenungkan keberanian yang ditunjukkan para Rasul saat mereka diseret ke hadapan Sanhedrin untuk diadili karena memberitakan Kabar Gembira tentang Yesus Kristus.

Paus mengatakan mereka berbicara dengan keyakinan dan dengan satu suara di hadapan para penuduh mereka, yang ingin memenjarakan mereka dan menghentikan penyebaran Injil. Kunci keberanian mereka, kata Paus, adalah Roh Kudus.

“Para Rasul menjadi ‘megafon’ Roh Kudus, yang diutus oleh Yang Bangkit untuk cepat dan tanpa ragu menyebarkan Firman yang membawa keselamatan,” kata Paus seraya mengatakan bahwa orang-orang itu bertindak seperti “pengecut” saat Yesus menghadapi keadaan serupa. Tapi setelah Pentakosta, mereka benar-benar diubah dan didorong maju.

“Hal sama terjadi pada kita. Kalau ada Roh Kudus dalam diri kita, kita akan berani maju, untuk memenangkan pertempuran yang tak terhitung jumlahnya, bukan dengan kekuatan kita sendiri tetapi dengan Roh Kudus yang bersama kita,” tegas Paus.

Kemudian Paus mengenang 21 orang Kristen Ortodoks Koptik, pekerja bangunan Mesir, yang menjadi martir demi iman mereka di pantai di Libya. Mereka dibunuh oleh ISIS. “Kata terakhir mereka adalah ‘Yesus, Yesus’. Mereka tidak menyangkal iman mereka, karena Roh Kudus menyertai mereka. Martir-martir modern,” kata Paus.

Paus lalu merenungkan kata-kata bijak dari ahli Taurat yang sangat dihormati, Gamaliel. Dia mendesak Sanhedrin untuk membiarkan para rasul pergi dengan mengatakan “jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap. Tapi kalau berasal dari Tuhan, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini. Mungkin ternyata juga nanti bahwa kamu melawan Allah.”

Paus menyebut sikapnya “seni pencermatan.”

“Setiap proyek manusia bisa saja disetujui dan kemudian karam,” kata Paus. “Tetapi segala sesuatu yang datang dari atas dan ‘ditandatangani” oleh Allah ditakdirkan bertahan lama.” Paus lalu mengajak semua orang untuk memikirkan banyak kerajaan, kediktatoran, dan proyek-proyek politik yang gagal sepanjang sejarah. “Semua hancur,” kata Paus.

Tetapi kekristenan, kata Paus, telah melewati ujian waktu, terlepas dari skandal dan dosa. “Tuhan beserta kita,” kata Paus. “Tuhan pertama-tama menyelamatkan kita, dan kemudian mereka. Tetapi Tuhan selalu menyelamatkan. Kekuatan kita adalah Tuhan bersama kita.” (PEN@ Katolik/pcp)

Artikel Terkait:

Katekese Kisah Para Rasul: Gereja lahir dari api cinta yang berkobar di hari Pentakosta

Katekese Kisah Para Rasul: Semoga kita jadi saksi kekuatan rekonsiliasi dengan persatuan kita

Katekese Kisah Para Rasul: Keselamatan tidak dibeli keselamatan adalah karunia

Tinggalkan Pesan