Pernikahan Adat Tombulu Tomohon (PEN@ Katolik/rp)

Tepianola koe, tepianola: u lesar pamoitan, ke’angan ne maloyanan (Bersihkanlah halaman mezbah persembahan kurban yang akan dilalui pasangan yang telah padu dalam cinta), Tepianola koe, tepianola: u meya raragesan, raragesan ne malolayanan (Bersihkanlah meja mezbah yang akan digunakan pasangan yang telah padu dalam cinta), Kume’angome e, kume’ angome: kume’ang tumarendem un taar ne maloyanan (majulah, majulah untuk mengikrarkan janji pasangan yang telah padu dalam cinta).’’

Ayat-ayat lagu terdengar dinyanyikan sambil menari oleh anak-anak muda Sanggar Ma’zani Tomohon mengawali prosesi Pernikahan Adat Tombulu antara Gratia Aray-Wailan Montong di Mini Amphitheatre Rumah Budaya Nusantara (RBN) di Tomohon, Sabtu, 24 Agustus 2019.

Perkawinan adat di rumah budaya milik Joudy Aray, musisi Gereja di Keuskupan Manado yang juga Ketua Persatuan Insan Kolintang (PINKAN) Indonesia dan ayah dari Gratia Aray itu, dilaksanakan setelah Misa Pernikahan di Gereja Santa Maria Ratu Damai Tomohon. Misa itu dipimpin Pastor Hanny Paulus Mentang Pr dengan delapan imam konselebran termasuk Kepala Paroki Santa Maria Ratu Damai Pastor Alexander Tamangendar Pr, dan Pastor Ricardo Renwarin Pr, seorang antropolog. Seluruh Misa itu, termasuk semua lagu dan tata perayaan liturgi menggunakan Bahasa (asli) Tombulu.

Kaimakawalime se maloyanan in tumarendem un taar tera wia um pamoitan saru-saruen ni Tonaas Walian (Kami menghantarkan pasangan yang telah padu dalam cinta ini untuk mengikrarkan janji setia mereka di depan mezbah korban ini, di hadapan Walian Pemimpin Ritual,” kata wakil mempelai memulai ritual. Rangkaian dialog dan doa kedua mempelai maupun pemimpin adat dan wakil pemimpin adat dilanjutkan dengan menyanyikan bagian-bagian tertentu.

PEN@ Katolik mengamati, perkawinan antara puteri sulung dari Joudy Aray dengan putera dari Richard Montong itu mencoba mereplikasi budaya dan kebiasaan leluhur Minahasa, khususnya sub etnis Tombulu dalam melaksanakan upacara pernikahan jaman dahulu ditambah racikan kolaborasi musik tradisional yang ditata oleh Joudy Aray dengan melibatkan puluhan anak muda dalam menari, bernyanyi dalam bahasa Tomuku seraya memainkan alat musik tradisional kolintang dan tetengtengan serta musik bambu klarinet. Upacara pernikahan adat itu diperkirakan sudah tidak digunakan sejak lebih 200 tahun lalu akibat terkikis budaya Eropa.

Upacara itu dibuat selengkap mungkin dalam dialog dan doa-doa yang jaman dahulu biasa dipimpin oleh imam adat Minahasa yang disebut Tonaas Walian dan dibantu asisten yang dijuluki Sumisingka. Unsur alat musik tradisional yang didukung oleh vokal paduan suara yang bergantian bermain musik, bernyanyi dan menari membuat amphitheatre itu penuh. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tomohon, ketua DPR Kota Tomohon, anggota DPR Provinsi Sulut dan beberapa pejabat dari luar Tomohon nampak hadir.

Sejarawan Minahasa, Ben Palar, yang mengerjakan keseluruhan tahapan ritual adat Minahasa itu, juga berperan sebagai Tonaas Walian, yang dibantu oleh Pastor Ricardo Renwarin yang berperan sebagai Sumisingka. Mereka didampingi oleh dua orang lainnya.

Selama prosesi, Tonaas Walian dan Sumisngka memegang Daun Tawaang sebagai lambang pencurahan kekuatan dan berkat sekaligus tanda janji setia bagi kedua mempelai. Mereka berdiri di balik meja kurban yang di atasnya ditempatkan pinang, sirih, kapur dan tembakau serta nasi yang dikukus dalam daun. Buah pinang kemudian dibelah dua oleh kedua mempelai yang menandakan cinta sejati hanya pada pasangan juga cinta pada orangtua yang telah membesarkan dan memelihara mereka hingga dewasa. Setelah pinang dibelah dua, kedua mempelai meletakkannya di atas dua buah baki dan mencampurinya dengan kapur dan sirih. Kemudian mereka menyerahkan nasi dalam bungkusan daun sebagai lambang pelayanan kepada orangtua maupun mertua.

Dengan membawa satu baki, kedua mempelai berlutut di hadapan mertua dan menyuguhkan baki. Kedua mertua menerima baki itu, meletakkan di atas meja lalu bersama-sama menumpangkan tangan di atas kepala masing-masing mempelai selama beberapa saat sementara masing-masing mempelai menyanyikan lagu Opo Wailan Wangko (Tuhan Yang Maha Besar) diiringi paduan suara.

Menjelang akhir upacara, Tonaas Walian dan Sumisingka berdoa, dalam bahasa Tombulu yang berarti “Tuhan Yang Maha Besar, penyelenggara alam semesta beserta seluruh ciptaan-Mu, tiliklah umat-Mu yang berkumpul di tempat ini, dengarkanlah doa kami untuk pengantin baru ini, turunkan rejeki, turunkan rahmat, turunkan berkat-Mu, bagaimana derasnya mata air, demikianlah deras hendaknya kasih-Mu kepada pengantin baru ini. Curahkanlah rahmat limpah kepada rumah tangga mereka selama-lamanya. Amin).

Upacara pernikahan adat ditutup dengan lagu Pakatuan Wo Pakalawiren oleh paduan suara, musik kolintang dan musik bambu dari irama lambat hingga cepat. Lagu itu bermakna ucapkan selamat kepada pengantin dan keluarga semoga mendapatkan kebahagiaan dan umur panjang.

Mewakili keluarga mempelai wanita, Perry Rumengan berterima kasih kepada semua pihak terutama penyelenggara pesta, Joudy Aray, yang menampilkan kembali ritus Minahasa dalam tata upacara pernikahan adat Tombulu ini. “Menarik disimak, para leluhur kita di Minahasa jaman dahulu kala telah melihat pernikahan sebagai sesuatu yang sangat sakral,” kata etnomusikolog yang juga mahaguru itu.

Menu di meja panjang beralaskan daun pisang lalu disantap bersama. Mahmejaan itu adalah lambang syukur dan terima kasih dari mempelai bersama anggota keluarga dan para undangan.

Sebelumnya, pada siang hari, kedua mempelai menerika Sakramen Pernikahan di Gereja Paroki Santa Maria Ratu Damai Tomohon. Mereka berdua diberkati oleh sembilan imam. Dalam tradisi Minahasa, angka 9 adalah angka keramat yang bermakna kesempurnaan.

“Ini pertama kalinya saya merayakan Misa dalam Bahasa Tombulu, apalagi saya bukan berasal dari Etnis Minahasa dan tidak bisa berbahasa Tombulu, maka pada bagian khotbah saya gunakan Bahasa Indonesia. Namun ini membuat saya takjub karena baru pertama kalinya Misa secara keseluruhan menggunakan Bahasa Tombulu, bukan Bahasa Indonesia seperti biasa,” kata Pastor Tamangendar.

Pastor Mentang mengakui, meskipun terlahir dari lingkungan berbahasa Tombulu namun beberapa aksen dan penyebutan memiliki sedikit perbedaan dengan aksen dan penyebutan orang-orang di Tomohon. “Persiapan matang dalam Misa berbahasa daerah ini mutlak diperlukan,” tegas imam itu.

Menurut Pastor Renwarin, Misa berbahasa daerah itu adalah langkah yang patut diapresiasi dalam semangat inkulturasi budaya. “Apalagi untuk yang pertama kali dibuat ini, tentunya persiapan-persiapan harus sangat matang demi kelancaran keseluruhan Misa,” kata dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, lulusan S3 di Universiteit Leiden, Belanda.

Selain berpakaian adat Minahasa dan berbahasa Tombulu, Misa Pernikahan itu diiringi tarian serta musik kolintang dengan lagu Misa (Ordinarium Missae) “Makaáruyen” ciptaan Joudy Aray yang telah diterjemahkan ke Bahasa Tombulu. Musik bambu klarinet dari Desa Koha, Kabupaten Minahasa, ikut berpartisipasi dalam Misa.

Mengaley-ngaley uman, kita peleng e, wia Si Opo Wailan e, Mengaley-ngaley uman kita peleng e. Pakatuan wo pakalawiren. Owey” (Memohon dengan cucuran air mata kepada  Tuhan yang Maha Kuasa, hanya memohon agar selalu mendapatkan keselamatan dan keberuntungan. Amin), demikian kedua pemimpin adar mengakhiri semua doa doa dalam ritual adat itu.(PEN@ Katolik/Roy Pangalila)

Suasana pernikahan adat dalam anphitheater (Foto Handry Pitoy)
Suasana pernikahan adat dalam amfiteater (Foto Handry Pitoy)
Pemberkatan oleh sembilan imam. (Foto diambil dari FB Joudy Aray
Pemberkatan oleh sembilan imam. (Foto diambil dari FB Joudy Aray
Sejarawan Minahasa, Ben Palar sebagai Tonaas Walian (PEN@ Katolik/rp
Sejarawan Minahasa, Ben Palar sebagai Tonaas Walian (PEN@ Katolik/rp
Suasana ritus perkawinan dalam gereja (PEN@ Katolik/rp)
Suasana ritus perkawinan dalam gereja (PEN@ Katolik/rp)
Foto dari FB Joudy Aray
Foto dari FB Joudy Aray
Foto dari FB Joudy Aray
Foto dari FB Joudy Aray

Tinggalkan Pesan