Paus Fransiskus tersenyum dan melambaikan tangan kepada umat beriman dalam sambutan  Angelus
Paus Fransiskus tersenyum dan melambaikan tangan kepada umat beriman dalam sambutan Angelus

Dalam Angelus Minggu, 25 Agustus 2019, Paus Fransiskus merenungkan bacaan Injil hari itu tentang pertanyaan kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Di zaman Yesus, poin ini banyak diperdebatkan. “Namun, Yesus membalikkan pertanyaan itu,” kata Paus. Bukannya membahas jumlah orang yang diselamatkan, apakah sedikit atau banyak, Tuhan “menempatkan jawaban pada bidang tanggung jawab dan mengajak kita menggunakan waktu sekarang ini dengan baik.”

Yesus memanggil semua orang “untuk masuk melalui pintu yang sesak,” dan menunjukkan bahwa masalahnya bukanlah berapa banyak, tetapi “melalui jalan yang benar, yang ada untuk semua orang.” Paus menjelaskan, “Yesus tidak ingin menipu kita” dengan janji-janji “jalan mudah dan lurus dengan ujung pintu yang lebar.” Sebaliknya, lorong sempit, dalam arti banyak persyaratan. Untuk diselamatkan, kata Paus, kita harus mencintai Tuhan dan sesama – dan ini tidak “enak.” Banyak persyaratan dan menuntut kita untuk “berjuang,” menurut Paus, berarti memiliki “kehendak yang tegas dan tekun untuk hidup sesuai Injil.”

Mengingat perumpamaan yang Yesus ceritakan dalam Injil tentang orang-orang yang ditinggalkan di luar saat tuan rumah menutup dan mengunci pintu, Paus mengatakan, Tuhan tidak akan mengenali kita karena gelar kita, tetapi semata karena “kehidupan yang rendah hati, kehidupan yang baik, kehidupan iman yang berbuah dalam perbuatan.”

Bagi orang Kristen, kata Paus, itu berarti “kita dipanggil untuk memulihkan persekutuan sejati dengan Yesus, dengan berdoa, pergi ke Gereja, dan mendekati Sakramen-Sakramen serta memupuk diri sendiri dengan Firman-Nya. Ini membuat kita bertahan dalam iman, memupuk harapan kita, menghidupkan kembali amal kasih.”

Dengan cara ini, kata Paus, “dengan rahmat Tuhan, kita bisa dan harus menghabiskan hidup kita demi kebaikan saudara-saudari kita, seraya berjuang melawan segala bentuk kejahatan dan ketidakadilan.”

Akhirnya, Paus menunjuk Perawan Maria yang Terberkati, yang telah “melewati gerbang sempit yaitu Yesus.” Oleh karena itu, kata Paus, “Mari kita memohon kepadanya sebagai Pintu Surga … pintu yang sangat sesuai dengan bentuk Yesus: pintu hati Allah, hati yang menuntut, tetapi terbuka untuk semua.” (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Christopher Wells/Vatican News)

Tinggalkan Pesan