Seorang Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti membagi komuni orang sakit (Ist)
Seorang Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti membagi komuni orang sakit (Ist)

Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti ada di Indonesia dengan misi sederhana. Rumah misi mereka menjadi juga rumah formasi bagi para calon suster yang ingin bergabung dalam kongregasi itu yaitu aspiran, postulan, novis dan yunior. Saat ini mereka baru mempunyai empat suster yunior, dua di antaranya telah memulai kuliah di STIPAS Ruteng, dan enam calon berada dalam tahap formasi awal.

Kongregasi Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti didirikan di Italia oleh Madre Guzmana Romanengo tanggal 22 November 1902 dan diterima dalam Ordo Dominikan tanggal 13 Maret 1905 oleh Master Jenderal Ordo Dominikan waktu itu Pastor Giacinto Maria Cormier OP.

Awalnya, kongregasi itu berkembang di Italia dengan kerasulan pendidikan. Tahun 1969 empat suster diutus untuk memulai misi baru di Huari-Ancash, Perù. Tahun 2002 mereka membuka misi di Republik Dominika. Dengan bantuan Suster Dominikan Pompei, mereka membuka misi di Indonesia, tepatnya di Ruteng, NTT, tahun 2008. Tiga misionaris dari Peru, yaitu Suster Magdalena Diaz OP, Suster Edis Magali Uriarte OP, dan Suster Eusebia Aguilar OP memulai misi itu. Dari rumah kontrakan di Ruteng, mereka pindah ke Santo Klaus Kuwu Ruteng dari tahun 2011 hingga sekarang.

Di Indonesia, karya pastoral mereka yang paling utama, seperti dalam penjelasan yang diberikan kepada PEN@ Katolik, adalah “mendidik para calon, katekese dengan anak-anak Sekami, orang muda dan katekese umat, membagi Komuni bagi orang sakit setiap hari Minggu, terlibat aktif dalam setiap karya pastoral paroki dan pendidikan di STIPAS serta rumah formasi antarkongregasi, serta menerima jahitan dari orang yang membutuhkan.”

Meski pelayanan itu sangat sederhana, namun “Kami senang dengan panggilan dan misi kami karena melalui pelayanan, kami bisa lebih dekat dengan orang-orang kecil dan orang-orang sederhana dan dengan demikian kami dapat melanjutkan misi Santo Dominikus yang bekerja keras mewartakan Injil dengan sukacita melalui kesaksian hidup.”

Dalam Yubileum 800 Ordo Dominikan, tulis mereka, “kami merasa perlu memperbaharui semangat pewartaan Santo Dominikus, agar kita bisa menghadapi tantangan zaman untuk tetap menjadi saksi Kristus di mana saja kita berada.”

Madre Guzmana Romanengo sangat tertarik dengan semangat hidup Santo Dominikus dan ingin mengikuti jejaknya dengan cara hidup yang sama, terutama dalam menghayati kemiskinan Injil dan hidup persaudaraan. Awalnya tak ada rencana mendirikan kongregasi baru karena sebelumnya ia anggota Biara Dominikan dari Mondovi Carassone. Tetapi, melihat  dalam biara itu seperti ada dua kelompok yang berbeda, yang miskin dan kaya, tergantung status sosial dari para suster, maka, meskipun ia tergolong berstatus sosial tinggi, ia ingin hidup sesuai cara hidup awal Ordo yaitu kemiskinan Injil dan persaudaraan.

Awalnya ia meminta memperbaharui cara hidup religius, tetapi karena ditolak oleh para pemimpin kongregasi, dengan bantuan Bapa Rohani dan Uskup dari Asti ia mendirikan kongregasi yang baru. Dan, karena ingin meneladani Santo Dominikus, pendiri yang bernama asli Maria Adelaida mengambil nama belakang dari Santo Dominikus de Guzman, sehingga namanya berubah menjadi Guzmana Romanengo. (PEN@ Katolik/pcp/aop)

Katekese untuk anak-anak Sekami
Katekese untuk anak-anak Sekami
Komunitas Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti di Ruteng, Indonesia
Komunitas Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti di Ruteng, Indonesia
Empat yunior Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti di Indonesia
Empat yunior Suster-Suster Dominikan Rosario Suci dari Asti di Indonesia

Tinggalkan Pesan