Langit-langit berlukiskan Maria Diangkat ke Surga di Gereja Maria yang Dikandung Tanpa Noda di Via Veneto, Roma
Langit-langit berlukiskan Maria Diangkat ke Surga di Gereja Maria yang Dikandung Tanpa Noda di Via Veneto, Roma

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil pada Perayaan Maria Diangkat ke Surga, 15 Agustus 2019: Lukas 1:39-56)

Hari ini Gereja sedang merayakan hari raya Maria Diangkat ke Surga. Berakar dalam Kitab Suci dan Tradisi, Gereja dengan kuat percaya bahwa Maria diasumsikan masuk ke dalam surga dengan tubuh dan jiwanya setelah dia menyelesaikan hidupnya di bumi ini. Keyakinan ini terkristalisasi dalam bentuk dogma atau ajaran tertinggi Gereja. Sebagai dogma, asumsi membutuhkan persetujuan iman dari umat beriman. Asumsi itu sendiri bukan satu-satunya Dogma Maria. Ada empat dogma yang berkaitan dengannya: Maria adalah Bunda Allah, selalu perawan, dikandung dengan sempurna, dan diasumsikan masuk ke surga. Tidak ada manusia lain, kecuali Yesus, yang mengumpulkan begitu banyak kehormatan di Gereja dan tidak ada pria atau wanita lain yang memiliki kondisi terberkati seperti Maria.

Namun, kita salah jika kita berpikir bahwa semua dogma adalah tentang kebaikan Maria. Ketika kita merayakan dogma-dogma Maria, kita tidak hanya memuji bahwa Maria itu baik, lembut, dan suci, tetapi terutama tentang Tuhan dan bagaimana kita berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya yang tercurah kepada Maria. Melihat Maria, kita tidak bisa tidak berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya atas dia dan keajaiban-keajaiban yang dilakukan kepadanya.

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kidung Maria yang secara tradisional disebut Magnificat [Luk 1:46 dst]. Dalam kidung tersebut, Maria memuji Tuhan atas perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan-Nya kepadanya dan Israel. Maria sendiri mengakui siapa dirinya, “hamba Tuhan yang rendah.” Dia tidak pernah membiarkan kesombongan masuk ke dalam benaknya, tetapi sebaliknya, dia memilih untuk mengakui apa yang telah Tuhan lakukan kepadanya bahwa “Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya.” Maria menyadari bahwa dia bukan apa-apa tanpa Tuhan.

Kata Magnificat adalah dari kata Latin pertama yang muncul di kidung tersebut, “Magnificat anima mea Dominum.” Bahasa Yunani aslinya adalah “μεγαλύνω” [megaluno], berarti untuk membuat besar. Idenya seperti kaca pembesar yang mengintensifkan cahaya dan panas matahari, dan dengan demikian, memancarkan energi yang kuat. Ketika saya masih kecil, teman-teman saya dan saya biasa bermain bersama di luar. Suatu kali, seorang teman membawa kaca pembesar. Kami kagum bahwa kaca tersebut memiliki fungsi lain selain membuat benda kecil tampak besar. Itu bisa mengumpulkan cahaya dan panas matahari dan memfokuskannya ke satu tempat. Itu begitu kuat dan panas sehingga bisa membakar apa yang disentuhnya. Kemudian, ketika kami melihat semut di sekitar kami, kami mulai membakar mereka menggunakan kaca pembesar!

Maria tahu betul bahwa dia bukan sumber cahaya, dan dia adalah penerima. Namun, Maria tidak hanya menerimanya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Maria juga sadar bahwa dia bukanlah sekadar cermin yang hanya memantulkan cahaya. Maria melihat dirinya sebagai “kaca pembesar.” Ketika dia menerima cahaya, dia memastikan bahwa cahaya akan bersinar lebih terang, intens, dan kuat. Melalui Maria, terang Kristus menjadi lebih kuat, dahsyat dan berdaya guna. Ketika kita dengan penuh perhatian melihat Maria, kita tidak bisa tidak melihat Tuhan sendiri yang lebih megah dan mulia.

Dogma Maria Diangkat ke Surga, dan juga dogma-dogma Maria yang lain, menunjuk ke Maria, yang menunjuk kepada Tuhan. Mengikuti teladannya, kita juga dipanggil untuk menjadikan hidup kita sebagai rambu yang menunjuk kepada Allah. Tetapi lebih dari sekadar rambu-rambu yang pasif, kita perlu belajar untuk secara aktif meningkatkan kemuliaan dan belas kasihan Tuhan melalui hidup kita.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan