Pastor Gerard Timoner OP asal Filipina, orang Asia pertama yang menjadi Master Ordo selama 800 tahun misi Ordo Dominikan Foto dari Website ORDO PRAEDICATORUM
Pastor Gerard Timoner OP asal Filipina, orang Asia pertama yang menjadi Master Ordo selama 800 tahun misi Ordo Dominikan. Foto dari Website ORDO PRAEDICATORUM

Hari Minggu tanggal 4 Agustus 2019, dirayakan Misa Penutupan Kapitel Umum Ordo Pewarta (Ordo Dominikan, OP), yang berlangsung di Biên Hoa, 7 Juli sampai 4 Agustus 2019. Ordo Dominikan yang didirikan oleh Santo Dominikus  mendapat persetujuan dari Paus Honorius III tanggal 22 Desember 1216.

Misa di Tempat Ziarah Santo Martinus di Biên Hòa, Vietnam, yang disertai penerimaan Kaul Kekal dari 22 frater OP dan dihadiri sekitar 18.000 orang itu mendengarkan homili yang disampaikan oleh Master Ordo Dominikan yang baru, Pastor Gerard Timoner OP asal Filipina, orang Asia pertama yang menjadi Master Ordo selama 800 tahun Ordo itu.

Berikut ini, Paul C Pati dari PEN@ Katolik menerjemahkan homili itu untuk Anda.

Homili

Kita berkumpul untuk merayakan Pesta Bapa kita Santo Dominikus, terang Gereja dan pewarta kasih karunia. Kita berkumpul untuk bersyukur kepada Tuhan atas rahmat Kapitel Umum di sini, di Biên Hna, Vietnam, dan atas rahmat berlipat ganda yang telah kita terima dari-Nya.

Di Bologna, Kapitel Umum terakhir dimulai dengan perjumpaan dengan frater-frater mahasiswa dari seluruh dunia yang berziarah bersama Saudara Bruno, Master Ordo. Di sini, di Biên Hòa, Kapitel Umum berakhir dengan profesi kekal dua puluh dua frater, frater-frater yang akan berkaul untuk berjalan bersama kami mengikuti Kristus Sang Pewarta. Mereka akan berani mengatakan “Ya” untuk masa depan yang tidak ada di tangan mereka karena mereka sangat yakin bahwa masa depan berada di tangan penuh kasih dan penuh belas kasihan dari Allah. Allah itu berkuasa dan setia karena apa yang dia janjikan, Dia penuhi. Dan kuasa Tuhan itu bersinar melalui kita ketika kita menepati janji kita, ketika kita setia pada kaul kita. Mari kita berdoa untuk ketekunan mereka.

Mengapa kita mempromosikan panggilan untuk Ordo? Mengapa kita mengajak pria dan wanita untuk bergabung bersama kita dalam Keluarga Dominikan? Apakah kita merekrut mereka karena adalah tugas kita untuk memastikan bahwa karisma Dominikan hidup terus hingga ke generasi berikut? Mungkin, karena kita perlu rekan kerja yang akan membantu kita mewartakan Injil? Atau, apakah karena di zaman kita, ada milyaran orang yang belum pernah mendengar Injil, yang paling banyak dalam sejarah, baik karena orang-orang acuh tak acuh pada Injil, atau terlalu “sedikit pekerja untuk panen yang besar.” Saya percaya semua ini adalah alasan yang baik bagi kita untuk menerima saudara dan saudari dalam Ordo. Tetapi saya pikir alasan bagus lainnya, mungkin, yang paling penting, adalah kita ingin berbagi sukacita mewartakan Injil bersama mereka, kita ingin berbagi harta kehidupan Dominikan dengan mereka. Lewat pengalaman kita tahu, kalau kita menemukan sesuatu yang luar biasa atau menakjubkan, hal pertama yang muncul dalam benak kita adalah orang-orang yang kita cintai: betapa kita mau mereka ada bersama kita! Ketika saudara kita, para peserta kapitel pulang, saya kira kisah yang akan mereka bagikan adalah hal-hal luar biasa yang mereka lihat, dengar dan rasakan di sini di Vietnam! Begitulah saya membayangkan persekutuan para kudus. Saat mereka menikmati visi beatifik (komunikasi langsung dengan Allah), orang-orang kudus itu mengingat kita, dan mungkin mereka berkata: betapa kita mau mereka berada di sini! Dan dari pihak kita, kita katakan: nos iunge beatis!

Yesus mengatakan kepada kita dalam Injil hari ini bahwa kita adalah garam dunia dan terang dunia. Cahaya iman yang kita terima dalam baptisanlah yang memberi kita kuasa untuk memberi warna dan aroma bagi dunia kita. Paus Fransiskus mengingatkan kita di Lumen Fidei: “Iman bukanlah cahaya yang mencerai-beraikan semua kegelapan kita, tetapi lampu yang menuntun langkah-langkah kita di malam hari dan cukup untuk perjalanan (LF # 57). Bahkan dengan iman yang teguh dan tak tergoyahkan, kegelapan tetap ada di dunia kita. Namun kita tidak perlu takut, karena iman adalah pelita yang dapat diandalkan yang akan menerangi jalan kita.

Di sini di Vietnam, nama “Dominikus” diterjemahkan sebagai Đa Minh yang berarti cahaya yang luar biasa! Dominikus adalah lumen ecclesiae. Sebagai orang Kristen, dan khususnya sebagai Dominikan, kita adalah terang dunia. Tetapi sebagai terang, kita lebih seperti bulan daripada matahari. Yesus adalah satu-satunya terang dunia yang nyata; kita hanya memantulkan cahaya-Nya. Inilah yang oleh para Bapa Gereja disebut sebagai pelayanan bulan, memantulkan cahaya Kristus, sebagaimana bulan memantulkan cahaya matahari. Dan kita tahu bahwa kecerahan sinar bulan tergantung pada posisi bulan dalam kaitannya dengan matahari. Kecerahan cahaya yang kita hasilkan sebagai Dominikan sangat tergantung pada hubungan kita dengan Kristus. Beberapa di antara kita, bersinar seperti bulan purnama – ketika orang melihat kita, mereka langsung merasakan sukacita dan kedamaian yang datang dari Kristus yang  bersinar. Mereka mengatakan bahwa orang yang sedang jatuh cinta bersinar dan berkilau. Seorang Dominikan yang jatuh cinta pada Tuhan dan berdamai dengan diri sendiri dan orang lain bersinar dan berkilau dengan cara istimewa! Anda bisa dengan mudah melihat mereka bahkan ketika mereka berada di sudut ruangan yang gelap karena mereka berkilau, mereka bersinar, bahkan dalam gelap! Namun beberapa dari kita berada dalam fase bulan sabit yang memudar, nyaris tidak bersinar, hampir tersembunyi dari Kristus. Kalau Anda melihat seorang Dominikan yang jatuh dalam kegelapan, yang rewel dan pemarah, yang kehadirannya hanya menghabiskan energi Anda, saudara atau saudari itu bisa mengalami gerhana bulan! Mereka memerlukan perhatian persaudaraan kita yang mendesak karena cahaya yang datang dari Kristus benar-benar terhalang oleh sesuatu di antara dia dan Kristus. Yesus memastikan bahwa kita adalah terang dunia. Tapi, kita cahaya macam apa? Bulan purnama, bulan sabit yang pudar atau gerhana bulan? Mewartakan Kristus dengan kata-kata dan perbuatan adalah “pelayanan bulan.”

Dominikus adalah terang Gereja, sangat mirip dengan cahaya yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dominikus tidak menyimpan percikan inspirasi ilahi untuk dirinya sendiri, ia mendirikan Ordo Pewarta, ordo pria dan wanita yang didedikasikan untuk studi kebenaran dan pewartaan rahmat, dan pembangunan komunitas-komunitas, khususnya Gereja.

Salah satu pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik saya sejak saya masih novis adalah bagaimana mungkin pendiri Ordo Pewarta tidak memiliki khotbah atau homili yang tercatat? Bukan karena kurangnya bahan tulisan, karena kita masih bisa membaca homili-homili indah Santo Agustinus yang hidup berabad-abad sebelumnya. Yang kita miliki hanyalah tiga surat pendek yang ditulis oleh Dominikus: satu ditujukan kepada para biarawati, dua tentang orang yang bertobat dari bidaah.

Saya kira, pasti ada alasan bagus mengapa tidak ada homili Dominikus yang dicatat. Saya mengajak Anda menggunakan imajinasi Anda dan menganggap ketidakadaan itu dimaksudkan untuk menggarisbawahi misteri bahwa bagi Dominikus, Ordo yang dia dirikan adalah khotbahnya yang abadi. Dia menyebut biara yang pertama bukan sebagai rumah bagi para pewarta, tetapi Pewartaan Suci itu sendiri. Kita adalah semua homili Santo Dominikus di dunia kita hari ini. Kita adalah bagian dari teks khotbahnya yang terus berkembang. Kata teks berasal dari bahasa Latin texere, yang berarti menenun. Teks khotbah Dominikus adalah tenunan bersama kehidupan dan kesaksian orang-orang yang terpikat oleh rohnya, oleh hasratnya akan kebenaran dan belas kasihan bagi umat manusia. Dan kalau kita bisa membayangkan bahwa kita adalah bagian khotbah Dominikus, saya mengajak Anda mempertimbangkan tempat Anda di dalam teks[1] homili Santo Dominikus. Apakah Anda berada tepat di tengah teks itu, dalam huruf besar yang tebal? Apakah Anda adalah catatan kaki yang membosankan dan tidak penting di bagian bawah halaman? Apakah Anda adalah catatan kaki yang tidak dibaca oleh siapa pun tetapi sebenarnya harus mereka baca, karena dengan demikian, mereka akan menemukan sesuatu yang menarik; yang memberikan pemahaman baru tentang teks yang mengirim Anda ke arah yang mendalam dan baru? Apakah Anda catatan pinggir, yang merefleksikan, yang mengkritik teks? Mungkin Anda berada di margin, nyaris tidak bergantung pada halaman, namun keberadaan di pinggiran itu menandai batas-batas teks dan menyajikan dunia di mana teks itu berada. Dan apa yang dikatakan teks ini? Apa yang Anda, teks itu, katakan untuk dirimu sendiri? Hanyalah demikianlah kita tapi merupakan pewartaan abadi Dominikus dalam dunia kita saat ini. Keputusan-keputusan yang kita ambil dalam Kapitel Umum, yang sendirinya merupakan tenunan bersama mimpi-mimpi dan niat-niat bersama kita, dimaksudkan untuk membuat khotbah Dominikus lebih mengesankan di dunia kita saat ini.

Kami datang dari seluruh penjuru dunia untuk merayakan persekutuan kita sebagai Dominikan. Kita telah berjalan bersama dengan Tuhan selama empat minggu. Setelah pertemuan ini, kita akan pulang ke rumah-rumah kita. Sepertinya paradoksal, seolah-oleh kita berpisah jalan dan pergi ke arah-arah berbeda, kita terus berjalan bersama, karena kita anggota keluarga Santo Dominikus, lumen ecclesiae, dan kita punya satu tujuan: untuk memancarkan terang Kristus, Inkarnasi Sabda, dalam ke dunia.

Gerard Timoner OP

Tempat Ziarah Santo Martinus, Biên Hòa

[1] Diadaptasi dari Karen Soos, “The Etymology of Hope” LOGOS Musim Gugur 2004 Vol. XVII No. 2

Pastor Gerard Timoner OP memberikan homili
Pastor Gerard Timoner OP memberikan homili. Foto dari Website ORDO PRAEDICATORUM
Pastor Gerard Timoner OP bergambar bersama para imam dan umat
Pastor Gerard Timoner OP bergambar bersama para imam dan umat. Foto dari Website ORDO PRAEDICATORUM
Sekitar 18.000 umat hadir dalam Misa Penutupan Kapitel Umum.
Sekitar 18.000 umat hadir dalam Misa Penutupan Kapitel Umum. Foto dari Website ORDO PRAEDICATORUM

 

Tinggalkan Pesan