Enam imam projo KAJ bergambar bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (tengah) (PEN@ Katolik/krm)
Enam imam projo KAJ bergambar bersama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (tengah) (PEN@ Katolik/krm)

Sebagai anak dari keluarga militer, menjadi imam bukanlah cita-cita sejak kecil, melainkan menjadi Taruna AKABRI, namun cita-cita itu harus pupus lantaran tinggi badannya tidak mencukupi. “Gagal menjadi Taruna AKABRI, saya lolos menjadi taruna yang mewartakan Kerajaan Allah,” kata Pastor Victorius Rudy Hartono Pr.

Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) itu menjelaskan bahwa panggilan Tuhan untuk menjadi imam sesungguhnya merupakan ziarah yang tidak pernah selesai, dengan tujuan “untuk memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah.”

Pastor Rudy berbicara dalam homili Misa HUT ke-20 tahbisan enam imam projo KAJ, termasuk dirinya, yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo di Gereja Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Jakarta Barat, 16 Agustus 2019. Sekitar 800 umat termasuk keluarga para imam hadir dalam Misa itu. Sebelum perayaan itu, keenam imam itu menjalani rekoleksi dan sharing di daerah Bogor untuk saling meneguhkan.

Lima imam lainnya adalah Pastor Samuel Pangestu Pr yang bertugas sebagai Vikjen KAJ, Pastor FX Suherman Pr sebagai Kepala Paroki Bojong Indah, Pastor Hieronymus Sridanto Aribowo Pr sebagai Ketua Komisi Liturgi KAJ, Pastor Christoforus J Harry Liong Pr sebagai Pastor Rekan Paroki Jalan Malang, dan Pastor Aloysius Hadi Nugraha Pr sebagai Pastor Rekan Paroki Kelapa Gading.

Menurut Pastor Rudy, “menjadi imam bisa merupakan cita-cita dan bisa juga sebagai misteri yang sulit diselami.” Panggilan imam, lanjut imam itu, adalah rahmat Allah kepada setiap manusia, maka “diperlukan upaya untuk merawatnya dengan baik.”

Sebagai manusia, imam itu mengakui, mereka berenam yang ditahbiskan imam oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ memiliki kelemahan. “Namun kelemahan yang dimiliki, juga pengalaman suka maupun duka, semakin menumbuhkan semangat kami untuk melayani,” kata Pastor Rudy yang menambahkan bahwa mereka berusaha untuk selalu memurnikan panggilan mereka sebagai imam.

Kalau Pastor Samuel Pangestu merasakan bahwa 20 tahun sebagai imam itu semata-mata karena kasih Tuhan yang kemudian dia bagikan kepada seluruh umat manusia, Pastor Hadi Nugroho mengatakan kesetiaannya selama 20 tahun hanya karena bimbingan Tuhan, Pastor Suherman dan Pastor Harry Liong memanfaatkan perayaan 20 tahun itu untuk mengingat panggilan hidupnya untuk saling melayani Tuhan dan sesama, dan Pastor Sridanto mengakui boleh mencapai HUT ke-20 karena cinta dan bimbingan Tuhan. (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

Tinggalkan Pesan