Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP (Foto: Hendra)
Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP (Foto: Hendra)

(Wawancara dengan imam baru dari Ordo Dominikan, yang ingin mengasihi sampai akhir)

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP lahir di Bandung 21 Mei 1987. Setelah menerima Komuni Pertama, Bayu, demikian nama kecilnya, mulai aktif sebagai misdinar di sebuah paroki di Keuskupan Bandung. Saat itu, dia terpikat menjadi imam ketika melihat kehebatan pastor paroki dari Ordo Salib Suci (OSC) dalam berkotbah dan perhatiannya yang besar kepada misdinar.

Dia pun dibawa oleh orangtuanya untuk masuk seminari di Seminari Menengah Mertoyudan dan ketika hendak memilih jalan imamatnya, dia memutuskan untuk menjadi imam diosesan atau projo (pr) di Keuskupan Bandung.

Namun, ketika mendengar perkenalan tentang Ordo Dominikan (Ordo Pewarta, OP) yang disampaikan seorang imam Dominikan dia memutar haluan dan mengikuti seminari tinggi di Filipina. Di sana Bayu mengalami pembentukan atau formasi cukup panjang, hampir 13 tahun, dan jika ditambahkan empat tahun formasi seminari kecil di Indonesia, totalnya hampir 17 tahun.

Frater Baru ditahbiskan diakon 6 Desember 2018 di Gereja Santo Domingo di Kota Quezon, Filipina. Dan, tanggal 25 Juli 2019, Diakon Bayu bersama empat diakon projo Bandung ditahbiskan imam oleh Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto OSC yang didampingi Rektor Seminari Fermentum Bandung Pastor RF Bhanu Viktorahadi dan Perwakilan Provinsial Ordo Pewarta Pastor Edmund Nantes OP di Gereja Santo Paulus Mohammad Toha, Bandung, dalam Misa hampir tiga jam setengah dengan lebih dari 160 imam konselebran.

Untuk lebih mengenal perjalanan panggilan dan alasan Pastor Bayu memilih Ordo Pewarta, Paul C Pati dari PEN@ Katolik dan Majalah Arue mewawancarainya.

PEN@ Katolik: Sejak kapan Pastor tertarik menjadi imam?

PASTOR VALENTINUS BAYUHADI RUSENO OP: Cita-cita menjadi seorang imam telah tertanam sejak masih kecil. Saya terinspirasi oleh Kepala Paroki Santa Odilia Cicadas, Bandung, waktu itu, almarhum Pastor Leonard Latumeten Edwin OSC. Dia pengkotbah yang lihai dan memberikan perhatian khusus bagi misdinar. Saya masih teringat bagaimana ia membenahi jubah misdinar saya saat terlihat belum rapih. Saya pun ingin menjadi pastor seperti dia, seorang pengkotbah ulung dan perhatian pada umatnya.

Lalu, mengapa memilih Ordo Pewarta (Dominikan), bagaimana Pastor mengenalnya?

Sewaktu masih menjalani pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, saya berniat kembali ke kota asal saya, menjadi imam projo Keuskupan Bandung. Namun, tanpa saya duga, Pastor Adrian Adiredjo OP datang dan memberikan promosi panggilan pada angkatan saya. Memang itu kegiatan tidak wajar dan tidak diduga, karena waktu itu promosi panggilan hanya dibatasi pada Projo Semarang, Yesuit, MSF dan OCSO.

Saya sendiri tidak pernah mengenal OP. Saya hanya membaca kisah Santo Dominikus dan Santo Thomas Aquinas saat bacaan rohani, serta mengenal mereka sebagai orang kudus Gereja secara umum, tanpa hubungannya dengan OP. Tetapi, saat mendengarkan pewartaan yang dilakukan Pastor Adrian, saya tertarik dan mungkin memori Pastor Edwin, sang pewarta yang ulung itu, hidup kembali. Di dalam benak saya, mungkin OP bisa menjadi tempat bagi saya untuk mencapai impian masa kecil saya.

Apa sebenarnya spiritualitas Dominikan yang Pastor hidupi?

Spiritualitas Dominikan adalah spiritualitas seorang pewarta. Inilah spiritualitas seorang pewarta [identitas-being] bukan sekedar spiritualitas pewartaan [aksi-doing]. Dominikan bukanlah biarawan yang kebetulan terlibat dalam karya pewartaan, tetapi jati dirinya adalah sungguh seorang pewarta.

Santo Dominikus adalah seorang pewarta yang mengikuti jejak Kristus Sang Pewarta sejati, dan saat orang-orang mulai mengikuti cara hidupnya, Santo Dominikus mulai membentuk komunitas dan struktur yang mendukung hidup para pewarta. Dominikus memberi teladan bahwa dia hanya mewartakan Tuhan sendiri dan sumber pewartaannya ini adalah hidup doa, studi dan komunitas.

Dalam rangkuman Santo Thomas Aquinas, “contemplare et contemplate aliis tradere” [mengkontemplasikan dan membagikan apa yang dikontemplasikan kepada orang lain], spiritualitas pewarta sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dicari atau diusahakan sendiri. Dengan menjadi bagian dari Ordo Pewarta dan hidup dalam komunitas pewarta dengan berbagai tata cara hidup membiara, kegiatan studi yang intens, serta doa dan liturgi yang menjadi struktur hidup harian, seorang Dominikan sejatinya sudah ‘bernafas’ dengan spiritualitas pewarta. Pertanyaan bagi saya dan para Dominikan sekarang, apakah saya mau menghidupi hidup dan identitas saya sehari-hari sebagai Dominikan dengan kesungguhan hati?

Apa moto tahbisan imamat Pastor?

Moto tahbisan saya adalah “in finem dilexiteos” [dan Dia mengasihi mereka sampai akhir] – Yoh 13:1. Moto ini merupakan hasil permenungan saya tentang penderitaan, salib dan kematian Yesus. Kenapa Yesus harus mati demi menyelamatkan kita? Bukankah sebagai Allah, ia memiliki cara-cara lain? Jika Yesus menaati perintah Bapa, bukankah ini membuat Allah sebagai seorang yang menginginkan kematian Anak-Nya sendiri? Ayah macam apakah yang menginginkan kematian anaknya sendiri?

Jawabannya saya temukan dalam ayat itu. Allah Bapa tidak menginginkan agar Yesus menderita dan mati di salib, tetapi Dia ingin agar Yesus mengasihi, dan mengasihi sampai akhir. Saat Yesus mengasihi sampai kesudahan, sengsara dan kematian menjadi konsekuensi nyata bagi Yesus karena kasih tanpa pengorbanan adalah murahan.

Dalam Injil Yohanes, Yesus tidak pernah berbicara salib sebagai penderitaan dan kematian, tetapi salib sebagai kemuliaan-Nya. Kenapa? Karena Yesus mengerti bahwa salib menjadi puncak di mana Yesus mengasihi sepenuhnya, sampai akhir. Bukan hanya karena penderitaan dan salib kita diselamatkan, tetapi karena Yesus mencintai kita sampai akhir. Moto ini mengingatkan saya agar menjadi seperti Yesus, untuk mengasihi sampai akhir.

Bagaimana spiritualitas Dominikan dan moto tahbisan yang Pastor pilih membantu dalam menghadapi tantangan masa kini?

Seperti yang saya katakan, spiritualitas Dominikan tidak lain adalah spiritualitas seorang pewarta. Dominikus mewariskan semangat dan spiritualitas pewarta kepada saudara-saudaranya dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan Gereja saat itu, yakni tersedianya pewarta-pewarta handal yang membela Gereja, dan mampu menerangkan kebenaran iman dengan lugas.

Walaupun tiap zaman memiliki kebutuhan dan tantangan berbeda, kebutuhan akan pewarta-pewarta handal merupakan kebutuhan dasar dari Gereja, karena Gereja sendiri ada untuk misi pewartaan [lih. Mat 28:19].

Moto tahbisan imamat saya memberi paradigma lebih mendalam akan identitas saya sebagai pewarta dan pewartaan yang saya lakukan. Pewartaan kini saya lihat sebagai bentuk dari kasih, dan identitas saya sebagai pewarta tidak lain adalah penjelmaan dari seorang yang mengasihi. Mengasihi sampai akhir kini bisa dimengerti sebagai mewartakan sampai akhir.

Santo Yohanes dari Salib pernah berkata bahwa di akhir hidup, kita tidak akan diadili berdasarkan prestasi dan ketenaran, tetapi sejauh mana kita telah mengasihi. Jika pewartaan adalah bentuk dari kasih, pertanyaan bagi saya adalah sejauh mana saya telah setia hidup sebagai pewarta, sejauh mana saya telah mewartakan kebenaran?

Mengapa Pastor ditahbiskan di Bandung?

Alasannya cukup sederhana, karena saya berasal dari Bandung, keluarga tinggal di Bandung, dan saya pernah cukup aktif di Paroki Santa Odilia, Bandung. Tetapi saya menyadari, setelah masuk seminari menengah saya tidak lagi melibatkan diri dalam kegiatan di paroki maupun di Keuskupan Bandung. Apalagi setelah pergi ke Filipina, saya hanya pulang ke Bandung untuk cuti dan berlibur.

Pastor ditahbiskan oleh Uskup Bandung bersama empat imam diocesan Bandung. Apa kesan dan pesan Pastor?

Secara psikologis, saya merasa tidak sendirian dalam menyiapkan tahbisan. Dalam pertemuan dengan Uskup Anton dan keempat imam diosesan itu, saya merasa sangat diterima dan didukung, padahal kenyataannya saya orang asing yang sekedar “menumpang” acara Keuskupan Bandung.

Penerimaan hangat dari pihak keuskupan dan keempat imam itu tentunya menjadi simbol nyata dari kesatuan Gereja [ecclesial unity] dan kesatuan dalam imamat [presbyterium]. Walaupun saya imam tarekat, imamat saya tidak berbeda dengan keempat imam lain. Walaupun saya tidak [belum] bekerja di Keuskupan Bandung, saya menjadi sumbangsih Gereja Lokal Bandung untuk Gereja universal.

Imam Dominikan asli Indonesia di Indonesia baru lima termasuk Pastor sendiri!

Perlu diingat, misi di Indonesia dimulai lagi dengan kedatangan misionaris dari Filipina, Pastor Enrico Gonzales tahun 1993. Misi itu pun tidak bisa dibilang terlalu berhasil karena Pastor Enrico hanya bisa tinggal kurang dari setahun karena permasalahan visa. Tetapi, kedatangannya membuka pintu bagi kandidat-kandidat baru dari Indonesia untuk menjadi imam Dominikan.

Beberapa yang berhasil mencapai pentahbisan adalah Pastor Adrian OP dan Pastor Robini Maryanto OP yang disusul oleh Pastor Andreas Kurniawan OP. Tahun 2006, misi di Indonesia secara formal dibuka kembali dengan berdirinya rumah biara Santo Dominikus di Pontianak. Saya dan Pastor Mingdry Hanafi Tjipto OP [waktu itu masih frater] adalah buah-buah pertama misi baru itu. Butuh waktu lama untuk berakar di tanah Indonesia, tetapi sekarang lebih dari 10 tahun setelah misi Indonesia dibuka kembali, kami telah miliki dua rumah biara dengan pelayanan di berbagai sektor seperti karya pastoral di paroki, formasi para imam dan awam, serta pendidikan.

Kami juga diberkati dengan jumlah panggilan cukup berlimpah dan semakin banyak orang mengenal Ordo Pewarta. Sebagai imam Dominikan asli Indonesia kelima yang bekerja di Indonesia, saya merasa sungguh diberkati dan juga merupakan kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian sejarah awal OP di Indonesia. Namun, sebagai bagian dari Dominikan pertama di Indonesia, banyak yang harus kami kerjakan dan benahi. Perjalanan untuk terbentuknya provinsi masih panjang, dan saya harus bekerja keras sebagai bagian awal cita-cita bersama ini.

Provinsial OP Filipina Pastor Napoleon Sipalay OP mengatakan kepada media ini bahwa Ordo Pewarta tak kejar kuantitas tapi kualitas pelayanan bagi Gereja!

Saya sependapat dengan Pastor Provinsial bahwa kualitas imam Dominikan harus menjadi prioritas bagi para Dominikan di Filipina maupun di Indonesia. Kembali kepada Santo Dominikus sendiri, ia membangun Ordo Pewarta dengan tujuan menjawab kebutuhan imam dan pewarta berkualitas sebagai jawaban permasalahan Gereja saat itu. Ini paradigma penting karena jumlah tanpa kualitas hanya akan mendatangkan permasalahan.

Pembentukan kualitas sebenarnya tertuang dalam butir-butir prioritas Dominikan Provinsi Filipina pada kapitel provinsial beberapa tahun lalu. Pembentukan kualitas ditunjukkan dengan berbagai program yang diikuti para frater di berbagai tingkat. Program-program ini tidak hanya fokus pada bidang intelektual-akademik tetapi menjangkau dimensi kemanusiaan yang lebih holistik. Harapannya adalah membentuk Dominikan-Dominikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, menguasai berbagai aspek dasar iman Katolik dan mampu membagikannya dalam pengajaran dan pewartaan, tetapi juga seorang saudara yang berbelaskasih dan peka dengan kebutuhan sesama.

Pembentukan kualitas tentu membutuhkan waktu, tenaga dan sumber daya yang tidak sedikit. Tidak heran jika saya menghabiskan waktu hampir 13 tahun di formasi di Filipina. Tetapi, saya bersyukur boleh mengenyam pendidikan dan formasi di Filipina dengan berbagai programnya. Saya dipersiapkan lebih matang dalam menghadapi tantangan dan kebutuhan misi di Indonesia. Contohnya, sekarang saya percaya diri dalam memimpin ibadat atau memberi ceramah dalam Bahasa Inggris. Gelar Licentiate-Master yang saya dapatkan dari University of Santo Tomas memberikan saya akses untuk mengajar di seminari maupun di sekolah-sekolah teologi di Surabaya.

Seorang imam tentu akan mengikuti penugasan dari pimpinan. Namun bidang apa sebenarnya yang menjadi minat Pastor? Bagaimana kalau Pastor diminta jadi promotor panggilan?

Jika berbicara tentang minat, saya sendiri lebih cenderung terjun dalam dunia pengajaran [memberi kuliah, ceramah, menjadi pembicara] dan juga formatio [pembentukan calon Dominikan maupun awam]. Tetapi, sebagai seorang rohaniawan Dominikan yang menghidupi kaul ketaatan, saya siap menjalankan tugas yang diberikan komunitas sebaik mungkin dengan kapasitas yang saya miliki.

Jika saya ditugaskan menjadi promotor panggilan OP, tentu saya akan mencoba menjalankan sebaik mungkin. Saya mencoba meneruskan dan mengembangkan program yang sudah berjalan dan jika bisa, membuat program-program baru yang mendukung tugas yang diberikan.***

Artikel Terkait:

Mgr Subianto ajak lima diakon berkomitmen lawan aji mumpung setelah tahbisan imamat

Suasana Perayaan Liturgi dalam Misa Tahbisan di Paroki Paulus Bandung 25 Juli 2019
Suasana Perayaan Liturgi dalam Misa Tahbisan di Paroki Paulus Bandung 25 Juli 2019
Berkat Pertama para imam baru
Berkat Pertama para imam baru

3F9A3661

 

 

Tinggalkan Pesan