Dua imam baru yang ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang: Pastor  Fransiskus Asisi Eko Hadi Nugroho MSF (kanan) dan Pastor  Bonaventura Agung Pribadi OCD (kiri). Foto dokumen dari MSF
Dua imam baru yang ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang: Pastor Fransiskus Asisi Eko Hadi Nugroho MSF (kanan) dan Pastor Bonaventura Agung Pribadi OCD (kiri). Foto dokumen dari MSF

Panggilan itu unik. Tiap orang punya sejarah panggilannya sendiri-sendiri. Namun, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko tetap meminta seorang imam untuk memiliki hati serius menanggapi bisikan dari Tuhan serta tulus dalam berkarya.

Mgr Rubiyatmoko berbicara dalam homili tahbisan imam untuk Diakon Fransiskus Asisi Eko Hadi Nugroho MSF dan Diakon Bonaventura Agung Pribadi OCD di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Yogyakarta, 16 Juli 2019.

Dalam tahbisan yang didampingi penahbis lainnya Julius Kardinal Darmaatmaja, Mgr Blasius Pujasumarta, dan Mgr Julius Sunarko serta puluhan imam konselebran, Mgr Rubiyatmoko juga meminta para imam baru untuk “menjadi gembala yang baik dalam menggembalakan umat di tempat tugas masing-masing.”

Selain itu, uskup metropolitan itu juga mengajak imam baru untuk “hindari penggunaan handphone yang dapat merusak panggilan dan relasi dengan Allah dan sesama, karena banyak waktu terbuang percuma hanya karena handphone.”

Kedua diakon lalu menyatakan bersedia melaksanakan tugas dengan cermat dan dalam kerjasama setia dengan uskup, menggembalakan umat Tuhan di bawah bimbingan Roh Kudus, merayakan misteri Yesus Kristus dalam Gereja dengan hormat dan setia sesuai Tradisi Gereja demi kemuliaan Allah dan pengudusan umat-Nya.

Mereka juga menyatakan kesediaan mewartakan Sabda Allah dengan pantas dan bijaksana dalam memaklumkan Injil serta mengajarkan iman Katolik, mempersatukan diri makin erat dengan Yesus Kristus, Sang Imam Agung, dan bersama-Nya menyerahkan diri kepada Bapa demi keselamatan manusia.

Setelah tiarap di depan altar sementara lagu “Litani Para Kudus” terdengar, Mgr Rubiyatmoko menahbiskan kedua diakon itu menjadi imam.

Menurut Pastor Eko yang baru ditahbiskan, perjalanan panggilannya bermula dari perjumpaan dengan Pastor Jan Weitjen SJ, saat duduk di kelas 1 SD. “Dia sosok imam saleh dan baik bagi semua orang yang dijumpainya. Yang sungguh mengesankan saya saat berjumpa Romo itu adalah ketika berkunjung ke rumah umat dia selalu mencatat nama anak-anak yang dikunjungi, termasuk anak-anak misdinar,” kata imam baru itu.

Selesai SMA, lanjutnya, dia memutuskan tidak melanjutkan relasi dengan pacar dan memilih bekerja di Bandung, sambil berusaha menjaga benih panggilan. “Bekerja dan hidup sendirian di Bandung rupanya menjadi saat-saat intensif dalam pergulatan dengan panggilan. Saya masih ingat juga, ketika berlibur ke Yogyakarta, saya mulai berpikir tentang perkawinan, yah, hidup membangun keluarga. Tawaran itu datang silih berganti. Lantas, saya pikir, kalau saya memiliki cinta, cinta tak selamanya harus memiliki. Maka, saya kembali fokus pada cita-cita awal, menjadi imam,” jelasnya.

Anak pertama dari enam bersaudara itu menjalankan masa diakonat di Paroki Ratu Rosari Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Karena mulai merasakan kehausan untuk mencari Tuhan, memahami-Nya dan ingin mengenal-Nya, Pastor Bonaventura selalu membaca Kitab Suci di waktu-waktu luang, terutama saat libur sekolah. “Ketika kuliah di Universitas Katolik Soegijapranata di Semarang, saya terlibat dalam berbagai kegiatan kerohanian berbagai kelompok, dan tertarik menjadi imam ketika bertemu seorang suster dari Ordo Karmelit yang memperkenalkan saya ordo OCD,” cerita imam baru itu.

“Setelah lulus kuliah tahun 2007, saya melamar dan diterima sebagai calon OCD,” kata Pastor Bonaventura, yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Puspita Wuri, seorang umat Paroki Banteng, menanggapi tahbisan itu dengan berharap agar rahmat tahbisan tidak dipermainkan an mereka, “menjadi imam yang baik dan setia, karena tahbisan imamat itu bagian dari Tujuh Sakramen yang diakui Gereja Katolik Roma.”

“Kalau boleh, jangan mengusik panggilan imamat dengan menggoda  perempuan atau mengganggu istri orang. Hargai mereka seperti ibu atau saudari kamu. Akibat menggoda atau mengganggu, banyak imam sudah keluar dan menikah,” tegas aktivis lingkungan hidup dari salah satu LSM internasional itu. (PEN@ Katolik/Felixianus Ali)

Dua imam baru. Foto Dokumentasi MSF
Dua imam baru. Foto Dokumentasi MSF
Mgr Robertus Rubiyatmoko (kedua dari kanan) dengan para pendamping termasuk tiga uskup pensiunan
Mgr Robertus Rubiyatmoko (kedua dari kanan) dengan para pendamping termasuk tiga uskup pensiunan

Tinggalkan Pesan