Para suster yang mengikrarkan kaul kekal serta yang merayakan Pesta Hidup Membiara bergambar bersama Dewan Kongregasi OP serta Uskup Purwokerto dan imam pendamping. PEN@ Katolik/pcp
Para suster yang mengikrarkan kaul kekal serta yang merayakan Pesta Hidup Membiara bergambar bersama Dewan Kongregasi OP serta Uskup Purwokerto dan imam pendamping. PEN@ Katolik/pcp

Ketika para uskup seluruh Indonesia mengadakan kunjungan ad limina kepada Paus Fransiskus di Vatikan 11 Juni 2019, Paus mengungkapkan, karena karya Roh Kudus, meski sekarang jumlah anak dalam keluarga semakin sedikit, hanya satu atau dua orang, panggilan bukan menyusut tapi makin banyak. Menurut data, nomor satu di dunia yang menghasilkan imam serta biarawan-biarawati adalah Vietnam diikuti oleh Filipina, Korea Selatan, India, dan Indonesia.

Namun, meski panggilan masih banyak dan masih baik, Paus mengkhawatirkan bahwa saat ini panggilan sudah bergeser, entah lebih berat yang mana, “jangan-jangan panggilan imam dan biarawan-biarawati, seperti juga panggilan pernikahan, bukan lagi yang khas dengan nilai tinggi dalam panggilan imamat dan hidup membiara, tetapi lebih hanya sebagai profesi. Ini akan menurunkan nilai panggilan itu.”

Kekuatiran itu diungkap oleh Uskup Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono Pr dalam homili Misa Pengikraran Kaul Kekal dan Syukur Atas Hidup Membiara dalam Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia (OP) yang berlangsung di Gereja Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adisucipto Bantul, Yogyakarta, Minggu 30 Juni 2019.

Tiga suster yang mengikrarkan Kaul Kekal adalah Suster Maria Emerita Yeni Dwi Astuti OP dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu Yogyakarta (putri dari Ignatius Sarmin dan Yustina Karinem), Suster Maria Andrea Desi Rifani Mangada OP dari Paroki Santo Yosef Polewali Sulawesi Barat (putri dari Adrianus Nanda Mangada dan Marta Rippun), serta Suster Maria Theresia Sri Wahyuni Budi Utami OP dari Paroki Roh Kudus Kebonarum Klaten (putri dari Stefanus Ngatijo dan M Margaretha Jumirah).

Sementara itu para suster yang merayakan Pesta Perak (25 tahun) Hidup Membiara adalah Suster Maria Christiana Damayanti OP, Suster Maria Constantia Sri Purbiati OP, Suster Maria Paulista Risma Nurat OP, Suster Maria Karina Widiastuti OP, dan Suster Mariany Eroswita OP; dan yang merayakan Pesta Emas (50 tahun) Hidup Membiara adalah Suster Maria Gemma OP, Suster Maria Benedicta OP, Suster Maria Yohanita OP, dan Suster Maria Veronica OP.

Dalam perayaan dengan tem Mara “Syukur atas kasih setia-Mu” itu, Mgr Tri Harsono didampingi oleh Kepala Paroki Santo Mikael Pangkalan Pastor Alphonsus Rodrigues Yudono Suwondo Pr dan Vikaris Episkolap DIY Pastor Adrianus Maradiyo Pr serta 20 imam konselebran. Keluarga dari para suster pestawati bersama para suster OP dan Dominikan Awam serta umat Pangkalan dan para tamu antara lain dari Kelompok Gusdurian dan Komunitas Slili memenuhi gereja dan halaman gereja.

Menurut Mgr Tri Harsono, banyak yang ingin menjadi imam karena mau menjadi pastor yang hebat, dosen terkenal, bukan sebagai pastor paroki. Lalu, tanya uskup itu kepada para suster, apakah suster yang hebat itu adalah yang jadi pemimpin? Kalau demikian, “nilai panggilan itu nanti turun.”

Jangan-jangan, lanjut Mgr Tri Harsono, panggilan itu hanyalah sesuatu yang diukur dengan kuantitas dengan menekankan, “berapa banyak tahun berulang tahun hidup membiara,” karena “bukan kuantitas lagi tapi yang dibutuhkan tapi kualitas atau mutu.”

Yang paling ngeri, menurut Uskup Purwokerto, “adalah ketika kita sudah tak pantas di situ atau sudah mengganggu di situ, atau sudah menjadi pecundang di dalamnya, tetapi tidak mau mengundurkan diri atau menarik diri. Ini nilainya semakin hancur, karena panggilan hanya sebagai profesi, hanya seperti pegawai negeri yang menerima gaji dan bayaran tanpa menekankan kemurnian, ketaatan serta kemiskinan. Nilainya turun!”

Lalu, kaul mana yang lebih berat bagi suster dan imam, murni atau miskin atau taat? Mgr Tri Harsono menegaskan, “tidak ada yang lebih berat, semua satu kesatuan yang betul-betul dikemas, karena pastor yang tidak taat pasti merembetnya pada kemurnian dan pada kekayaan. Kalau pastor sudah tidak miskin  lagi, jangan-jangan dia menghidupi keluarga, jangan-jangan ada sesuatu. Semua kaul mengangkat nilai panggilan yang khas dibandingkan yang lain.”

Tegasnya, menurut uskup itu, yang pantas dalam panggilan adalah yang tidak setengah-setengah, bukan untuk mengangkat nama keluarga. “Kalau imam atau suster yang tidak lagi memiliki pelayanan atau pengorbanan sedikit pun melainkan do ut des (saya memberi supaya engkau juga memberi untuk saya) atau take and give, nanti akan ada untung rugi terus-menerus, untung rugi dengan Gereja, untung rugi dengan teman, untung rugi dengan Tuhan. Isinya hanya itu, tidak ada kualitas, tidak ada pengorbanan, tidak ada pelayanan.”

Padahal, berkorban adalah “betul-betul rugi, betul-betul menderita, betul-betul mati, betul-betul sakit, betul-betul malu dan patut dihina,” kata Mgr Tri Harsono seraya mengajak para suster untuk mengangkat kembali kualitas panggilan dengan kaul dengan berkorban tidak hanya dengan segumpal darah dan seonggok daging, tetapi dengan roh Allah untuk menjadi teladan dalam pelayanan.

Uskup lebih dalam meminta mereka menjadi servus servorum Dei (hamba segala hamba Allah), menjadi pelayan dari pelayan di rumah juga di kantor. “Sebagai pemimpin Gereja, saya juga datang menjadi pelayan, bukan sebagai yang agung dan tinggi untuk memerintahkan atau menghakimi atau harus dihormati, tetapi untuk berbicara dan sama-sama melayani dengan betul sampai tidak terbayar lagi, kalau perlu dihina,” tegas uskup.

Uskup Purwokerto menegaskan, menjadi pelayanan dengan panggilan khusus harus seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci “benar-benar menjadi pelayanan seperti Kristus.” Apa pun panggilannya, jelas uskup, “hendaknya mengandalkan hati dan menekankan hal rohani bukan jasmani dan bukan duniawi tetapi tetap manusiawi, karena kalau sama saja dengan umat nilainya, maka nilai panggilan itu turun.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Uskup Purwokerto Mgr Tri Harsono (PEN@ Katolik/pcp)
Uskup Purwokerto Mgr Tri Harsono (PEN@ Katolik/pcp)
Para Suster OP yang merayakan Ulang Tahun Perak dan Emas Hidup Membiara (PEN@ Katolik/pcp)
Para Suster OP yang merayakan Ulang Tahun Perak dan Emas Hidup Membiara (PEN@ Katolik/pcp)
Tiga suster yang ikrarkan kaul kekal (PEN@ Katolik/pcp)
Tiga suster yang ikrarkan kaul kekal (PEN@ Katolik/pcp)

 

Tinggalkan Pesan