cq5dam.thumbnail.cropped.750.422

Dalam renungan Angelus Minggu 30 Juni 2019, Paus Fransiskus menunjukkan tiga tokoh yang Kristus temui dalam Injil, yang “menyoroti apa yang dituntut dari mereka yang ingin mengikuti Yesus.”

Sosok pertama adalah orang murah hati yang berjanji mengikuti Yesus ke mana pun Ia pergi. Yesus menjawab bahwa Anak Manusia “tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” tetapi selalu bergerak. Gereja juga dipanggil untuk selalu bergerak. “Misi kita tidak bisa statis, tetapi mengembara,” kata Paus. Gereja, jelasnya, dipanggil untuk mengikuti semua jalan di dunia untuk tiba “di pinggiran manusia dan eksistensial.”

Ketika calon murid lain meminta izin untuk menguburkan bapanya, dengan kata-kata ‘provokatif’ Yesus menjawab, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati .” Dengan jawaban ini, kata Paus, Yesus “bermaksud untuk menegaskan keutamaan mengikuti” Tuhan, dan “pewartaan Injil.” Ini, kata Paus, membutuhkan ketepatan waktu dan kesediaan penuh.

Akhirnya, Paus mengangkat tanggapan Yesus terhadap orang ketiga, yang ingin pamitan dahulu dengan keluarganya sebelum mengikuti Tuhan. Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Dengan jawaban itu, kata Paus, “Yesus tidak membutuhkan penyesalan dan melihat ke belakang, tetapi sifat ketegasan.”

Tiga “syarat” pemuridan itu tidak dimaksudkan untuk menjadi serangkaian “jawaban negatif”. Sebaliknya, ketiganya dimaksudkan untuk menekankan “tujuan prinsip: menjadi murid Kristus.” Ini, kata Paus, adalah “pilihan bebas dan disengaja, yang terbuat dari cinta, untuk membalas rahmat Allah yang tak terduga, dan tidak dijadikan sebagai cara untuk mempromosikan diri sendiri.”

Yesus, lanjut Paus,“ ingin kita tertarik dengan diri-Nya, dan tentang Injil ” dan tertarik dengan cara yang menghasilkan tindakan kasih yang konkret terhadap saudara-saudari kita yang paling membutuhkan.

Di akhir Angelus, Paus mencatat pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, dan memanjatkan doa agar pertemuan mereka boleh menjadi satu langkah lagi di sepanjang jalan perdamaian – tidak hanya untuk Korea, tapi untuk seluruh dunia.

Paus juga berharap para pekerja menikmati musim panas yang tenang, dan memanjatkan doa bagi mereka yang paling menderita akibat panas musim panas, terutama yang sakit, orang tua, dan mereka yang bekerja di luar rumah.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Christopher Wells/Vatican News)

Tinggalkan Pesan