Paus memberikan homili dalam Misa Pentakosta di Lapangan Santo Petrus (Vatican Media)
Paus memberikan homili dalam Misa Pentakosta di Lapangan Santo Petrus (Vatican Media)

“Roh Kudus adalah spesialis dalam mengubah kekacauan menjadi kosmos (sistem alam semesta yang teratur atau harmonis. Red.), dalam menciptakan keharmonisan. Dia adalah spesialis pencipta keragaman, pengayaan, individualitas. Dialah pencipta keanekaragaman ini dan, pada saat yang sama, Dialah yang membawa keharmonisan dan memberikan persatuan pada keanekaragaman. Dia sendiri yang bisa melakukan dua hal ini.”

Paus Fransiskus memberi homili pada Misa Pesta Pentakosta di Lapangan Santo Petrus, 9 Juni 2019 dengan merenungkan tentang Roh Kudus, yang kata Paus, seperti informasi yang PEN@ Katolik terima dari Kantor Pers Tahta Suci, tidak hanya membawa keharmonisan dalam diri kita tetapi juga di antara kita.

“Roh Kudus menjadikan kita Gereja dengan membangun berbagai bagian menjadi satu bangunan yang harmonis. Santo Paulus menjelaskannya dengan baik saat berbicara tentang Gereja. Dia sering mengulangi satu kata, “rupa-rupa,” rupa-rupa karunia, rupa-rupa pelayanan, rupa-rupa perbuatan” (1 Kor 12: 4-6). Kita berbeda dalam rupa-rupa kualitas dan karunia. Roh Kudus membagikannya secara kreatif, sehingga tidak semuanya identik. Atas dasar keanekaragaman ini, ia membangun persatuan,” kata Paus.

Di dunia saat ini, menurut Paus, kurangnya keharmonisan telah menyebabkan perpecahan mencolok. “Ada yang memiliki terlalu banyak dan ada yang tidak memiliki apa-apa, ada yang ingin hidup sampai seratus tahun dan ada yang bahkan tidak dapat dilahirkan.”

Di era komputer, lanjut Paus, jarak semakin jauh. “Semakin banyak kita menggunakan media sosial, semakin kita jadi kurang sosial. Kita perlu Roh persatuan untuk kembali menghidupkan kita sebagai Gereja, sebagai umat Allah, dan sebagai keluarga manusia. Semoga Dia menghidupkan kita kembali!”

Paus juga mengamati selalu ada godaan untuk membangun “sarang”, untuk berpegang teguh pada kelompok kecil kita, untuk hal-hal dan orang-orang yang kita sukai, guna melawan semua kontaminasi. “Itu hanya langkah kecil dari sarang hingga sekte, bahkan di dalam Gereja,” kata Paus.

“Berapa kali kita mendefinisikan identitas kita bertentangan dengan seseorang atau sesuatu! Sebaliknya, Roh Kudus menyatukan mereka yang jauh, membawa pulang mereka yang tercerai-berai. Dia memadukan nada berbeda dalam keharmonisan, karena di atas segalanya Dia melihat kebaikan. Dia melihat pada individu-individu sebelum melihat kesalahan mereka, pada pribadi-pribadi sebelum melihat tindakan mereka,” lanjut Paus.

Roh Kudus, lanjut Paus, membentuk Gereja dan dunia sebagai tempat dari putra dan putri, saudara dan saudari. “Kata-kata benda ini muncul sebelum ada kata sifat apa pun. Saat ini, melontarkan kata sifat sudah jadi mode dan, sayangnya, bahkan penghinaan. Bisa dikatakan bahwa kita hidup dalam budaya kata sifat yang melupakan kata benda yang menamai realitas segala sesuatu. Tetapi juga budaya penghinaan sebagai reaksi pertama terhadap pendapat yang tidak saya sukai.”

Lalu kita tahu itu berbahaya bagi yang dihina dan bagi yang menghina. “Membalas kejahatan dengan kejahatan, bukanlah cara menjalani hidup. Namun, yang hidup oleh Roh membawa kedamaian di mana ada perselisihan, kerukunan di mana ada konflik. Yang hidup beragama membalas kejahatan dengan kebaikan. Mereka menanggapi kesombongan dengan kelembutan, kebencian dengan kebaikan, teriakan dengan diam, gosip dengan doa, kekalahan dengan dukungan. (PEN@ Katolik/paul c pati)

1 komentar

Tinggalkan Pesan