Pastor Markus Solo SVD (Foto arsip pribadi)
Pastor Markus Solo SVD (Foto arsip pribadi)

Tepat pukul 12.30 WIB, atau 7.30 waktu Roma, terdengar bunyi lonceng berdentang dan pengumuman dalam berbagai bahasa bahwa Radio Vatikan akan menyiarkan Misa dalam bahasa Latin yang diikuti dengan lagu Salam Maria dalam bahasa Latin, karena Misa hari itu memperingati Pesta Santa Perawan Maria Bunda Gereja.

Dan terdengarlah suara seorang imam asal Indonesia memulai Misa itu dalam Bahasa Latin, kecuali Bacaan Pertama yang dibacakan dalam Bahasa Inggris. Misa itu berakhir tepat pukul 13.00, namun ternyata Pastor Markus Solo SVD yang merayakan Misa itu akan memimpin Misa itu selama seminggu.

Misa itu bisa diikuti lewat link http://www.vaticannews.va dengan mengklik mikrofon pada baris kedua di web itu atau tepat di atas gambar utamanya.

“Setelah Misa pertama itu, banyak orang mengirim pesan kepada saya dan mengucapkan terima kasih serta apresiasi. Walaupun Konsili Vatikan II sudah mengubah bahasa Liturgi, tetapi Paus sendiri sampai saat ini, kadang masih merayakan Misa publik dalam bahasa Latin, oleh karena karakter perayaan tertentu yang lebih cocok dengan bahasa asli, atau karena nilai historis perayaan itu,” kata Pastor Markus kepada PEN@ Katolik seusai Misa itu.

“Selama pekan ini, dari 10 Juni sampai 16 Juni, saya akan bertugas merayakan Misa secara ‘live’ di Radio Vatikan,” jelas imam yang sudah 12 tahun berkarya di Vatikan itu. Kantor Pusat Radio Vatikan yang letaknya di depan Lapangan Santo Petrus atau 30 meter dari Kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama, tempat Pastor Markus bekerja, memiliki kapel di lantai dua dengan semua peralatan rekaman untuk perayaan Misa ‘live’ ke seluruh dunia.

Sampai saat ini, setiap pagi pukul 07.30 selalu dirayakan Misa dalam bahasa Latin secara langsung. Ada tiga imam yang merayakan Misa itu secara bergantian setiap minggu yakni Mgr Mario asal Kroasia yang bekerja di Sekretariat Negara Vatikan, Mgr Johannes asal Austria yang bekerja di Kongregasi untuk Doktrin Iman dan Mgr Antoine asal Belanda yang bekerja sebagai Wartawan TV dan Radio di Belanda yang berdomisili di Roma.

Lalu, bagaimana sampai Pastor Markus bisa merayakan Misa bahasa Latin di sana? “Belum lama ini Suster Beatrice, pakar musik dan bahasa Latin kelahiran Kerala, India, yang sudah lebih dari 30 tahun menangani Kapel Radio Vatikan, kebetulan berkenalan dengan saya pada makan siang saat istirahat di Kantin Vatikan,” jawab imam itu.

Suster yang bertugas sebagai Direktur Kapel Radio Vatikan itu sudah sering melihat Pastor Markus bertugas dalam perayaan Misa bersama Paus, tetapi belum sempat mengenalnya secara pribadi. “Pada kesempatan pertemuan makan siang singkat itu, kami berkenalan dan langsung saya ditawarkan untuk sekali merayakan Misa ‘live’ di Kapel Radio Vatikan dalam bahasa Latin,” kata imam itu.

Dengan berat hati Pastor Markus menerima, karena belum pernah merayakan Misa bahasa Latin secara langsung di radio. “Misa pagi di Radio Vatikan sering saya dengar langsung dalam mobil saat ke kantor dari rumah, tetapi tidak setiap hari. Sejak mendapat tawaran itu, saya mulai mendengarnya setiap pagi, karena memang setiap hari menjelang pukul 7.30 saya tinggalkan rumah. Menjelang Misa selesai, saya tiba di tempat parkir Vatikan. Hampir seluruh Misa saya ikuti. Kadang saya duduk berdiam dalam mobil di tempat parkir untuk menanti sampai berkat penutup lalu keluar menuju kantor. Dengan demikian saya terbiasa dan bisa menguasai pengucapan-pengucapan Latin.”

Dua minggu lalu, cerita imam itu, dia ditelepon oleh Suster Beatrice untuk mengisi lowongan. “Semuanya berjalan baik dan berkesan positif, sehingga di dalam sakristi, Suster Beatrice langsung berjabat tangan dengan saya dan meminta kesediaan saya untuk menjadi salah satu imam tetap pada Kapel Radio Vatikan dengan jatah Misa seminggu penuh, bergantian dengan tiga imam itu.”

Perasaan senang bercampur cemas mampir dalam diri Pastor Markus, “karena belum ada jaminan kalau saya bisa selalu punya waktu oleh karena pekerjaan saya memberikan banyak kesempatan untuk bepergian keluar Roma dan Italia.” Tetapi Suster Beatrice menjawab, soal itu bisa diatur dengan tiga kolega lainnya, jelas imam itu.

Lalu apa yang Pastor Markus rasakan saat merayakan Misa itu? “Selama ini saya hanya mendengar secara pasif dalam mobil, tetapi tidak disangka saya sendiri menjadi imam pemimpin Misa kudus di Kapel Radio Vatikan.” Dalam merayakan Misa itu, Pastor Markus mengingat apa yang selalu dikatakan Suster Beatrice, “Rayakanlah Misa seperti Padre selalu merayakannya, tanpa cemas, tanpa merasakan beban apapun.”

Namun, tegas Pastor Markus, “bagaimanapun juga butuh persiapan diri yang lebih dari sebuah Misa dalam bahasa lain dan dalam merayakannya sedikitnya selalu ada pemikiran bahwa Misa ini live dan didengar oleh orang di seluruh dunia.”

Tegasnya, imam itu membawa prinsip, “Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh meninggalkan jeda lama, karena radio bisa berganti frekuensi kalau tidak terisi, dan alokasi waktu Misa 30 menit, bisa lebih kurang, tetapi tidak lebih lama, karena kalau lebih akan berpengaruh pada program berikut.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Misa di katekombe: Pastor Markus Solo SVD minta imam SVD dan suster SSpS fokus pada panggilan

Pastor Markus Solo SVD merasa Deklarasi Roma masih berlanjut di Bali

Pastor Markus Solo: Kunci lenyapkan radikalisme adalah pendidikan bagi yang belum tercemar

Vatikan dan dunia Arab sepakat berhenti gunakan nama Tuhan untuk halalkan kekerasan, terorisme, pembunuhan

Ucapan selamat adalah soal kemanusiaan bukan perkara dogma

Tinggalkan Pesan