Paus dalam Misa Malam Pentakosta berbicara tentang Gambar Bunda Maria Cinta Ilahi yang dipajang di sebelah tempat duduknya. Cinta Ilahi adalah Roh Kudus yang muncul dari Hati Kristus. (Vatican Media)
Paus dalam Misa Malam Pentakosta berbicara tentang Gambar Bunda Maria Cinta Ilahi yang dipajang di sebelah tempat duduknya. Cinta Ilahi adalah Roh Kudus yang muncul dari Hati Kristus. (Vatican Media)

Di malam menjelang Pentakosta, Paus Fransiskus merayakan Misa bersama umat Keuskupan Roma di Lapangan Santo Petrus dan mendorong mereka mengizinkan Roh Kudus memegang tangan mereka dan membawa mereka ke pusat kota untuk mendengar tangisan orang yang membutuhkan keselamatan.

Menyadari perayaan itu merupakan malam hari terakhir Masa Paskah, Paus berkata, pada Pesta Pentakosta, “Yesus berada di tengah kita dan menyatakan dengan suara keras: Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.”

Paus berkata, Roh Kudus muncul dari hati Yesus yang Bangkit, dan mengisi hati kita dengan belas kasihan. “Betapa saya berharap agar orang yang tinggal di Roma mengenal Gereja, mengenal kita,” karena kemanusiaan, belas kasihan, kelembutan yang begitu sangat dibutuhkan di sana, kata Paus.

Paus mengatakan mereka akan merasa at home, di “rumah ibu” tempat mereka selalu disambut dan tempat mereka selalu bisa pulang. “Mereka akan selalu merasa disambut, didengarkan, dipahami, dibantu mengambil langkah menuju kerajaan Allah … Karena seorang ibu tahu caranya, bahkan ketika anak-anak sudah dewasa,” kata Paus.

Pemikiran-pemikiran tentang aspek keibuan Gereja ini mengingatkan Paus pada 75 tahun lalu, 11 Juni 1944, saat Paus Pius XII secara khusus bersyukur dan memohon kepada Perawan Maria untuk melindungi kota Roma. Itu dilakukan di Gereja Santo Ignatius. Gambar Bunda Maria Cinta Ilahi yang dipajang di belakang altar pada Misa Malam Pentakosta itu dibawa dari sana. “Cinta Ilahi adalah Roh Kudus yang muncul dari Hati Kristus,” jelas Paus.

Merenungkan bagaimana orang-orang di zaman kita, seperti di setiap zaman, berusaha membangun “kota dan menara yang menjulang ke langit,” Paus menyesali proyek-proyek manusiawi semacam itu di mana tidak ada ruang bagi Allah.

Paus mengatakan, sering kali kita begitu terbawa oleh konstruksi-konstruksi kita sendiri yang memberi ilusi tentang surga sehingga akhirnya kita kehilangan pandangan akan cakrawala sejati. “Sebagai gantinya, Roh Kudus turun ke dunia dari tempat Tinggi, dari rahim Tuhan, dari mana Sang Putra berasal, dan membuat semua hal baru,” kata Paus.

Apa yang kita rayakan bersama hari ini di kota Roma, jelas Paus, adalah keutamaan Roh “yang membuat kita terdiam di hadapan rencana Tuhan yang tidak dapat diprediksi, dan kemudian memenuhi kita dengan sukacita.”

Jadi, lanjut Paus, “Inilah yang Allah pikiran bagi kita! Perjalanan sebagai Gereja ini, proses perubahan ini, Keluaran ini, kedatangan di tanah terjanji ini, kota Yerusalem, pintu-pintu yang selalu terbuka untuk semua orang, tempat berbagai bahasa manusia tersusun dalam kerukunan Roh.”

Paus berkata, “tangisan orang-orang yang tinggal di kota ini dan tangisan ciptaan secara keseluruhan, tidak lain adalah tangisan Roh: itulah kelahiran dunia baru.”

“Jika kesombongan dan dugaan superioritas moral tidak mengurangi pendengaran kita, kita akan menyadari bahwa di balik tangisan begitu banyak orang itu tidak ada yang lain selain tangisan otentik Roh Kudus,” lanjut Paus.

Menurut Paus, Rohlah yang mendorong kita untuk tidak menjadi puas, untuk berusaha menempatkan diri kembali ke jalan; Rohlah yang akan menyelamatkan kita dari setiap “reorganisasi” keuskupan.

“Maka, marilah membiarkan Roh memegang tangan kita dan membawa kita ke pusat kota untuk mendengar tangisannya,” kata Paus Fransiskus, namun agar ini bisa terjadi, hati kita harus “penuh perhatian dan peka terhadap penderitaan dan impian pria dan wanita, terhadap mereka yang menangis diam-diam saat mereka mengangkat tangan mereka ke Surga, karena mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipegang di bumi.”

Paus mengakhiri homili dengan menjelaskan, untuk mendengarkan tangisan kota Roma, kita perlu Tuhan memegang tangan kita dan membuat kita “turun” ke tengah saudara-saudari yang tinggal di kota kita.

“Ini tentang membuka mata dan telinga, tetapi di atas segalanya tentang hati, mendengarkan dengan hati. Dengan begitu, kita akan benar-benar berada dalam perjalanan,” kata Paus. Hanya di saat itu, kata Paus, kita akan merasakan api Pentakosta dalam diri kita sendiri, api yang mendorong kita menjerit kepada pria dan wanita di kota ini bahwa perbudakan mereka sudah berakhir dan bahwa Kristuslah yang menjadi jalan yang mengarah ke kota Surga. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Linda Bordoni/Vatican News)

Tinggalkan Pesan