(Foto File) Umat Katolik menghadiri Misa in Kaya, Burkina Faso, dekat gereja yang diserang 26 Mei 2019. (SESAME PICTURES)
(Foto File) Umat Katolik menghadiri Misa in Kaya, Burkina Faso, dekat gereja yang diserang 26 Mei 2019. (SESAME PICTURES)

Yang terbaru dari serangkaian serangan teroris terhadap orang Kristen terjadi hari Minggu pagi, 26 Mei 2019, di Burkina Faso utara. Menurut media setempat, orang-orang bersenjata menyerbu gereja Katolik di kota Toulfe dan melepaskan tembakan dalam Misa. Empat umat tewas dan dua terluka.

Uskup Ouahigouya Mgr Justin Kientega menggambarkan serangan itu sebagai “serangan teroris”. Karena serangan itu, kata seorang penduduk setempat, kepanikan terjadi di desa itu dan penduduk berlindung di rumah-rumah mereka atau di semak-semak.

Pekan lalu, penyerang membunuh empat orang Katolik yang ikut dalam perarakan di Zimtenga. Sebelumnya, masih di bulan Mei, orang-orang bersenjata membunuh seorang imam dan lima umat paroki di Dablo. Serangan terhadap gereja Protestan di Silgadji akhir April menewaskan enam orang.

Tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas kekerasan itu, tetapi kecurigaan jatuh pada militan Islam. Pemerintah menyalahkan kelompok teroris tanpa disebutkan namanya yang beroperasi di seluruh wilayah Sahel. Ekstremis Islam yang berbasis di Mali sering melakukan serangan di negara tetangga, Burkina Faso dan Niger.

Meningkatnya kekerasan anti-Kristen mengancam putusnya hubungan damai tradisional antara umat Muslim dan umat Kristen di Burkina Faso.

Uskup Kaya Mgr Theophile Nare mengatakan kepada Vatican News bahwa umat Kristen tidak ingin dikunci dalam spiral kekerasan, meskipun rasa tidak aman meningkat di wilayah itu. “Saya melihat ini sebagai bagian strategi jihadis, yaitu mengobarkan ketegangan antara umat [Kristen dan Muslim] melalui tindakan mereka,” kata uskup. “Saya kira visi penggeraknya adalah memicu perang antaretnis, antaragama, dan antarkomunal.”

Tetapi, tegas Uskup Nare, umat Kristen ingin menolak perangkap kekerasan yang membuat umat Kristen dan Islam saling bertentangan. “Ini karya kelompok radikal Muslim,” kata uskup.

Menurut Pusat Studi Strategis Afrika, serangan di wilayah Sahel meningkat dari tiga (2015) menjadi 137 (2018). (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Devin Watkins/Vatican News)

Artikel Terkait:

Seorang imam Salesian Spanyol terbunuh di Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Para uskup di Afrika Barat berikrar bekerja sama melawan terorisme

Kesedihan Paus atas serangan terhadap gereja Katolik di Burkina Faso

Paus berdoa untuk para korban serangan pertama terhadap tempat ibadah di Burkina Faso

Paus dalam Urbi et Orbi Paskah: Kristus yang bangkit menyinari kegelapan konflik

Tinggalkan Pesan