Paus Fransiskus
Paus Fransiskus

Paus Fransiskus menyatakan kepedihan atas serangan orang-orang bersenjata di sebuah gereja Katolik di Burkina Faso setelah Misa Minggu yang menewaskan enam orang, termasuk seorang imam.

Direktur sementara Kantor Pers Takhta Suci Alessandro Gisotti memposting tweet yang mengungkapkan kesedihan Paus Fransiskus. Dikatakan, “Bapa Suci sedih mendengar berita serangan terhadap gereja di Dablo, Burkina Faso. Dia berdoa untuk para korban, untuk keluarga mereka dan untuk seluruh umat Kristen di negara ini.”

Serangan itu terjadi di kota kecil Dablo, sekitar 200 kilometer utara ibukota, Ouagadougou. Umat ​​beriman sedang meninggalkan gereja sekitar jam 9 pagi ketika sekitar 20 tersangka jihadis dengan sepeda motor mengelilingi gereja.

Dari laporan para saksi mata, tampaknya target mereka adalah pastor asal Burkina berusia 34 tahun, Pastor Simeon Yampa, yang bertanggung jawab atas dialog antaragama di keuskupannya. Ketika dia mencoba melarikan diri, para teroris mengejar dan membunuhnya.

Kembali ke gereja, mereka memaksa umat beriman untuk berbaring di tanah, memilih lima dari mereka dan menembak mereka.

Walikota Dablo, Ousmane Zongo, mengatakan kepada Reuters bahwa para penyerang kemudian membakar gereja, menjarah sebuah apotek dan beberapa toko lain, dan pergi.

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, tetapi dari serangan-serangan itu terlihat tanda-tanda kelompok ekstrimis Islam yang dikenal aktif di daerah itu.

Zongo mengatakan, kota itu “dipenuhi kepanikan” dan warga “bersembunyi di rumah.” Sebuah pernyataan pemerintah mengatakan, “kelompok-kelompok teroris sekarang menyerang agama dengan tujuan mengerikan untuk memecah belah kita.”

Itulah serangan kedua terhadap umat Kristen dalam dua minggu di negara Afrika Barat yang semakin dibanjiri para jihadis. Tanggal 29 April, sebuah gereja Protestan diserang, menewaskan seorang pendeta Protestan bersama lima umatnya di Silgadji, di Provinsi Soum. Para penyerang kemudian melarikan diri dengan sepeda motor ke Mali, yang perbatasannya hanya berjarak seratus kilometer.

Serangan di Dablo terjadi dua hari setelah operasi pasukan Perancis membebaskan empat sandera yang diculik di Burkina pekan lalu. Dua tentara Perancis tewas dalam aksi itu.

Sekitar 55% hingga 60% populasi Burkina Faso beragama Islam, seperempat penduduknya beragama Kristen, kebanyakan Katolik. Kedua kelompok itu umumnya hidup dalam damai, tetapi negara ini semakin dibuat tidak stabil oleh para jihadis dari seberang perbatasan di Mali. Mereka menyerang dan menculik orang asing.

Sebuah laporan oleh Pusat Studi Strategis Afrika menunjukkan bahwa jumlah insiden kekerasan di negara Afrika Barat terkait dengan afiliasi lokal Al Qaeda dan ISIS naik dari 24 di tahun 2017 menjadi 136 di tahun 2018.

Akibat kerusuhan tahun ini, lebih dari 100.000 orang di Burkina Faso hidup terlantar, kata PBB.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus berdoa untuk para korban serangan pertama terhadap tempat ibadah di Burkina Faso

Paus dalam Urbi et Orbi Paskah: Kristus yang bangkit menyinari kegelapan konflik

Tinggalkan Pesan