Paus Fransiskus bertemu para biksu Buddha di Yangon, Myanmar, 29 November 2017.  (AFP)
Paus Fransiskus bertemu para biksu Buddha di Yangon, Myanmar, 29 November 2017. (AFP)

Umat Buddha dan Kristen di dunia diajak bekerja sama menegakkan dan meningkatkan hak-hak dan martabat perempuan dan anak perempuan. Ajakan itu disampaikan Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) Vatikan dalam pesan yang dirilis 11 Mei 2019 untuk Pesta umat Buddha, Waisak, yang akan dirayakan di sebagian besar negara,19 Mei.

Waisak yang kadang-kadang disebut “Ulang Tahun Buddha” sebenarnya untuk memperingati kelahiran, pencerahan dan kematian Buddha Gautama, dan dirayakan pada hari berbeda di berbagai negara.

Pesan berjudul, “Umat Buddha dan Kristen: Meningkatkan Martabat dan Hak-Hak yang Sama dari Perempuan dan Anak Perempuan,” ditandatangani oleh Sekretaris PCID Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot. Pesan itu diilhami oleh Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama yang ditandatangani di Abu Dhabi, 4 Februari 2019 oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Sheikh Ahmad Al-Tayyeb dari Al-Azhar.

Dokumen Abu Dhabi itu berisi beberapa masalah, antrara lain seruan tentang pentingnya semua orang di mana pun meningkatkan martabat perempuan dan anak-anak.

Pesan Waisak itu mengenang ajaran-ajaran Yesus dan Buddha dan kedua agama itu tentang martabat setara antara laki-laki dan perempuan dan peran penting kedua agama itu dalam memajukan perempuan. Namun, menurut dokumen itu, terlalu sering perempuan mengalami diskriminasi dan penganiayaan dan terkadang interpretasi agama menggambarkan perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Uskup Ayuso mencatat, kekerasan terhadap perempuan dan gadis-gadis adalah masalah global “yang diderita sepertiga populasi perempuan dunia.”

Situasi konflik, pasca konflik dan perpindahan masyarakat mendukung kekerasan semacam itu. Perempuan dan gadis-gadis sangat rentan terhadap perdagangan manusia dan perbudakan modern, dan bentuk-bentuk kebrutalan ini secara negatif dan sering kali tidak dapat diubah memengaruhi kesehatan mereka.

Untuk memerangi ketidakadilan seperti itu, Vatikan menyarankan antara lain agar perempuan dan gadis muda diberikan akses pendidikan, dijamin bayaran sesuai pekerjaan yang sama, agar mereka dijamin mendapatkan warisan dan hak milik, agar perwakilan mereka yang kecil dalam politik, pemerintahan, dan pengambilan keputusan bisa diatasi dan agar masalah mas kawin diselesaikan.

Hak dan martabat setara di kalangan perempuan, katanya, juga perlu ditingkatkan dalam dialog antaragama di mana jumlah mereka lebih sedikit daripada laki-laki.

Uskup Ayuso mencatat, dokumen Abu Dhabi menyerukan perlindungan perempuan dari eksploitasi dan dari perlakuan sebagai barang dagangan atau objek kesenangan atau keuntungan finansial.

Dalam dokumen itu, Paus dan Imam Besar menyerukan diakhirinya “semua praktik tidak manusiawi dan vulgar yang merendahkan martabat perempuan,” dan modifikasi undang-undang yang menghalangi perempuan menikmati sepenuhnya hak-hak mereka.

Dewan Kepausan meminta otoritas dan para pemimpin agar mendorong pengikut-pengikut mereka untuk menjunjung tinggi martabat perempuan dan gadis muda, dan untuk membela hak asasi manusia mereka yang fundamental.

Dewan juga mendesak peningkatan dan perlindungan institusi kehidupan pernikahan, keibuhan dan keluarga.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Robin Gomes/Vatican News)

 

Tinggalkan Pesan