cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (47)
Paus Fransiskus mencium salib dalam perayaan Jumat Agung (Vatican Media)

Puluhan ribu umat beriman dari Roma dan seluruh dunia ikut bersama Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus pada Jumat Agung, 19 April 2019, untuk memperingati Sengsara dan Kematian Tuhan Kita Yesus Kristus dan mendengarkan homili tentang “Ia dihina dan dihindari orang” (Yes 53:3) oleh Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap.

Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam setahun di mana Misa Kudus tidak dirayakan. Sebagai gantinya, Gereja merayakan Liturgi Sengsara Tuhan, yang terdiri dari tiga bagian: Liturgi Sabda, Penghormatan Salib, dan Perjamuan Suci (komuni).

Pastor Cantalamessa dalam homili mengatakan “Manusia yang penuh derita” dalam nubuat Yesaya ini diberi “nama dan wajah” dalam Sengsara: “nama dan wajah Yesus dari Nazareth.” Hari ini, kata Pastor Cantalamessa, “kami ingin merenungkan Orang Yang Tersalib khususnya dalam kapasitasnya sebagai prototipe dan perwakilan dari semua orang yang ditolak, yang dicabut hak warisnya, dan yang ‘dibuang’ dari bumi, mereka yang kita palingkan muka agar tidak terlihat.”

Pastor Cantalamessa mengatakan, “Di kayu Salib, Yesus dari Nazaret menjadi simbol umat manusia yang ‘dihina dan dicerca.’” Ini bukanlah arti terpenting dari Salib, kata imam itu. Makna paling penting adalah “spiritual dan mistis, bahwa kematian menebus dunia dari dosa.” Namun, makna yang bisa ditemukan dalam Yesus sebagai wakil orang hina dan diremehkan “adalah makna yang dapat diakui dan diterima oleh semua orang, baik umat beriman maupun yang tidak beriman.”

Kematian Kristus di Kayu Salib bukanlah akhir kisah Injil. Kematian Yesus “mengatakan sesuatu yang lain, bahwa Yang Tersalib telah bangkit,” jelas imam itu. Pesta Paskah, lanjut imam itu, “adalah pesta pembalikan [peran] yang diatur oleh Allah dan dilaksanakan dalam Kristus.” Jadi, kata imam itu, kita bisa mengatakan “kepada orang miskin dan orang buangan … Paskah adalah pesta kalian.”

Pastor Cantalamessa juga berbicara kepada orang-orang kaya di dunia, mereka yang berada di “sisi lain persamaan,” dengan mengingatkan mereka bahwa mereka juga, seperti semua pria dan wanita, pada suatu hari akan menghadapi kematian.

Gereja, kata imam itu, “telah menerima mandat dari pendirinya untuk berdiri bersama yang miskin dan lemah.” Selain meningkatkan perdamaian, kata imam itu, “Gereja juga bertugas untuk tidak tinggal diam menghadapi situasi semua orang. Tidak ada agama bisa tetap acuh tak acuh” terhadap nasib orang miskin, terutama kalau “ada orang istimewa” memiliki lebih dari yang mereka butuhkan, “karena Tuhan semua agama tidak acuh terhadap hal ini.”

Pastor Cantalamessa mengakhiri homili dengan mengingat, nubuat tentang “penghinaan terhadap Hamba Allah diakhiri dengan gambaran tentang pemuliaan terakhir-Nya.” Dua hari lagi, kata imam itu, “dengan pengumuman kebangkitan Yesus, liturgi akan memberi nama dan wajah kepada sang pemenang ini. Mari berjaga dan bermeditasi penuh pengharapan.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Christopher Wells/Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus membasuh kaki para tahanan dalam Misa Perjamuan Tuhan

Paus Fransiskus kepada para imam: Kita diurapi untuk mengurapi

Paus di Minggu Palma: Yesus tunjukkan cara hadapi saat sulit dengan serahan diri kepada Bapa

Vatican Media
Vatican Media

Tinggalkan Pesan