cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (48)
Paus Fransiskus duduk di depan Colosseum (Vatican Media)

Paus Fransiskus memimpin Jalan Salib dengan latar belakang ikon Colosseum Roma pada hari Jumat Agung, dan merenungkan meditasi-meditasi yang menunjukkan betapa Kristus terus menderita di dunia saat ini.

Via Crucis adalah devosi yang dipraktikkan oleh umat Katolik selama berabad-abad. Tradisi merayakan Jalan Salib di Colosseum Roma telah ada sejak Paus Benediktus XIV di abad ke-18. Santo Paus Paulus VI menghidupkan kembali praktik ini tahun 1964.

Setiap tahun seorang yang berbeda dipilih untuk mempersiapkan teks-teks yang menyertai refleksi singkat di setiap perhentian dari 14 perhentian Jalan Salib. Santo Paus Yohanes Paulus II menulisnya sendiri untuk Tahun Yubileum 2000, kemudian Joseph Ratzinger yang waktu itu masih kardinal melakukan hal yang sama tahun 2005.

Tahun ini, Paus Fransiskus meminta seorang biarawati untuk mempersiapkan meditasi-meditasi itu. Dia adalah Suster Eugenia Bonetti, seorang Misionaris Consolata dan Presiden Asosiasi “Slaves no more” (Tidak ada lagi budak), yang terkenal karena karyanya melawan perdagangan manusia. Faktanya, refleksi Suster Bonetti menyoroti penderitaan orang-orang yang menderita bentuk-bentuk baru penyaliban dalam masyarakat saat ini.

Perhentian Pertama mengajak kita berdoa bagi yang berkuasa agar mereka mendengar seruan orang miskin, tunawisma, kaum muda, kaum migran, dan anak-anak. Karena tidak lagi mampu melihat mereka yang membutuhkan, kita meminta Tuhan untuk membantu kita mencintai, peka terhadap air mata, penderitaan, dan teriakan kesakitan orang lain.

Dalam meditasi-meditasi Jalan Salib tahun ini, kita ditantang mengenali anak-anak yang dieksploitasi di darat dan laut, yang dibeli dan dijual untuk tubuh mereka oleh pedagang manusia. Tentang perdagangan manusia, Suster Bonetti menulis, kita perlu mengakui betapa kita semua bertanggung jawab atas masalah ini, dan betapa kita semua harus menjadi bagian dari solusi.

Di Perhentian Kesembilan, ketika Yesus jatuh untuk ketiga kalinya, karena kelelahan dan terhina di bawah beban salib-Nya, kita ikut merasakan kehinaan banyak gadis muda yang dipaksa turun ke jalan oleh para pedagang budak. Itulah buah budaya buang yang mengobyektifkan orang dan memperlakukan mereka sebagai sampah.

Yesus yang dilucuti pakaian-Nya dapat dibandingkan dengan semua anak dan orang muda yang dilucuti martabat mereka, diperkecil jadi barang dagangan, dibeli dan dijual. Renungan-renungan Via Crucis Suster Bonetti mengajak kita berpikir tentang berhala kekuasaan dan uang yang tak habis-habisnya, dan cara mereka menipu kita untuk meyakini bahwa segala sesuatu dapat dibeli.

Perhentian Terakhir tentang Yesus yang dimakamkan membangkitkan momok “kuburan-kuburan baru” saat ini: gurun dan laut. Pria, wanita, dan anak-anak, yang tidak bisa atau tidak mau kita menyelamatkan, menemukan tempat peristirahatan abadi mereka di sana.

Meditasi Jalan Salib tahun ini diakhiri dengan harapan agar kematian Yesus menyadarkan para pemimpin dunia akan peran mereka dalam membela setiap orang. Semoga kebangkitan-Nya menjadi mercusuar harapan, sukacita, kehidupan baru, penerimaan dan persekutuan antara semua orang dan semua agama.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus rayakan Sengsara Tuhan dan dengarkan homili tentang “Ia dihina dan dihindari orang”

Paus Fransiskus membasuh kaki para tahanan dalam Misa Perjamuan Tuhan

Paus Fransiskus kepada para imam: Kita diurapi untuk mengurapi

Paus di Minggu Palma: Yesus tunjukkan cara hadapi saat sulit dengan serahan diri kepada Bapa

Suster Eugenia Bonetti, seorang Misionaris Consolata dan Presiden Asosiasi “Slaves no more” (Tidak ada lagi budak)
Suster Eugenia Bonetti, seorang Misionaris Consolata dan Presiden Asosiasi “Slaves no more” (Tidak ada lagi budak)

Tinggalkan Pesan