cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (10)
Tanpa Kekerasan

Prakarsa Katolik Tanpa Kekerasan dari Dikasteri Vatikan untuk Peningkatan Pengembangan Manusia Integral dan Pax Christi International menyelesaikan lokakarya dengan tema “Jalan Tanpa Kekerasan: Menuju Budaya Damai.” Tujuan utama lokakarya 4-5 April itu adalah untuk mengkonfirmasi komitmen tanpa kekerasan dan perdamaian di pihak Gereja, para pemimpin agama, dan para praktisi perdamaian.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan di akhir lokakarya itu menggambarkan bagaimana “para peserta terlibat dalam dialog tentang akar-akar kekerasan, harapan akan perdamaian dan rekonsiliasi, serta merefleksikan langkah-langkah pertobatan untuk bertindak tanpa kekerasan. Mereka mencatat, tanpa kekerasan bukan hanya metode tetapi cara hidup, cara untuk melindungi dan peduli pada kondisi-kondisi kehidupan hari ini dan besok.”

Pernyataan itu mengutip Sekretaris Dikasteri Vatikan itu, Mgr Bruno Marie Duffé, yang mengatakan: “Percakapan kita tentang tanpa kekerasan dan perdamaian memenuhi hati dan pikiran dengan mempertimbangan martabat setiap orang – orang muda, pria dan wanita, orang miskin, warga  negara dan para pemimpin.” Tanpa kekerasan dan kedamaian, lanjutnya, “memanggil kita untuk bertobat, menerima dan memberi, berkumpul dan berharap.”

Wakil presiden Pax Christi International, Marie Dennis, juga dikutip dalam pernyataan itu. Dia menggambarkan lokakarya itu sebagai “langkah signifikan dan positif dalam karya Prakarsa Tanpa Kekerasan Katolik.” Dikatakan, “Kami tersentuh oleh intervensi semua peserta, yang menegaskan kembali pentingnya tanpa kekerasan yang berakar pada rasa hormat, kesabaran, dan kekuatan spiritual.”

Peserta lokakarya itu berasal dari 21 negara dan termasuk para Uskup, Uskup Agung, praktisi perdamaian, teolog, ilmuwan sosial, pendidik, dan mereka yang berada dalam pelayanan pastoral. Prefek Dikasteri itu, Kardinal Peter Turkson, juga hadir, juga Kardinal Joseph Tobin dari Newark di Amerika Serikat.

Pernyataan itu diakhiri dengan konfirmasi bahwa peserta bermaksud meneruskan dialog dan penelitian. “Refleksi mereka akan dibagikan kepada Bapa Suci, dengan harapan akan terbitnya ensiklik yang membahas masalah-masalah dan tantangan-tantangan ini dan meningkatkan prakarsa-prakarsa tanpa kekerasan sebagai cara untuk mediasi, hak, harapan, dan cinta.”

Dalam Seruan Apostoliknya Gaudete et exultate, Paus Francis meminta kita semua menjadi “pengrajin perdamaian.” Membangun perdamaian, kata Paus, “adalah kerajinan yang menuntut ketenangan, kreativitas, kepekaan, dan keterampilan.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan