Paus Fransiskus merayakan Misa Rabu Abu di Basilika Santa Sabina, Roma, 1 Maret    2017. (Foto oleh  Vatican Pool/Getty Images)
Paus Fransiskus merayakan Misa Rabu Abu di Basilika Santa Sabina, Roma, 1 Maret 2017. (Foto oleh Vatican Pool/Getty Images)

Paus Fransiskus meminta umat Kristiani untuk lambat dalam kehidupan serba cepat dan seringkali tanpa arah dan berpuasa dari hal-hal tidak perlu yang mengganggu kita memperhatikan Prapaskah yang digambarkan sebagai “panggilan untuk bangun bagi jiwa.”

Paus berbicara dalam homili Rabu Abu dengan pemberkatan dan pengenaan abu yang terjadi, sesuai tradisi, di Basilika Santa Sabina di Bukit Aventino, Roma, pusat Ordo Dominikan (OP), 6 Maret 2019. Menurut Paus, panggilan untuk bangun itu disertai pesan yang Tuhan nyatakan melalui bibir-bibir nabi: “Kembalilah kepadaku.” Jika kita harus kembali, kata Paus, itu berarti kita telah berkelana.

“Prapaskah adalah waktu untuk menemukan kembali arah kehidupan. Karena dalam perjalanan hidup, seperti dalam setiap perjalanan, yang menjadi masalah bukanlah tidak bisa melihat tujuan,” kata Paus seraya mengatakan kalau bingung dalam perjalanan, kita tak akan jauh. Paus mendorong umat beriman untuk bertanya pada diri sendiri apakah mereka sedang berupaya jalan terus ataukah  puas dengan kehidupan saat ini dan hanya berpikir untuk merasa baik, menyelesaikan beberapa masalah dan bersenang-senang.

“Apa jalannya?” tanya Paus, “Apakah mencari kesehatan, yang banyak orang katakan datang pertama tetapi akhirnya berlalu? Bisakah itu menjadi harta dan kesejahteraan?” Namun paus menegaskan bahwa kita tidak berada di dunia untuk itu, “Tuhan adalah tujuan perjalanan kita di dunia ini. Arahnya harus kepada Dia.”

Paus menjelaskan, tanda abu yang kita terima pada Rabu Abu adalah tanda yang membantu kita menemukan arah. “Itulah pengingat bahwa dari banyak hal yang memenuhi pikiran kita, yang kita kejar dan khawatirkan setiap hari, tidak ada akan tersisa. Tidak peduli seberapa keras kita bekerja, kita tidak akan membawa kekayaan dari kehidupan ini.”

Realitas duniawi, “memudar laksana debu di tengah angin. Harta bersifat sementara, kekuasaan berlalu, kesuksesan berkurang,” kata Paus seraya menambahkan, “Budaya penampilan yang lazim saat ini, yang membujuk kita untuk hidup untuk hal-hal sementara, adalah tipuan besar. Laksana api: sekali berakhir, hanya abu yang tersisa,” kata paus.

Paus berkata, “Prapaskah adalah waktu untuk membebaskan diri dari ilusi mengejar debu” dan untuk menemukan kembali bahwa “kita diciptakan untuk Tuhan, bukan untuk dunia; untuk keabadian surga, bukan untuk tipuan duniawi; untuk kebebasan anak-anak Allah, bukan untuk perbudakan. Kini kita harus bertanya pada diri sendiri: Di ​​mana saya? Apakah saya hidup untuk api atau untuk debu?”

Paus mengingatkan umat beriman bahwa Injil mengusulkan tiga langkah yang harus dilakukan tanpa kemunafikan dan kepura-puraan: amal, doa, puasa. Paus mengatakan itulah praktik yang membawa kita kembali ke tiga realitas yang tidak hilang: “Doa menyatukan kita kembali kepada Allah; amal, untuk sesama kita; puasa untuk diri kita sendiri.” Dijelaskan, “Tuhan, sesama saya, kehidupan saya” adalah kenyataan yang tidak hilang dan kita harus berinvestasi di dalamnya.

Masa Prapaskah, kata Paus, mengajak kita untuk fokus, “pertama-tama kepada Yang Mahakuasa, dalam doa, yang membebaskan kita dari kehidupan horizontal dan duniawi tempat kita menemukan waktu untuk diri sendiri tapi melupakan Allah. Prapaskah kemudian mengajak kita fokus kepada orang lain, dengan amal yang membebaskan kita dari kesombongan memiliki dan berpikir bahwa segala sesuatunya hanya baik kalau baik untuk saya. Akhirnya, Prapaskah mengajak kita melihat ke dalam hati kita, dengan puasa, yang membebaskan kita dari keterikatan pada sesuatu dan dari keduniawian yang mematikan hati. Doa, amal, puasa: tiga investasi untuk harta yang bertahan lama.”

Bapa Suci juga merefleksikan kebutuhan kita akan arahan karena kita berisiko dibingungkan oleh penampilan luar, oleh uang, karier atau hobi – semua hal – kata Paus, yang dapat memperbudak kita dan menyebabkan kita kehilangan arah.

“Padahal jika hati kita melekat pada yang tidak lenyap, kita menemukan kembali diri kita sendiri dan dibebaskan,” kata Paus seraya menambahkan bahwa masa puasa adalah masa rahmat yang membebaskan hati dari kesombongan. “Itulah saat penyembuhan dari kecanduan yang menggoda kita. Itulah saat memperbaiki pandangan kita pada apa yang ada.”

Paus mengakhiri homili dengan mengajak umat Kristiani memperbaiki pandangan mereka terhadap Yang Tersalib dengan mengatakan “Yesus di kayu salib adalah panduan kehidupan, yang mengarahkan kita ke surga.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Linda Bordoni dari Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus ke Santa Sabina, pusat Ordo Dominikan, untuk rayakan awal masa Prapaskah

Sesuai Tradisi Paus akan rayakan Misa Rabu Abu di Basilika Santa Sabina, pusat Ordo Dominikan

Paus Fransiskus kembali ke Basilika Santa Sabina untuk merayakan Misa Rabu Abu

Paus ajak umat berhenti sebentar melihat dan kembali pada kelembutan Tuhan saat Prapaskah

Basilika Santa Sabina di Bukit Adventino Roma gereja induk Ordo Dominikan

Tinggalkan Pesan