Dalam sesi pembukaan pertemuan tentang Perlindungan Anak di Bawah Umur dalam  Gereja di Vatikan, 21 Februari 2019, para waligereja mendengarkan cerita-cerita yang direkam sebelumnya dari para penyintas pelecehan seksual yang dilakukan klerus. (Foto CNS/Evandro Inetti, pool)
Dalam sesi pembukaan pertemuan tentang Perlindungan Anak di Bawah Umur dalam Gereja di Vatikan, 21 Februari 2019, para waligereja mendengarkan cerita-cerita yang direkam sebelumnya dari para penyintas pelecehan seksual yang dilakukan klerus. (Foto CNS/Evandro Inetti, pool)

Hari pertama pertemuan “Perlindungan Anak-Anak di Bawah Umur dalam Gereja,” 21 Februari 2019, ditampilkan lima kesaksian dari penyintas (orang-orang yang selamat) dari pelecehan seksual yang dilakukan klerus dari seluruh dunia.

Kesaksian pertama diberikan oleh seorang pria dari Chili, Amerika Selatan. Dia diminta untuk bicara tentang “rasa sakit akibat pelecehan seksual.” Tapi, dia memilih tidak melakukannya. Karena, katanya, “semua orang tahu bahwa pelecehan seksual menyisakan konsekuensi luar biasa bagi semua orang … konsekuensinya jelas, dalam semua aspek, dan seumur hidup.”

Sebagai gantinya, kata pria itu, “saya mau bicara tentang diri saya sebagai seorang Katolik, tentang yang terjadi pada diri saya, tentang yang ingin saya katakan kepada para uskup.”

Kesaksian pria itu bersama empat penyintas lainnya ditayangkan dalam bentuk video. Pria yang memilih anonim itu mengatakan bahwa untuk seorang Katolik, “hal yang paling sulit adalah berbicara tentang pelecehan seksual.” Yang pertama dia pikirkan saat mengalami hal itu adalah pergi, “menceritakan segalanya kepada Gereja Bunda Suci,” karena dia percaya mereka akan “mendengarkan” dan “menghormatinya.”

Namun, lanjutnya, “mereka memperlakukan saya sebagai pembohong, mereka berpaling dan mengatakan bahwa saya, dan yang lainnya, adalah musuh Gereja.” Dia tahu bahwa Gereja sedang membahas cara “mengakhiri fenomena ini, cara mencegahnya agar tidak terjadi berulang kali, dan cara memperbaiki semua kejahatan ini.”

Pertama-tama, kata pria itu, “pengampunan yang dipaksakan tidak ada gunanya. Para korban perlu dipercaya, dihormati, dirawat dan disembuhkan.” Dia lalu mengatakan kepada para uskup, “Kalian yang perlu memperbaiki apa yang telah dilakukan terhadap para korban.” Karena, jelasnya, “kalian adalah dokter jiwa, namun, hanya sedikit pengecualiannya, kalian telah diubah – dalam beberapa kasus – menjadi pembunuh jiwa, menjadi pembunuh iman.”

Permohonan terakhirnya adalah kepada mereka yang menghalangi pemulihan kepercayaan dalam Gereja. Dia minta supaya “mereka yang tidak ingin mendengarkan Roh Kudus dan yang ingin terus menutup-nutupi, tinggalkan Gereja” guna “memberi jalan kepada Gereja baru, Gereja yang diperbaharui dan Gereja yang sama sekali bebas dari pelecehan seksual.” Dia berharap agar “kita bekerja dengan keadilan” untuk menghilangkan “kanker Gereja” ini karena, pengrusakannya “adalah apa yang diinginkan setan.”

Kesaksian video kedua dari seorang ibu dari Afrika. Menjawab pertanyaan “Apa yang paling menyakitimu dalam kehidupan?” dia mengatakan, “Sejak usia 15 tahun saya melakukan hubungan-hubungan seksual dengan seorang imam. Ini berlangsung selama 13 tahun.”

Dia menceritakan bagaimana dia “hamil tiga kali” dan bagaimana imam itu membuatnya “melakukan aborsi tiga kali, karena dia tidak ingin memakai kondom atau alat kontrasepsi.” Penyintas itu berbicara tentang pemukulan yang akan dia terima kalau menolak berhubungan seks dengannya. Dia berbicara tentang fakta bahwa dia tidak diperbolehkan memiliki pacar, sekali lagi, karena dia akan memukulinya.

Awalnya, kata perempuan itu, “saya sangat percaya kepadanya sehingga saya tidak tahu dia bisa melecehkan saya.” Perempuan itu sepenuhnya bergantung kepadanya secara ekonomi, dan itu, katanya, adalah syaratnya. “Dia memberi saya semua yang saya inginkan, kalau saya menerima seks; kalau tidak, dia akan memukul saya.”

Setelah mengalami begitu banyak penghinaan, katanya, dia tidak tahu bagaimana masa depannya. “Saya merasa hidup saya hancur,” katanya.

Pesannya kepada para uskup adalah cinta. “Kalau seseorang mencintai seseorang, mereka memikirkan masa depan mereka, tentang kebaikan mereka.” Para imam dan kaum religius, katanya, “punya cara membantu dan pada saat yang sama juga menghancurkan.” Mereka, lanjutnya, “harus berperilaku seperti pemimpin, seperti orang bijak.”

Semua yang muncul dalam video itu meminta Gereja untuk belajar mendengarkan; memandang Yesus sebagai contoh. Imam religius dari Eropa Timur yang memberikan kesaksiannya sebagai penyintas mengatakan bahwa dia bersyukur kepada Tuhan, dia bersyukur berada di Gereja, dan bahwa banyak teman-temannya yang merupakan imam membantunya. Namun, meskipun dia sudah berupaya menghubungi uskupnya, 8 tahun kemudian, suratnya masih belum terjawab.

Kepada para uskup inilah, kata penyintas dari Amerika Serikat itu, para penyintas mencari “kepemimpinan, dan visi, serta keberanian.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan laporan Francesca Merlo dari Vatican News)

Artikel Terkait:

Poin-poin refleksi yang Paus berikan untuk lindungi anak di bawah umur dalam Gereja

Perlindungan anak di bawah umur: Gembala perlu menyentuh, menyembuhkan luka-luka korban

Paus Fransiskus: Dengarkan tangisan anak-anak kecil yang meminta keadilan

Paus ajak umat Katolik berdoa untuk Pertemuan Perlindungan Anak di Bawah Umur

Tinggalkan Pesan