Paduan Suara “Deo Cantate Ensemble Chorus” di Gereja Paroki Kristus Raja Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Ist
Paduan Suara “Deo Cantate Ensemble Chorus” di Gereja Paroki Kristus Raja Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. Ist

Lagu-lagu ordinarium gubahan Komponis JA Korman (Ordinarium Korman) satu per satu terdengar “indah” di Gereja Kristus Raja Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, dan pada saat komuni membahana juga lagu-lagu Oculi Omnium (Charles Wood), O Sacrum Convivium (Domenico Bartolucci) dan Alleluia (Ralph Manuel).

Sebanyak 24 muda-mudi Katolik Keuskupan Manado yang bergabung dalam Paduan Suara “Deo Cantate Ensemble Chorus” menyelesaikan pelayanannya di gereja itu dan kemudian menjual kue di luar gereja itu bagi umat yang hadir dalam Misa 17 Februari 2019.

“Kehadiran kami di paroki ini untuk mendorong umat, khususnya anak muda, agar mempersiapkan lagu-lagu Misa secara maksimal agar umat pun ikut bernyanyi, dan untuk menggalang dana karena bulan juni kami akan tampil pada sebuah festival di Roma yang mengundang kami,” kata pembina paduan suara itu, Septhian Paendong, kepada PEN@ Katolik seusai Misa.

Dijelaskan bahwa Deo Cantate Ensemble Chorus berdiri tanggal 3 September 2012, “karena kecemasan kaum muda Katolik terhadap perkembangan musik Gereja, dalam hal ini paduan suara yang mulai terkikis oleh kepentingan duniawi.”

Jadi, paduan suara itu berdiri bukan karena sekelompok anak muda yang hendak berlomba atau berkompetisi, melainkan sekelompok anak muda “yang mempunyai semangat dan kemauan kuat untuk sebuah kemenangan memuji dan melayani Tuhan.”

Mereka melihat waktu itu bahwa berpaduan suara yang sebenarnya merupakan hakikat kekhasan Gereja Katolik, “malah menjadi sebuah ritual menjelang Paskah atau Natal saja, bahkan dalam kompetisi lomba paduan suara nampak dipersiapkan dengan baik sekali atau maksimal, sedangkan latihan untuk melayani Misa sering tidak optimal,” katanya.

Maka beberapa kaum muda bertalenta itu mengikrarkan “misi gila” dengan membentuk kelompok ini, “meninggalkan suasana paduan suara yang hanya serius dalam kompetisi dan memberi memberi diri yang utuh dalam pelayanan pada musik liturgi,” kata Septhian Paendong.

Mereka lalu melatih diri dan melayani di gereja-gereja Katolik di keuskupan itu bahkan di gereja-gereja Protestan, karena “kami merasa bahwa paduan suara adalah panggilan hati untuk melayani Tuhan,” yang harus ditanamkan pada semua paduan suara termasuk paduan suara di Kristus Raja Kotamobagu.

Deo Cantate Ensemble Chorus telah meninggalkan gereja itu, “dan kalau umat di paroki itu sudah tergerak untuk ikut bernyanyi bersama saat kami bernyanyi dalam Misa itu dan semakin baik mempersiapkan diri dan bernyanyi dalam Misa-Misa yang akan datang, itu benar sekali merupakan harapan kami,” kata Septhian Paendong.(PEN@ Katolik/michael)

Deo Cantate Ensemble Chorus1

Tinggalkan Pesan