Mantan Kardinal Theodore McCarrick   (2010 Getty Images)
Mantan Kardinal Theodore McCarrick (2010 Getty Images)

Kantor Pers Tahta Suci telah menerbitkan pernyataan Kongregasi Vatikan untuk Ajaran Iman mengenai kasus Theodore Edgar McCarrick. Kongres, yang dilakukan kongregasi itu 11 Januari 2019, mengeluarkan ketetapan yang menyatakan McCarrick “bersalah atas delik-delik berikut sebagai seorang klerus (pelayan Tuhan yang menerima tahbisan. Red.): hasutan dalam Sakramen Pengakuan Dosa, dan dosa-dosa melawan Perintah Keenam (Jangan Berzina) dengan anak-anak di bawah umur dan dengan orang dewasa, dengan faktor memberatkan yakni penyalahgunaan kekuasaan.”

Kongres itu menjatuhkan hukuman “pemberhentian dari status klerus.” Menurut pernyataan kongregasi itu, naik banding McCarrick terhadap keputusan ini dipertimbangkan tanggal 13 Februari 2019 oleh Sesi Biasa Kongregasi untuk Ajaran Iman. “Setelah memeriksa argumen-argumen upaya hukum lainnya,” pernyataan itu mengatakan, “Sesi Biasa mengkonfirmasi keputusan Kongres.” Keputusan itu diberitahukan kepada McCarrick tanggal 15 Februari 2019. Setelah mendapatkan pengakuan Bapa Suci, keputusan itu menjadi definitif dan tidak lagi menerima upaya hukum lain atau naik banding.

Sejarah dugaan

September 2017, Keuskupan Agung New York melaporkan kepada Tahta Suci tuduhan terhadap Kardinal McCarrick saat itu. Dia diduga melakukan pelecehan terhadap seorang remaja pria di tahun 1970-an.

Paus Fransiskus memerintahkan Keuskupan Agung New York untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap dugaan itu. Di akhir penyelidikan ini, semua dokumentasi yang relevan dikirimkan kepada Kongregasi untuk Ajaran Iman, yang ditugasi menyelidiki kasus-kasus pelecehan seksual oleh klerus.

Hasil-hasil investigasi Dewan Pemeriksaan Keuskupan Agung New York diumumkan oleh Kardinal Timothy Dolan bulan Juni 2018. Dewan itu menemukan bahwa tuduhan terhadap McCarrick itu “kredibel dan terbukti.” Dalam pernyataannya, Kardinal Dolan mengumumkan bahwa, atas arahan Paus Fransiskus, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin telah menginstruksikan kepada McCarrick bahwa ia “tidak boleh lagi menjalankan pelayanan imam di depan umum.” Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa McCarrick telah bekerja sama dalam penyelidikan itu, dan menerima keputusan Tahta Suci, seraya terus mempertahankan bahwa dirinya tidak bersalah.

Di hari yang sama, Keuskupan Metuchen dan Keuskupan Agung Newark, keduanya di New Jersey, mengungkapkan bahwa mereka mengetahui dugaan pelanggaran seksual yang dilakukan di masa lalu oleh McCarrick, termasuk dua tuduhan yang telah diselesaikan secara hukum.

Pengunduran diri dari Jabatan Kardinal

Minggu-minggu setelah pengumuman dugaan awal terhadap McCarrick, sumber-sumber berita menerbitkan tuduhan lanjut tentang pelanggaran terhadap seminaris dewasa, serta tuduhan-tuduhan tambahan tentang pelecehan terhadap anak di bawah umur.

Tanggal 28 Juli 2018, Tahta Suci mengumumkan bahwa Paus Fransiskus telah menerima pengunduran diri McCarrick dari Dewan Kardinal, dan “memerintahkan dia untuk menangguhkan pelaksanaan setiap pelayanan publik, bersama dengan kewajiban untuk tetap berada di rumah yang belum diindikasikan kepadanya, untuk hidup doa dan penebusan dosa sampai tuduhan-tuduhan terhadapnya dirinya diperiksa dalam pengadilan kanonik yang biasa.”

Komitmen Tahta Suci

Tanggal 6 Oktober 2018, sebuah pernyataan Tahta Suci menegaskan: “Baik pecelehan dan upaya menutup-nutupinya tidak lagi dapat ditolerir dan perlakuan berbeda bagi para Uskup yang telah melakukan atau menutup-nutupi pelecehan sesungguhnya merupakan bentuk klerikalisme yang tidak bisa lagi diterima.” Pernyataan itu menegaskan kembali “ajakan mendesak” Paus Fransiskus untuk “menyatukan kekuatan guna memerangi momok besar pelecehan di dalam dan di luar Gereja, dan guna mencegah kejahatan semacam itu dilakukan di masa depan hingga membahayakan orang-orang yang paling tidak bersalah dan yang paling rentan dalam masyarakat.”

Menjelang pertemuan Ketua-Ketua Konferensi-Konferensi Waligereja se-Dunia yang akan berlangsung di Vatikan mulai 21 hingga 24 Februari 2019, pernyataan itu menekankan perkataan-perkataan Paus Fransiskus dalam Surat kepada Umat Allah yang ditulisnya: “satu-satunya cara tanggapan kita terhadap kejahatan yang telah menggelapkan begitu banyak kehidupan ini adalah mengalaminya sebagai tugas yang menganggap kita semua sebagai Umat Allah. Kesadaran menjadi bagian dari suatu umat ini dan bagian dari sejarah bersama akan memungkinkan kita mengakui dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan masa lalu kita dengan keterbukaan penuh penyesalan yang dapat memungkinkan kita diperbarui dari dalam” (20 Agustus 2018).

Surat Kardinal Ouellet

Tanggal 7 Oktober 2018, Prefek Kongregasi untuk Para Uskup Kardinal Marc Ouellet menerbitkan surat terbuka sebagai tanggapan atas tuduhan-tuduhan oleh mantan Nuncio untuk Washington DC mengenai perselingkuhan McCarrick. Dalam surat itu, Kardinal Ouellet bertanya bagaimana mungkin seorang pria seperti McCarrick bisa dipromosikan beberapa kali, sampai-sampai dinobatkan sebagai Uskup Agung Washington dan diciptakan sebagai Kardinal. Surat itu mencatat keputusan-keputusan personel yang diambil paus didasarkan pada informasi terbaik yang ada saat itu dan merupakan penilaian bijaksana yang tidak bisa salah. Kardinal Ouellet juga menunjukkan bagaimana McCarrick dengan terampil membela diri terhadap tuduhan yang diajukan kepadanya, dan mencatat bahwa, ketika ada bukti nyata, keputusan-keputusan yang kuat diambil.

Surat Kardinal Ouellet berlanjut, dengan menyatakan bagaimana, dalam masa kepausan Paus emeritus Benediktus XVI, McCarrick “sangat didesak” untuk tidak bepergian dan tidak tampil di depan umum. McCarrick mengabaikan instruksi-instruksi ini. Kardinal Ouellet mengklarifikasi bahwa arahan-arahan ini bukan “sanksi” yang dijatuhkan oleh Benediktus XVI, dan menolak kesan bahwa ada sanksi dicabut oleh Paus Fransiskus. Dia juga mencatat bahwa Bapa Suci yang sekarang “tidak ada hubungannya dengan promosi McCarrick di New York, Metuchen, Newark dan Washington”, dan melepaskan martabatnya sebagai seorang Kardinal ketika tuduhan pelecehan terhadap anak di bawah umur dianggap dapat dipercaya.

Biografi

Theodore Edgar McCarrick, 88, lahir di New York, 7 Juli 1930. Ia ditahbiskan imam oleh Kardinal Fransiskus Spellman, 31 Mei 1958. Ia diangkat sebagai Uskup Auksilier New York di bulan Mei 1977 oleh Santo Paus Paulus VI, dan ditahbiskan tanggal 29 Juni 1977. Paus Santo Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Uskup Metuchen pertama (1981-1986), Uskup Agung Metropolitan Newark (1986-2000), dan Uskup Agung Metropolitan Washington (2000-2006). Tanggal 21 Februari 2001 dia diciptakan sebagai Kardinal. McCarrick ambil bagian dalam konklaf 2005, yang memilih Paus Benediktus XVI.

Teks lengkap pernyataan Kongregasi untuk Ajaran Iman:

Tanggal 11 Januari 2019, pada penutupan proses hukuman, Kongres Kongregasi untuk Ajaran Iman mengeluarkan ketetapan yang menemukan Theodore Edgar McCarrick, uskup agung emeritus Washington, DC, bersalah atas delik-delik berikut ketika dia masih klerus: hasutan dalam Sakramen Pengakuan Dosa, dan dosa-dosa melawan Perintah Keenam dengan anak di bawah umur dan dengan orang dewasa, dengan faktor memberatkan yakni penyalahgunaan kekuasaan. Kongres mengenakan kepadanya hukuman pemecatan dari status klerus. Tanggal 13 Februari 2019, Sesi Biasa (Feria IV) Kongregasi untuk Ajaran Iman mempertimbangkan upaya hukum lain yang diajukannya terhadap keputusan ini. Setelah memeriksa argumen-argumen upaya hukum lain itu, Sesi Biasa mengkonfirmasi ketetapan Kongres. Keputusan ini diberitahukan kepada Theodore McCarrick tanggal 15 Februari 2019. Bapa Suci telah mengakui sifat definitif keputusan ini yang dibuat sesuai hukum, dan menjadikannya res iudicata (mis., mengakui tidak ada upaya hukum lain). (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan