Sabda Bahagia

(Renungan berdasarkan Bacaan Minggu ke-6 pada Masa Biasa, 17 Februari 2019: Lukas 6:17-28)

“Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. (Lk. 6:24)”

Kita mendengarkan hari ini tentang Sabda Bahagia, tetapi tidak seperti Sabda Bahagia yang terkenal dari Injil Matius, kita sekarang mendengarkan dari Injil Lukas. Tidak seperti Matius yang memiliki delapan ucapan berkat, Lukas memiliki empat berkat dan empat “celaka”. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika Matius tampaknya menekankan “orang miskin di hadapan Allah atau miskin dalam roh”, Lukas menekankan kemiskinan dalam arti yang lebih harfiah.

Tentunya, kita ingin memiliki kehidupan yang bahagia, dan kita tidak ingin dengan kehidupan yang sulit dan miskin. Hal ini mendasar dalam karakter manusia. Jika kita rajin belajar, kita berharap bahwa kita memiliki hasil yang baik dalam pendidikan kita. Jika kita bekerja dengan keras dan jujur setiap hari, kita berharap bahwa kita akan mendapatkan kesuksesan. Jika kita menjalani hidup kita dengan hasrat dan dedikasi, kita berharap untuk memperoleh kehidupan yang memuaskan dan bermakna.

Namun, dalam Injil hari ini, kita mendengarkan bahwa Yesus bersabda bahwa yang diberkati adalah orang miskin, yang lapar, yang menangis, dan yang dianiaya, dan bagi mereka yang kaya, kenyang, dan tertawa, “celakalah” nasib mereka. Apakah Yesus seorang yang pro-miskin dan anti-kaya? Apakah Yesus ingin kita menderita, kelaparan, dan menjadi kurang gizi? Apakah Yesus tidak ingin kita dihargai secara adil atas kerja keras kita? Apakah Yesus seorang yang sangat melankolis, yang berlarut-larut dalam kesedihan, dan tidak tahu bagaimana menikmati hidup?

Ini adalah pertanyaan sulit namun valid, dan untuk menjawab ini, kita perlu kembali ke zaman Yesus dan menemukan konteks di balik perkataan Yesus. Pada abad pertama masehi, Palestina, mayoritas orang, termasuk Yesus sendiri, adalah miskin, lapar dan tertindas. Mereka miskin bukan karena mereka malas tetapi karena mereka hidup di dalam waktu yang sulit untuk hidup. Palestina dijajah oleh bangsa Romawi, dan merupakan praktik umum untuk memungut pajak yang besar pada orang-orang Israel. Hanya beberapa bangsawan, beberapa pemilik tanah, segelintir pengusaha kaya dan orang Israel yang bekerja untuk orang-orang Romawi, seperti para pemungut pajak, menikmati kehidupan yang lebih baik. Orang-orang Israel biasa tidak hanya harus menghadapi orang-orang Romawi, tetapi mereka juga harus menderita di tangan sesame orang Israel yang serakah dan oportunistik yang hanya memikirkan bagaimana mereka bisa memperkaya diri mereka sendiri. Itu adalah waktu yang sulit untuk hidup bagi orang-orang Israel yang sederhana.

Dengan mengetahui konteks, Sabda Bahagia di Injil Lukas jauh lebih masuk akal sekarang. Yesus menjanjikan harapan dan penghiburan bagi mereka yang miskin dan menderita karena ketidakadilan, dan Yesus mengecam mereka yang kaya melalui cara yang tidak jujur dan menindas. Dengan demikian, kita tahu sekarang bahwa dengan Sabda Bahagia dan Sabda Celaka-Nya, Yesus tidak membenci orang kaya, tetapi keserakahan dan ketidakadilan yang meracuni hati orang-orang baik yang kaya maupun yang miskin. Ketika kita memiliki kehidupan yang baik karena kerja keras dan usaha jujur kita, kita bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah berkah! Namun, Yesus juga mengingatkan kita bahwa pada saat kita diberkati, kita tidak jangan serakah, tetapi tetap rendah hati dan bahkan memiliki kepedulian terhadap saudara-saudari kita yang miskin, lapar, dan menangis karena ketidakadilan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

 

Tinggalkan Pesan