PSD KUK KAS (6)
Tokoh dan umat dari agama bukan Kristiani juga terlibat dalam penanaman benih sawo kecik dan ikan dalam Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani di wilayah Keuskupan Agung Semarang. PEN@ Katolik/lat

Oleh Lukas Awi Tristanto

Antusiasme para pastor, pendeta dan jemaat dalam menanggapi Pekan Doa untuk Kesatuan Umat Kristiani (PDS KUK) di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) tahun 2019 semakin besar. Ini terlihat dalam penyelenggaraan dan kehadiran dalam Ibadat Ekumene PDS di gereja-gereja di empat kevikepan KAS.

Di Kevikepan Semarang ibadat ekumene dilaksanakan di Gereja Santa Maria Fatima Banyumanik, Gereja Kristus Raja Ungaran, GKI Karangsaru, Gereja Santo Yohanes Evangelista Kudus, GKI Gereformeerd, Gereja Santo Paulus Miki Salatiga, Gereja Katedral Santa Perawan Maria Semarang, Gereja Santo Antonius Padua Kendal, Gereja Stella Maris Jepara dan rencana awal Februari di Gereja Santa Maria Gubug.

Di Kevikepan Surakarta, ibadat ekumene dilaksanakan di Gereja Kristus Raja Solo Baru dan Gereja Santa Maria Bunda Kristus Wedi-Klaten, di Kevikepan Kedu di Gereja Santo Ignatius Magelang dan Gereja Kristen Kalinegoro, dan di Kevikepan Yogyakarta di Gereja Santo Albertus Magnus Jetis.

Tema PDS KUK 18-25 Januari 2019 adalah “Semata-Mata Keadilan, Itulah Yang Harus Kau Kejar (Ulangan 16:18-20)”. Selama itu, umat mendalami bahan permenungan PDS KUK yang disiapkan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (Komisi HAK) KAS.

Ketua Komisi HAK KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menjelaskan, bahan-bahan permenungan PDS KUK diolah dari konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang ditandai keberagaman agama. Indonesia dikenal sebagai Negara dengan umat beragama Islam terbesar di dunia, namun secara umum kita mengalami hidup bersama yang rukun dan damai. Memang, belakangan ini ada letupan-letupan intoleransi dan aksi kekerasan bernuansa agama, namun mayoritas suasana yang dihadirkan adalah hidup rukun, adil dan damai.

Seraya bersyukur atas keadaan baik itu, kita tetap berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar persatuan dan kesatuan antarumat beragama tetap terjaga. Pastor Budi berharap, persatuan dan kesatuan berbuah dalam gerakan melawan ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dan kebencian yang masih menandai kehidupan kita bersama. Gereja dipanggil untuk bersinergi di antara Gereja sendiri dan bersama umat beragama lain dalam mengejar dan mewujudkan keadilan, baik bagi sesama maupun bagi semesta.

Dalam perkembangannya, pelaksanaan PDS KUK semakin dinamis. Selain menjangkau banyak gereja, penyelenggara yang terdiri dari sejumlah imam, pendeta dan umat mengemas PDS KUK dengan menarik. Di Paroki Wedi, kegiatan tahun sebelumnya hanya menjangkau gereja-gereja di wilayah kecamatan, namun tahun ini, panitia merancang kegiatan dengan melibatkan gereja-gereja se-Kabupaten Klaten.

Segmen keterlibatan diperluas. Yang semula didominasi orangtua, tahun ini, anak-anak dilibatkan dalam ibadat ekumene dengan menyanyi dan menari. Ibadat pun menjadi semakin semarak oleh ekspresi anak-anak yang menyanyi maupun menari dengan kostum menarik.

Di Katedral Semarang, ibadat ekumene dilanjutkan dengan aksi ekologis berupa tebar benih ikan di sungai depan katedral dan pembagian bibit sawo kecik. Anak-anak pun turut terlibat dengan kostum tradisional yang menarik. Uniknya, acara itu tidak hanya untuk umat Kristiani. Tokoh dan umat dari agama bukan Kristiani terlibat dalam acara itu. Mereka tak segan bergabung.

Kepala Paroki Katedral Pastor Herman Yosef Singgih Sutoro Pr mengatakan, pada penutupan PDS, pendeta dan pastor diberi benih sawo kecik dan ikan sebagai simbol “nandur kebecikan” atau menanam kebaikan. Ikan merupakan simbol umat Kristiani. Kata ‘ikan’ dalam bahasa Yunani adalah ICHTHUS (Iesous CHristos, Theou Uios, Soter) yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat. Tabur benih ikan juga dilakukan sebagai ungkapan nyata seluruh tokoh agama untuk memperhatikan bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga keberadaannya agar tetap damai, aman dan terhindar dari bencana.”

Sementara itu, di beberapa tempat hasil kolekte dipakai untuk menyumbang korban bencana alam. Dengan demikian ibadat ekumene tak hanya berhenti pada tataran ritual tapi beranjak pada dimensi sosial kemanusiaan.

Ketua Komisi HAK Kevikepan Semarang Pastor Eduardus Didik Chahyono SJ mengatakan, sebagai anggota tubuh Kristus kita dipanggil untuk mengejar dan mewujudkan keadilan. “Kesatuan dalam Kristus memberdayakan kita mengambil bagian dalam perjuangan lebih luas untuk keadilan dan untuk meningkatkan martabat,” kata imam itu.

Pendeta Eliezer Budiono dari Gereja Kristen Jawa Tengah Utara Srondol melihat kegiatan ekumene sungguh tulus dan harus dilakukan umat-Nya. “Kegiatan ekumene doa sedunia saat ini boleh kita nilai sebagai paling ekumenis karena dihadiri umat Tuhan dari berbagai gereja dalam bentuk wadah-wadah ekumene berbeda,” katanya.

Vikaris Paroki Maria Bunda Kristus Wedi Pastor Emanuel Maria Supranowo Pr berharap umat bukan saja melakukan ibadah ekumene tetapi mewujudkan upaya-upaya membangun kesejahteraan umum dalam masyarakat beragam.(PEN@ Katolik)

Artikel terkait:

Paus sebut Indonesia dalam homili pembukaan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani

Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani berlangsung 18 hingga 25 Januari

Gerakan Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristiani di KAS makin berkembang

Pekan Doa Sedunia di Ungaran: Indahnya hidup rukun dan damai

PEN@ Katolik/lat
PEN@ Katolik/lat
PEN@ Katolik/lat
PEN@ Katolik/lat
PEN@ Katolik/lat
PEN@ Katolik/lat

Tinggalkan Pesan