IMG_7415
Perayaan Natal Paroki Thomas Rasul Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah. PEN@ Katolik/las

Selain seni Islami berupa tembang Jawa Sluku-sluku Bathok yang dilantunkan oleh kelompok Rebana Nahdostussuban dari Dusun Weru di Kecamatan Jambu, Semarang, terdengar juga tembang dolanan anak ciptaan Sunan Kalijaga oleh perempuan yang memakai hijab dan lelaki dengan sarung dan berkopyah dalam Perayaan Natal Paroki Thomas Rasul Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah.

Tokoh-tokoh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan masyarakat Kecamatan Jambu yang berkumpul di Kopi Eva, Bedono, Kabupaten Semarang, juga disapa dengan  tembang-tembang Jawa beriringan gamelan oleh kelompok Panembromo Ibu-Ibu PKK Dusun Wawarlor.

Lampu-lampu yang terpasang di “Pohon Natal,” yang terbuat dari pelepah pisang tetap berkelap-kelip dalam acara 19 Januari itu, menemani anak-anak yang turut melantunkan tembang Jawa Macapat yang penuh filosofi. Sebagian anak-anak luwes menari tari Bondan yang menggambarkan kasih sayang ibu kepada anak-anaknya, sambil membawa payung dan menggendong boneka bayi.

Tempat perayaan Natal ditata dengan properti serba lokal seperti daun pisang, pelepah pisang, dan bahan-bahan lain yang banyak ditemui di desa. “Kita pakai dekorasi yang semua serba lokal,” kata Kepala Paroki Bedono Pastor Patricius Hartono Pr. Dan, semua berjalan akrab. Ada yang menikmati makanan dan minuman lokal seperti pecel gendar, kopi lokal, dan aneka kue, ada pula yang merokok sambil minum kopi dan menikmati kue.

“Gereja harus bergerak keluar dan itu berarti harus mencari lambang dan bahasa yang bisa dipakai bersama. Dalam konteks Kecamatan Jambu, sudah ada gerakan mencintai produk lokal, kopi lokal, kebudayaan lokal. Mengapa kita tidak masuk di situ dan meneguhkan? Maka, salah satu kesediaan kita untuk mendukung gerakan bersama ini, ya kita kemas Natal dalam format budaya. Ada macapat, ada panembromo, ada gamelan,” kata Pastor Hartono dengan busana lokal Jawa pedesaan itu.

Dalam perayaan itu juga diluncurkan permainan tradisional Suron khas Bedono. Permainan ini pada masanya kerap dimainkan anak-anak. Namun akhir-akhir ini, karena arus kemajuan teknologi, anak-anak jarang memainkannya dan cenderung bermain game di ponsel.

“Momen ini kita pakai untuk meneguhkan apa yang dilakukan anak-anak muda, yakni menghidupkan kembali dolanan tradisional yang khas kawasan penghasil kopi yakni Suron. Itu ada di beberapa daerah, tapi di sini sangat kuat. Dulu sangat dihidupi. Maka, kita teguhkan,” kata Pastor Hartono.

Peluncuran diawali drama singkat oleh sejumlah anak muda diiringi musik tradisional berbahan bambu. Adegan dimulai dengan anak-anak yang hidup bergantung pada ponsel, berswafoto, hingga kehidupan narsis, individualistik, dan egois. Lalu sekelompok anak muda bermain Suron dengan melibatkan teman karena permainan ini harus dimainkan empat orang. Mereka bergembira bersama.

Usai adegan, Camat Jambu Edy Sukarno meluncurkan permainan Suron dengan pemukulan kendi. Dalam sambutan, camat berterima kasihnya karena perayaan Natal itu mengangkat budaya dan tradisi yang selama ini dihidupi masyarakat. “Saya berterima kasih, Romo. Malam ini, Anda bersama umat Katolik Paroki Thomas Rasul Bedono merayakan Natal sarat pitutur. Ternyata Natal itu penuh ajakan untuk mengenang dan mengingat kita supaya tidak lupa dengan tradisi sendiri,” katanya.

Ketua DPRD Kabupaten Semarang Bambang Kusriyanto mengingatkan supaya masyarakat tidak mendikotomikan mayoritas dan minoritas, namun menyadari bahwa kita adalah keluarga besar bangsa Indonesia yang hidup rukun di kampung-kampung. “Dan tetangga kita adalah saudara-saudara kita semua. Tidak akan melihat apa sukumu, apa agamamu, apa warna kulitmu. Karena yang pertama menolong kita adalah warga sekitar kita,” katanya.

Lalu bagaimana anggota Gereja? “Apa gunanya Katolik kalau tidak menghadirkan perubahan baik?” tanya Pastor Hartono seraya berharap adanya iklim kebersamaan di kawasan Bedono. (PEN@ Katolik/Lukas Awi Tristanto)

PEN@ Katolik/las
PEN@ Katolik/las

1 komentar

Tinggalkan Pesan