cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (16)
Upacara selamat datang dan pembukaan World Youth Day 2019 di Panama (Vatican Media)

Oleh Seán-Patrick Lovett dari Vatican News

Pesta Hari Orang Muda Katolik se-Dunia (World Youth Day, WYD) ke-34 di Panama dimulai saat fajar. Saat matahari terbit di Terusan Panama, sudah terlihat kelompok-kelompok penuh warna-warni mengibarkan bendera, bernyanyi, beryogang. Pawai peziarah WYD sudah mulai bergerak. Tujuan mereka adalah Coastal Beltway sepanjang 2,5 km, yang disebut Cinta Costera, yang mengapit Samudra Pasifik di satu sisi, dan cakrawala Kota Panama di sisi lain.

Indahnya pemandangan lokasi itu, mudahnya aksesibilitas dan ukurannya, menjadikannya pilihan sempurna untuk Upacara Penyambutan dan Pembukaan Resmi WYD ke-34. Sepanjang hari, para peziarah dijiwai dan dihibur oleh musik, lagu dan tarian. Maka, di saat Paus Fransiskus tiba melewati kerumuman orang dengan mobil paus berwarna putih, semua orang, nampak sudah begitu siap.

Paus melihat suasana itu. Dengan penuh kasih sayang Paus berpegang tangan dengan lima wakil muda WYD, dengan penuh syukur dia menerima hadiah berupa stola kepausan, hasil tenunan lokal, dengan penuh perhatian dia menonton penampilan multikultural lagu-lagu WYD, dengan aktif dia mendengarkan presentasi multilinguistik dari para santo pelindung WYD (Oscar Romero, Martin de Porres, Rosa de Lima, Don Bosco, Juan Diego, dan tentu saja, Yohanes Paulus II).

Kemudian giliran orang muda mendengarkan Paus. “Petrus dan Gereja berjalan bersama kalian,” Paus mulai berbicara. “Kami mau mengatakan kepada kalian untuk jangan takut, untuk maju dengan energi dan kegelisahan segar yang sama yang membuat kami lebih bahagia dan lebih bersiap… bukan untuk menciptakan Gereja paralel yang akan lebih ‘menyenangkan’ dan ‘keren’ karena acara orang muda yang mewah.”

Paus mengakui pengorbanan yang dihadapi banyak orang muda untuk datang ke tempat ini. Tetapi, Paus mengingatkan, “seorang murid bukan hanya yang tiba di tempat tertentu, tetapi yang berangkat dengan penuh keyakinan, yang tidak takut mengambil risiko dan terus berjalan.” Paus lalu mengatakan dengan tegas, “Inilah kegembiraan besar, terus berjalan.”

Saat ribuan orang muda bertepuk tangan tanda setuju dan berteriak keras membenarkan, Paus Fransiskus mereka bahwa “budaya perjumpaan adalah panggilan yang mengajak kita untuk berani menghidupkan mimpi bersama … mimpi yang memiliki tempat untuk semua orang … Mimpi yang bernama Yesus.” Paus menerima inspirasi Santo Oscar Romero ketika dia mengutip homili Uskup Agung San Salvador yang mati sebagai martir itu: “Kekristenan bukanlah kumpulan kebenaran untuk dipercaya, peraturan untuk diikuti, atau larangan … Kekristenan berarti mengejar impian itu, dan untuk impian itu Yesus menyerahkan hidup-Nya: mencintai dengan cinta yang sama yang digunakan-Nya untuk mencintai kita.”

Bagian terakhir renungan Paus bersama orang muda yang berkumpul di Kota Panama pada Kamis malam, 24 Januari 2019, berbicara tentang definisi cinta yakni “Cinta yang tidak membingungkan atau menindas, membuang atau melenyapkan, merendahkan atau mendominasi.” Cinta Tuhan, kata Paus, “adalah cinta setiap hari, cinta yang bijaksana dan cinta yang penuh hormat, cinta yang bebas dan membebaskan, cinta yang menyembuhkan dan membangkitkan. Itulah cinta tenang dari tangan terulur untuk melayani, komitmen yang tidak menarik perhatian untuk diri sendiri.” Ini, kata Paus Fransiskus, adalah “cinta yang masuk akal.”

Perjumpaan pertama antara Paus dan orang muda peserta WYD di Panama berakhir dengan berulang-ulang bernyanyi bersama Paus: “Lord, teach me to love you as you have loved us” (Tuhan, ajarilah aku mencintai-Mu sebagaimana Engkau telah mencintai kami.” Doa yang sempurna untuk mengakhiri hari yang sempurna.(Diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/paul c pati)

cq5dam.thumbnail.cropped.750.422 (17)

Tinggalkan Pesan