Paus Fransiskus berbicara dengan Para Uskup Amerika Tengah (Vatican Media)
Paus Fransiskus berbicara dengan Para Uskup Amerika Tengah (Vatican Media)

Kalau Anda bukan teolog, kata kenosis bukanlah kata yang cenderung Anda temui setiap hari. Kata itu berasal dari bahasa Yunani dan digunakan oleh Santo Paulus dalam Suratnya kepada umat di Filipi guna menggambarkan bagaimana Yesus “mengosongkan diri-Nya” agar benar-benar terbuka dan mau menerima kehendak Bapa-Nya.

Para Uskup Amerika Tengah adalah teolog. Mereka mengerti persis apa yang dimaksud Paus Fransiskus. Terlebih lagi karena kenosis adalah kata yang digunakan Santo Oscar Romero untuk menggambarkan seperti apa Gereja itu: Gereja yang rendah hati dan miskin. Karena “di dalam Gereja, Kristus hidup di antara kita.”

Paus berada di Panama untuk Hari Orang Muda Katolik se-Dunia (World Youth Day, WYD) ke-34. Kepada para Uskup itu Paus mengatakan bahwa WYD adalah “kesempatan unik” untuk bertemu, dan untuk semakin dekat dengan, pengalaman orang muda, “yang begitu penuh harapan dan keinginan, tetapi juga banyak luka dan bekas luka.” Bersama mereka, kata Paus, “kita bisa menginterpretasi dunia kita dengan cara baru dan mengenali tanda-tanda zaman.”

Orang muda seperti barometer, kata Paus. Mereka memberitahukan kepada kita “di mana kita berada sebagai komunitas dan sebagai masyarakat.” Dalam ceramahnya, Paus sering merujuk Sinode Para Uskup tentang Orang Muda yang baru berlangsung. “Masa depan menuntut kita menghormati masa kini,” kata Paus. Ini masalah martabat, persoalan tentang “harga diri budaya.”

Paus kemudian mengajak para Uskup merenungkan masalah migrasi: “Banyak kaum migran berwajah muda,” kata Paus. “Mereka tidak takut mengambil risiko dan meninggalkan segalanya” demi mencari masa depan lebih baik. “Kita tidak bisa tetap acuh tak acuh,” kata Paus. “Walaupun dunia mencampakkan manusia, kenosis Kristus tidak.”

Kembali ke contoh Santo Oscar Romero, Paus menggambarkan Uskup Agung San Salvador yang terbunuh itu “bukan manajer sumber daya manusia.” Sebaliknya, dia “seorang ayah, seorang teman, dan seorang saudara laki-laki.”

“Dia bisa menjadi ukuran,” kata Paus, “untuk mengukur hati kita sendiri sebagai uskup-uskup,” dengan bertanya “Seberapa besar pengaruh kehidupan para imam saya terhadap saya?” Imam, lanjut Paus, “ada di garis depan … mereka membutuhkan pemahaman dan dorongan kita, kebapakan kita.”

Kenosis Kristus, kata Paus, “adalah ungkapan tertinggi dari belas kasih Bapa.” Seorang pastor paroki perlu berjumpa dengan seorang ayah “yang di dalam dirinya dia bisa melihat refleksi tentang dirinya sendiri, bukan administrator yang peduli ‘memeriksa pasukan’.”

Paus mengakhiri sambutannya kepada para Uskup Amerika Tengah dengan mengingatkan mereka bahwa “berpikir bersama Gereja” berarti “berpikir dengan umat Allah yang menderita dan dipenuhi harapan.”

Paus memperingatkan tentang “keduniawian spiritual,” yang menempatkan “kemarahtamahan religius dan kesalehan di atas keinginan untuk kekuasaan dan pengaruh, di atas keangkuhan dan bahkan kebanggaan dan kesombongan.” Paus membenarkan, Gereja hanya bebas kalau “berpusat pada kenosis Tuhannya.”

Sekali lagi dengan mengutip Uskup Agung Romero, Paus mengatakan bahwa Gereja “tidak ingin kekuatannya didukung oleh para pemimpin yang penuh kekuasaan atau politis.” Sebaliknya, Gereja “maju dengan pendirian mulia.” Paus mengakhiri dengan mengatakan, “hal itu menantang kita dan memanggil kita untuk memeriksa suara hati tentang keputusan dan prioritas kita dalam penggunaan sumber daya, pengaruh, dan posisi kita.”(PEN@ Katolik berdasarkan laporan Seán-Patrick Lovett dari Vatican News)

51102506_2308323409179250_6231936910147715072_n50758836_2308323492512575_2387428537226231808_n

Tinggalkan Pesan