Paus Fransiskus menggunakan telepon seluler dalam sebuah audiensi. Foto Vatican Media
Paus Fransiskus ketika meluncurkan “Click to Pray” dalam Doa Malaikat Tuhan 23 Januari 2019. Foto Vatican Media

Dalam pesan untuk Hari Komunikasi Sosial se-Dunia 2019 yang berjudul “Kita sama-sama anggota dari satu tubuh” (Ef 4:25): Dari komunitas jejaring sosial hingga komunitas manusia,” yang dirilis pada Hari Raya Santo Fransiskus dari Sales, Santo Pelindung Jurnalis, 24 Januari 2019, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa Internet dan media sosial adalah sumber daya penting. Namun Paus juga menekankan bahwa Internet “terbukti menjadi salah satu bidang yang paling terbuka untuk disinformasi dan penyimpangan fakta serta pemutarbalikan fakta dan hubungan pribadi, yang sering digunakan untuk mendiskreditkan.”

Jejaring sosial di satu sisi, kata Paus seperti dilaporkan oleh Lydia Okane dari Vatican News, “membantu kita untuk semakin terhubung, bertemu kembali, dan saling membantu,” tetapi di sisi lain, “memberi kemungkinan manipulasi data pribadi, yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan politik atau ekonomi, tanpa menghormati manusia serta hak-hak mereka.”

Paus juga mencatat, “statistik menunjukkan bahwa seperempat orang muda terlibat dalam peristiwa cyber bullying” (kekerasan terhadap anak atau remaja yang dilakukan teman seusia lewat internet. Red.). “Untuk mengekang fenomena ini,” lanjut Paus, “di Vatikan akan didirikan observatorium internasional tentang cyber bullying.”

Paus menunjukkan dalam pesannya bahwa dari perspektif antropologis “metafora net (jaring) mengingatkan gambaran bermakna lainnya: komunitas.” Dalam arti positif, kata Paus, komunitas adalah sesuatu yang berkembang karena saling mendengarkan dan berdialog. Sayangnya, Paus mengamati, saat ini “komunitas-komunitas jaringan sosial tidak secara otomatis identik dengan komunitas.”

Net, Paus mengamati, “adalah kesempatan meningkatkan perjumpaan dengan orang lain, tapi juga bisa meningkatkan isolasi diri sendiri, seperti web yang dapat menjebak kita.” Paus mencatat secara khusus bahwa “orang muda paling banyak terkena ilusi, sehingga jejaring sosial benar-benar bisa memuaskan mereka pada tingkat relasional. Fenomena berbahaya bagi orang muda adalah menjadi “pertapa sosial.” Risikonya, mereka benar-benar terasing dari masyarakat. Situasi dramatis ini mengungkap perpecahan serius dalam struktur relasional masyarakat, sesuatu yang tidak bisa kita abaikan.”

Paus selanjutnya mengatakan, “sementara pemerintah mengupayakan cara hukum untuk mengatur web dan melindungi visi asli sebuah jaringan yang bebas, terbuka dan aman, kita semua memiliki kemungkinan dan tanggung jawab untuk meningkatkan penggunaannya yang positif.”

Maka, tanya Paus, “bagaimana kita bisa menemukan identitas komunitarian sejati, dan bisa menyadari tanggung jawab satu sama lain di jaringan online?” Jawaban yang memungkinkan, jawab Paus Fransiskus, berasal dari Santo Paulus dan metafora “tubuh dan anggota-anggota,” yang digunakan orang kudus itu untuk “menggambarkan hubungan timbal balik antara manusia, yang berdasarkan pada organisme yang menyatukan mereka.”

Menjadi anggota satu sama lain, kata Paus, “adalah motivasi mendalam yang digunakan Rasul itu untuk mengajak kita menyingkirkan kepalsuan dan berbicara tentang kebenaran: tugas menjaga kebenaran muncul dari kebutuhan untuk tidak mengingkari hubungan satu sama lain dalam persekutuan. Kebenaran terungkap dalam persekutuan.”

Sebagai orang Kristiani, komentar Paus, “kita semua mengakui diri kita sebagai anggota dari satu tubuh yang kepalanya adalah Kristus. Ini membantu kita untuk tidak melihat manusia sebagai pesaing potensial, tetapi memandang musuh sekalipun sebagai orang pribadi.” Paus menegaskan, “Untuk berkomunikasi dengan kita dan untuk mengomunikasikan diri-Nya kepada kita, Tuhan menyesuaikan diri dengan bahasa kita, membangun dialog nyata dengan umat manusia sepanjang sejarah.”

Di dunia saat ini, Paus Fransiskus menggarisbawahi, kita semua dipanggil “untuk berinvestasi dalam hubungan, dan untuk menegaskan sifat antarpribadi dari kemanusiaan kita, termasuk di dalam dan melalui jaringan.” Gereja sendiri, jelas Paus, “adalah jaringan yang dijalin bersama oleh persekutuan Ekaristi, di mana persatuan tidak didasarkan pada “likes”, tetapi pada kebenaran, pada “Amin.” Dengan begitu setiap orang melekat pada Tubuh Kristus, dan menerima orang lain dengan senang hati.”

Jika keluarga “menggunakan Net untuk lebih terhubung, hingga kemudian bertemu di meja makan dan saling menatap, maka itulah sumber daya. Jika sebuah komunitas Gereja mengkoordinir kegiatannya melalui jaringan, kemudian merayakan Ekaristi bersama, maka itulah sumber daya …,” tegas Paus.

Paus mengakhiri pesannya dengan mengatakan, bahwa dengan melakukan tanggung jawab untuk meningkatkan penggunaan positif Net itu, kita dapat “beralih dari diagnosa kepada tindakan pengobatan: membuka jalan untuk dialog, untuk perjumpaan, untuk “senyuman” dan ungkapan-ungkapan kelembutan … Inilah jaringan yang kita inginkan, jaringan yang diciptakan bukan untuk menjebak, tetapi untuk membebaskan, untuk melindungi persekutuan manusia yang bebas.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan