Mgr Ignatius Suharyo dalam Konferensi Oers Natal 2018 didampingi Pastor Samuel Pangestu dan Pastor Hani Rudi Hartoko SJ. PEN@ Katolik/km
Mgr Ignatius Suharyo dalam Konferensi Oers Natal 2018 didampingi Pastor Samuel Pangestu dan Pastor Hani Rudi Hartoko SJ. PEN@ Katolik/km

Rumusan sila keempat Pancasila sesungguhnya bukan hanya membicarakan tentang demokrasi dalam negara kita, Indonesia, tapi juga mengatur tata kehidupan bersama warga masyarakat sebagai suatu bangsa dalam perannya yang diharapkan penuh hikmat untuk menuju bangsa yang bermartabat.

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo mengatakan hal itu ketika menyampaikan Pesan Natal 2018 kepada para wartawan di Lantai 2 Gedung Pastoral, Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga, 25 Desember 2018. Dalam kesempatan itu, Mgr Suharyo didampingi Vikaris Jenderal Pastor Samuel Pangestu Pr dan Kepala Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Pastor Hani Rudi Hartoko SJ.

Mgr Suharyo menegaskan bahwa tema yang akan direnungkan oleh umat Kristiani dalam tahun 2019 adalah “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” dengan semboyan “Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat.” Tema itu, jelasnya, adalah lanjutan permenungan seluruh umat sepanjang tahun 2018 tentang tema sila ketiga Pancasila. “Untuk tema 2019 sesungguhnya bertitik tolak dari sila keempat Pancasila (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan).

Seperti tahun silam, lanjut Mgr Suharyo, tema yang akan direnungkan itu akan dipecah atau dibagi dalam gagasan-gagasan lain. “Gagasan itu kemudian akan diterjemahkan menjadi gerakan-gerakan sehingga diharapkan akan membentuk cara berpikir umat Kristiani, bukan hanya pikirannya, tapi dalam jiwa mau pun praktik kehidupannya setiap hari,” kata Mgr Suharyo yang juga ketua KWI.

Tema “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” yang dikutip dari 1 Kor 1:30a adalah pesan Natal KWI dan PGI 2018. Untuk menjelaskan tema itu, Mgr Suharyo menceritakan bahwa sebelum perayaan Sumpah emuda 2018, salah satu media nasional menurunkan satu tulisan berjudul “Kesadaran moral masyarakat rusak.” Tulisan itu menjelaskan tingginya angka pejabat (eksekutif, yudikatif dan eksekutif dan legislatif) yang tertangkap tangan melakukan korupsi.

“Mereka yang tertangkap tangan itu adalah bukti bahwa pemimpin atau pejabat yang tidak berhikmat, otomatis mengantar bangsa ini menjadi bangsa yang tidak bermartabat, karena sejatinya pemimpin yang mengatur negeri ini menjadi teladan bukan melakukan perbuatan yang merampas kesejahteraan rakyat,” kata Mgr Suharyo.

Contoh lain yang menunjukkan masyarakat yang tidak berhikmat adalah tingginya sikap intoleransi di negara yang memiliki rumusan sila Persatuan Indonesia. “Yang diharapkan dengan adanya sila Persatuan Pancasila tidak ada gejala intoleransi. Karena itu, sikap menumbuhkan toleransi sejatinya menjadi perhatian seluruh warga masyarakat termasuk seluruh umat Kristiani,” kata uskup.

Mgr Suharyo mengawali pesan Natal itu dengan menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah bencana alam tsunami yang melanda wilayah Kabupaten Pandeglang Banten dan sebagian Provinsi Lampung yang menyebabkan sekitar 400-an korban meninggal, serta tsunami sebelumnya di Lombok, Palu dan Donggala. “Di tengah kegembiraan dan syukur Natal, umat Kristiani memberikan perhatian lewat doa, dana serta cara lainnya untuk meringankan penderitaan mereka,” kata uskup.

Mgr Suharyo menegaskan bahwa mengatakan umat Kristiani akan memberikan bantuan dana bagi korban tsunami di Banten dan Lampung melalui kolekte Misa Minggu.

Menjawab pertanyaan wartawan soal pilres yang akan berlangsung tahun depan, Mgr Suharyo menegaskan bahwa ajakan umat Katolik sama dengan ajakan pemerintah saat ini yaitu “mengajak seluruh umat terlibat dalam demokrasi tanpa menyebarkan hoaks, politisasi agama, kekerasan fisik maupun mental serta menjaga proses demokrasi di negara ini sehingga berlangsung dengan baik.” (PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

 

 

Tinggalkan Pesan