Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr memimpin Misa Natal di Gereja Spiritu Santo Misir Maumere. Foto Yuven Fernandez
Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr memimpin Misa Natal di Gereja Spiritu Santo Misir Maumere. Foto Yuven Fernandez

Lagu “Gemu Fa Mi Re” dan “Karna Sa Su Sayang” beserta pencipta dan penyanyinya adalah tanda berkat dari Tuhan, betapa di tanah yang gersang dan tandus ini, di bumi yang kerap dipandang sebagai Timur yang terlupakan, di dalamnya Tuhan menunjukkan sinar orang-orang kecil dengan kemanusiaan universal yang harus dihargai dan dihormati siapa pun, di mana pun dan kapan pun.

Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr yang akrab dipanggil Mgr Edwal mengatakan hal itu di awal Misa Natal di Gereja Spiritu Santo Misir Maumere, 25 Desember 2018.

Menurut uskup yang baru ditahbiskan tiga bulan lalu itu, prestasi anak-anak Maumere, Flores, di pentas nasional akhir-akhir ini begitu menyedot perhatian publik. “Orang Maumere tentunya sangat berbangga dan berbahagia ketika menyaksikan antusiasme masyarakat Indonesia menikmati lagu ‘Gemu Fa Mi Re’ mulai dari tarik suara hingga tarian bahkan senam yang menghibur,” jelas uskup itu.

Beberapa bulan lalu, lanjut uskup, Near dan Dian Sorowea juga mengukir prestasi membanggakan dengan lagu “Karna Sa Su bilang, Karena Sa Su Sayang.”

Natal sesungguhnya adalah “peristiwa iman yang berakar dalam kemanusiaan, yang seringkali terlupakan dan tersisihkan karena trend zaman yang hanya menghargai orang-orang kaya dan berkuasa, orang-orang yang hidup di atas penderitaan orang lain, mencuri uang orang banyak dengan cara tersembunyi,” kata Mgr Edwal. Juga ditegaskan, “Natal pun adalah kesempatan untuk mengangkat nilai kemanusiaan dalam solidaritas yang menyelamatkan dan membebaskan.”

Kini, lanjut Uskup Maumere itu, “Paus Fransiskus menyerukan iman yang rahim, iman yang membebaskan dan menyelamatkan. Paus dalam begitu banyak lawatan menggugat sikap iman orang Katolik yang hanya aman untuk dirinya sendiri dan menutup mata pada penderitaan dan kesulitan orang lain sebagai sesamanya.”

Di akhir homili. Mgr Edwal mengajak umat mensyukuri rahmat Tuhan dalam kesederhanaan dan kesahajaan, terutama dalam kemanusiaan setiap orang yang harus diperjuangkan. “Kita tidak boleh menjadi orang beriman yang melecehkan orang lain karena asal usul suku, warna kulit, status sosial serta punya jabatan penting atau tidak. Kita harus menjadikan Natal sebagai saat berbagi berkat, bersolidaritas,” tegas uskup.

Mgr Edwal juga meminta agar Keuskupan Maumere terus berjuang menjadi Gereja yang sederhana dan tulus untuk terus bertolak ke tempat yang lebih dalam, untuk memerangi ketidakadilan, kemiskinan dan kekerasan. “Natal sebagaimana diamanatkan Yesaya, harus tetap menjadi cahaya di tengah kegelapan, terang di tengah praktek ketidakadilan, yang bergembira di atas air mata rakyat jelata serta memiskinkan orang kecil dengan begitu banyak kelicikan,” kata Mgr Edwal. (PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

 

Tinggalkan Pesan