Pejabat Patriark Latin Yerusalem Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa memimpin Misa Malam Natal di Gereja Santa Katarina, di Gereja Kelahiran Kristus di Bethlehem
Pejabat Patriark Latin Yerusalem Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa memimpin Misa Malam Natal di Gereja Santa Katarina, di Gereja Kelahiran Kristus di Bethlehem

Orang-orang dari seluruh dunia datang ke Betlehem untuk merayakan Natal di tempat yang secara tradisional diyakini sebagai tempat kelahiran Kristus. Dengan perkiraan 10.000 wisatawan, perayaan Natal tahun ini adalah salah satu yang paling banyak dihadiri selama bertahun-tahun.

Administrator Apostolik Patriarkat Latin Yerusalem Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa melakukan perjalanan ke Betlehem dari Yerusalem dengan melintasi pos pemeriksaan militer Israel. Ikut hadir pada Misa tengah malam itu adalah Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Rami Hamdallah.

Dalam sambutannya sebelum homili, seperti dilaporkan oleh Suster Bernadette Mary Reis FSP dari Vatican News, uskup agung itu mengatakan, ketika memasuki Basilika itu untuk Misa tengah malam, barulah dia melihat mosaik-mosaik yang sedang dalam proses pemulihan. Keindahan mosaik-mosaik itu “adalah sebuah metafora dari realitas kita,” katanya.

“Mosaik-mosaik itu indah tetapi ditutupi lapisan kotoran.” Karena kotoran itu “kami tak bisa ingat betapa indahnya mosaik-mosaik ini,” kata uskup agung itu. Hanya perlu dibersihkan sedikit untuk mengembalikan kecantikan mosaik-mosaik itu.

Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa mengatakan realitas Palestina di tahun lalu “mengerikan” dari “sudut pandang politik, ekonomi dan sosial.” Godaannya adalah berpikir bahwa semuanya kotor, kata uskup agung itu seraya menegaskan bahwa ada banyak masalah,”Tetapi kalau (kotoran) yang muncul dihapus, bisa terlihat kenyataan hidup, komitmen, proyek, inisiatif yang indah.” Meskipun ini merupakan bagian dari kenyataan Palestina, katanya, “Kami pula harapan untuk masa depan.” Natal, katanya, juga tentang menghilangkan lapisan kotoran guna melihat keajaiban kehidupan yang kita jalani.

Sementara jumlah orang asing mungkin bertambah, jumlah orang Palestina yang hadir semakin sedikit. Menurut seorang warga Betlehem, hal ini disebabkan oleh keamanan yang lebih ketat. Betlehem terletak di bagian Tepi Barat yang dikuasai Israel. Lonjakan kekerasan yang terjadi baru-baru ini dipicu oleh dua penembakan yang menargetkan tentara Israel. Keamanan ditingkatkan saat Israel terus mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas penembakan itu.

Ketika umat yang masuk gereja menunggu dimulainya Misa Tengah Malam, ada yang menyanyikan “Silent Night” sementara yang lain membawa lilin. Menteri Pariwisata Palestina Rula Maaya mengatakan, “Ini hari perayaan. Dan kami berharap suatu hari nanti kita bisa merayakan seperti orang lain.”

Para peziarah asing menyatakan bahwa datang ke Betlehem adalah mimpi yang menjadi kenyataan. “Sungguh ramai berada di tempat [di mana] semuanya dimulai,” kata seorang wanita berusia 24 tahun dari Jerman. Seorang turis dari Los Angeles mengatakan bahwa datang ke Bethlehem untuk Natal sudah merupakan rencana utamanya. “Sebagai seorang Kristiani, tidak ada tempat lebih baik selain Bethlehem. Tempat itu membawa saya kembali ke semua cerita kaya yang kudengar saat bertumbuh dewasa. Menyenangkan dan luar biasa rasanya berada di pusat imanku.” (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan