Mark Nimo berbicara dalam konferensi pers. PEN@ Katolik/km
Mark Nimo berbicara dalam konferensi pers. PEN@ Katolik/km

Umat Katolik, tidak boleh pasif dalam beriman dan mewartakan Kristus melainkan harus berperan aktif dalam melayani di lingkungan, kata seorang pewarta awam dari Chicago, Amerika Serikat. Pria bernama Mark Nimo itu berpesan, “Kita perlu aktif menanggapi panggilan Allah untuk melayani.’’

Nimo berbicara dalam konferensi pers yang dihadiri puluhan media massa Katolik, 24 November 2018. Dia hadir di Jakarta hari itu sebagai salah satu pembicara dan pemberi kesaksian dalam kegiatan Unlimited  Worship Conference  (UCW) 2018 di sebuah mall di Jakarta Selatan. Kegiatan itu dihadiri 3.300 umat dari beberapa keuskupan di Indonesia bahkan Malaysia dan Singapura.

Nimo yang didampingi Koordinator UWC 2018 George Cello Ganda menceritakan, pengalaman hidupnya merupakan kasih Tuhan yang tak terhingga. “Dulu, sekitar 28 tahun silam saya hidup sebagai orang Katolik biasa-biasa saja. Saya terlibat dalam pengalaman seks bebas  bahkan dunia hitam, sehingga saya mengalami kepahitan luar biasa. Namun, saat diajak seorang ibu  untuk bersama mengikuti persekutuan doa, hidup dalam kedosaan itu saya tinggalkan.”

Setelah menamatkan kuliah  jurusan ekonomi ia sempat bekerja selama setahun dan mengikuti sekolah pemuridan selama enam bulan, lalu bertugas di Uganda sebagai pengajar agama Katolik. Kemudian dia kembali ke Amerika Serikat untuk melayani penderita HIV/AIDS.

“Pengalaman hidup dan Injil merupakan dua hal yang saya pakai untuk pelayanan,” kata Nimo yang menyelesaikan S3 dalam teologi, seraya menekankan pentingnya hidup doa dalam keluarga. Bapak tiga anak itu menceritakan “Setiap hari saya bersama anggota keluarga memiliki waktu atau jam doa bersama  anak dan istri,” katanya.

Dalam menjalani hidup keluarga, lanjutnya, dia juga menanamkan semangat saling membantu dalam keluarga dan kecintaan kepada anak-anaknya untuk ikut melayani, dan dua anaknya menjadi anggota tim pujian di paroki. “Istri saya pintar memasak. Saya selalu membantu istri, misalnya belanja keperluan pasar, membantu mencuci pakaian dan menyetrika. Hal ini saya lakukan karena saya begitu mencintai istri dan anak-anak saya,” lanjut Nimo.

Menjawab pertanyaan wartawan soal mengapa memilih hidup sebagai pewarta, Nimo mengatakan, “Setiap orang yang dibaptis memiliki kewajiban membantu karya kerasulan awam.” Di parokinya, di Chicago, Nimo diminta oleh pastor untuk membantu pengajaran di paroki-paroki lain.

Berbicara mengenai kerukunan, dia mengatakan bahwa negara yang baik dan aman bermula dari keluarga yang harmonis. “Tanpa ada keharmonisan keluarga, negara yang aman dan damai suit dicapai,” tegas Nimo seraya menganjurkan agar umat Katolik memberikan perhatian terhadap keluarga.

Dalam UCW 2018 hadir juga desainer kondang Anne Avantie, dan yang tampil dalam talk show pada acara itu adalah FX Hardiman, Joppy Taroreh, Jane Hanjaya, dan Benyamin Ratu. Misa yang menutup UWC itu dipimpin oleh Vikep KAJ Pastor Andang Binawan SJ dengan 8 konselebran termasuk Pastor Christ Purba SJ sebagai moderator Badan Pelayanan Pembaharuan Kharismatik Katolik (BP PKK).(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Tinggalkan Pesan