Para uskup dan Jokowi1

Di sela-sela rapat tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) atau Sidang Sinodal KWI 2018, tanggal 5-14 November 2018, di Gedung Pastoral Keuskupan Bandung, karena kantor KWI di Jakarta sudah dikosongkan untuk pembangunan gedung baru, para uskup se-Indonesia mengadakan kunjungan silaturahmi kepada Presiden Jokowi di Istana Bogor.

Menjawab undangan Presiden Jokowi, yang pernah mengunjungi kantor KWI 24 Agustus 2018, tanggal 12 November 2018, sebanyak 35 uskup dan 4 uskup emeritus didampingi empat imam sekretaris eksekutif di KWI melakukan kunjungan silaturahmi itu.

Menurut catatan KWI dalam halaman Fecebooknya, para uskup sedang berkumpul di Bandung untuk “melakukan refleksi karya pelayanan bagi umat dan harapan besar bagi negara untuk tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM).”

HAM memang dipilih sebagai tema sidang itu, karena soal HAM tidak ada dalam tujuh pokok penting Nota Pastoral 2018 yang berjudul “Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa – Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan.”

Sidang Sinodal KWI dibuka dengan ibadat pagi dipimpin Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM. Setelah menyanyikan Indonesia Raya, Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo membuka sidang itu. Pembukaan sidang juga dihadiri para sekretaris komisi, lembaga, sekretariat dan departemen dalam KWI. Hadir juga Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo, Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, salah satu ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Bambang H Widjaja, serta wakil-wakil Koptari dan Unio Indonesia.

Setelah melewati hari pertama dengan refleksi tentang HAM, peserta sidang mendengarkan laporan  komisi-komisi di KWI tentang karya pelayanan mereka selama tiga tahun terakhir. Hari itu juga dibahas Pesan Natal 2018 dan pemilihan pengurus baru personalia KWI, yang menjadi alasan disebut sebagai Sidang Sinodal, dan pembahasan persiapan kunjungan ad limina ke Vatikan Juni 2019.

Di hari yang sama kunjungan silaturahmi itu, Presiden Jokowi juga menerima Juara Umum Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) 2018 di Ambon, yakni Provinsi Kalimantan Timur. Para uskup dan Presiden Jokowi bergambar bersama mereka.

Dalam sambutannya kepada delegasi dari Kalimantan Timur itu, seperti dilaporkan oleh media online Sekretariat Kabinet Republik Indonesia http://setkab.go.id/, Presiden mengingatkan, yang penting bukan semata-mata soal vokal atau siapa pemenang atau siapa yang menjadi juara, “tapi yang paling penting kita bisa merayakan kebersamaan, bisa merayakan persaudaraan, bisa merayakan persatuan.”

Dalam paduan suara, kata Presiden, “kita banyak belajar tentang tenggang rasa, belajar untuk saling menghargai, dan belajar saling membangun toleransi. Itulah yang diperlukan bangsa kita Indonesia sekarang ini.”

Menurut Presiden Jokowi, diperlukan pemahaman agar aset terbesar bangsa, yaitu persatuan, persaudaraan, dan kerukunan betul-betul bisa diresapi dan bisa dipahami secara mendasar oleh masyarakat. “Jangan sampai intoleransi, ekstremisme, menganggap dirinya yang paling benar, itu merasuk ke mana-mana dan nantinya membuat masyarakat merasa tidak rukun, tidak satu. Itu yang sangat berbahaya,” tegas Presiden Jokowi. (PEN@ Katolik/paul c pati dari berbagai sumber)

Para uskup dan JokowiPara uskup dan Jokowi3Para uskup dan Jokowi4Sidang KWIPesparani-2018

Tinggalkan Pesan