Tahbisan-Imam

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

334. Apakah perlu menjalani hidup selibat untuk menerima Sakramen Penahbisan?

Untuk episkopat, mutlak perlu. Untuk presbiterat dalam Gereja Latin, yang dipilih adalah orang yang Katolik dan mempraktekkan selibat: orang-orang yang bermaksud melanjutkan penghayatan hidup selibat ”karena Kerajaan Surga” (Mat 19:12). Dalam Gereja-Gereja Timur, perkawinan tidak boleh dilaksanakan setelah seseorang ditahbiskan. Orang yang sudah kawin dapat ditahbiskan menjadi Diakon permanen.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1579-1580; 1599

335. Apa buah Sakramen Penahbisan?

Sakramen ini memberikan pencurahan khusus Roh Kudus yang menjadikan orang yang menerimanya serupa dengan Kristus dalam tiga jabatan-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja sesuai dengan tingkatan Sakramen yang diterimanya. Penahbisan memberikan meterai spiritual yang tidak dapat dihapuskan, dan karena itu tidak dapat diulangi atau diberikan untuk sementara waktu.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1581-1589

336. Dengan wewenang apakah pelayanan imamat itu dilaksanakan?

Dalam menjalankan tugas pelayanan sucinya, para Imam yang ditahbiskan berbicara dan bertindak bukan atas wewenang mereka sendiri, bukan pula karena mandat atau delegasi komunitas tertentu, tetapi atas nama Pribadi Kristus Sang Kepala dan atas nama Gereja. Karena itu, imamat jabatan ini berbeda secara esensial dan tidak hanya dalam tingkatan dengan imamat umum seluruh umat beriman. Untuk pelayanan umat beriman, Kristus menetapkan Sakramen ini.

Teruslah membacanya dalam Katekismus Gereja Katolik 1547-1553; 1592

Tinggalkan Pesan