Pastor Patrick1
Pastor Patrick Hartadi OFMCap. Foto berdasarkan https://deskgram.org/capuchinscamp

Hari ini, 30 Juli 2018, setelah Misa Requiem pukul 09.00 di Gereja Santo Agustinus Kubu Raya, Kalimantan Barat, jenazah Pastor Patrick Hartadi OFMCap, yang meninggal dalam usia 74 di Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak 28 Juli 2018, pukul 00.10, dihantar untuk dimakamkan di Kerkop Santo Yusup Sungai Raya Pontianak.

Pastor Patrick yang lahir dengan nama permandian “Yohanes” di Teluk Pakedai, 26 Juli 1944, sebelum masuk biara bernama Lim Keng Siang. Setelah menamatkan SLTA, Yohanes Lim Keng Siang mengikuti jejak kakaknya Suster Angelita Limas SFIC untuk masuk biara dan memutuskan bergabung dengan Saudara-Saudara Kapusin. Tanggal 1 Agustus 1964, Yohanes Lim Keng Siang memasuki novisiat di Parapat Sumatera Utara dengan nama biara Patrick Hartadi.

Setelah pemakaman, Minister Provinsial Ordo Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap mengatakan kepada PEN@ Katolik lewat media sosial bahwa Pastor Patrick “setia menjalankan panggilannya sebagai imam dan Fransiskan Kapusin.”

Selain itu, Pastor Patrick yang “setia berdoa dan tampil bersahaja” itu, menurut provinsialnya, “senang menekuni pekerjaan tangan, seperti berkebun, bertukang dan memperbaiki alat-alat elektronik.” Pelayanan yang dilakukan imam itu, “bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi sungguh-sungguh memberikan diri.”

Jabatan yang ditekuni pastor itu saat meninggal adalah ekonom OFMCap Pontianak dan Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus Kubu Raya. Dan dalam menjalankan tugasnya, lanjut Pastor Mayong “Beliau disiplin. Setiap pagi pukul 07.00 berangkat dari Provinsialat menuju Komunitas Kapusin di Jalan Patimura untuk sekedar minum kopi dan ngobrol dengan para saudara di sana. Setelah itu pergi ke Bank atau ke Pusat Rehabilitasi Sabatu. Pulang untuk makan siang dan istirahat serta berkebun. Malam 19.00-20.00 kembali bekerja di kantornya di Provinsialat.”

Pusat Rehabilitasi Sabatu (SAling memBAnTU), yang menangani keterbatasan fisik, didirikan tanggal 1 Juli 1998 Bruder JLC Wijnans OFMCap, dan sampai akhir 2011 berada di bawah naungan Ordo Kapusin, dan sejak awal 2012 mulai  berdiri sendiri.

Pastor Patrick yang ditahbiskan imam tanggal 14 Juli 1972 itu, menurut pengamatan Pastor Mayong, “tidak pernah mau merepotkan orang lain, dan karena ketelitiannya, sebagian besar hidupnya diberikan untuk melayani sebagai sekretaris atau ekonom, baik di lingkungan ordo maupun keuskupan.”

Menurut informasi yang diterima PEN@ Katolik, selama menjadi saudara Kapusin, Pastor Patrick melaksanakan karya pelayanannya di berbagai tempat. Setelah tahbisan, Pastor Patrick yang menyelesaikan filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Parapat Sumatera Utara (1964-1972) ditugaskan sebagai Pastor Pembantu di Sanggau Kapuas (1972-1973), dan dikirim ke Roma untuk belajar di Universitas Kepausan Salesiana hingga mengantongi Lisensiat Pedagogi (1973-1978).

Kembali dari Roma, imam itu jadi pimpinan Persekolahan Katolik Nyarumkop di Singkawang (1979-1982), Persekolahan Nyarumkop (1982-1983), Vikjen atau Sekretaris Keuskupan Sanggau (1983-1991), Sekretaris Provinsi Kapusin Indonesia (1991-1994), sekretaris dan ekonom Badan Kerjasama Provinsi Kapusin atau BKS Prokap (1994-1996), Pastor Pembantu/Pastor Paroki Gembala Baik Pontianak dan Sekretaris Provinsi Kapusin Pontianak (1996-1997), Ekonom Keuskupan Palangkaraya (1997-2000), Sekretaris Provinsi Kapusin Pontianak (2000-2001), dan Ekonom Kapusin Pontianak dan Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus (2001-2018) Kubu Raya.

Menurut Pastor Laurentius Pras CDD yang juga Pastor Pembantu Paroki Santo Agustinus Kubu Raya, Pastor Patrick berangkat ke rumah sakit bukan karena sakit yang sangat vital. “Beliau masuk rumah sakit hari Selasa 24 Juli langsung puasa dan keesokan harinya operasi tangan karena sudah dua minggu dia mengalami perawatan karena tangannya tertimpa kayu yang dipotongnya di kebun,” cerita imam itu kepada PEN@ Katolik.

Tanggal 26 Juli, Pastor Patrick masih merayakan ulang tahun di rumah sakit. “Banyak tamu menyanyi bahagia, Pater juga ikut nyanyi. Sayangnya, ketika Pater mau buang air kecil, dia terjatuh da tak sadar diri. Tanggal 27 Juli malam kondisinya menurun drastis, dan menerima Sakramen Perminyakan.” (paul c pati)

Pastor Patrick

Tinggalkan Pesan