Mgr Sunarko
Mgr Adrianus Sunarko OFM mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Riau dengan kapal kayu/Foto Bruder Tri OFM

Ketika kembali ke biara setelah mendengar keputusan Paus Fransiskus dari Duta Vatikan untuk Indonesia tentang pengangkatannya sebagai Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM mulai membuka-buka peta melihat wilayah Keuskupan Pangkalpinang.

“Ternyata wilayahnya mencakup juga Kepulauan Riau. Dalam permenungan kemudian saya memilih motto Episkopat ‘Hendaklah banyak pulau bersukacita’ (Mzm 97:1). Motto ini semakin saya rasakan setelah mengadakan kunjungan pastoral dan berkeliling dari pulau ke pulau, berpindah-pindah dari pongpong (kapal kayu kecil bermesin dengan kapasitas 8-10 orang) seperti saat ini. Terimakasih untuk seluruh umat. Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Mgr Adrianus Sunarko OFM berbicara dalam Misa di Gereja Stasi Santa Maria Ratu Rosari, Pancur, 8 Juli 2018 saat mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting, yang mencakupi  seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga, di Provinsi Kepulauan Riau.

Berikut ini PEN@ Katolik mengangkat laporan Pastor Hans K Jeharut, imam Keuskupan Pangkalpinang, disertai foto-foto yang diambil oleh Bruder Tri OFM.

Tanggal 6-10 Juli 2018 Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, mengadakan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Carolus Borromeus, Ujung Beting. Paroki itu mencakup seluruh wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga. Menurut kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga, H Eddy Subrata, Kepulauan Lingga terdiri dari 604 pulau, sekitar tiga puluhan pulau dihuni penduduk dan lainnya tanpa penghuni.

Perjalanan dimulai dari Daek, Ibu Kota Kabupaten Lingga. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam dengan speed boat dari Pelabuhan Punggur, Batam,  rombongan tiba di Pelabuhan Sei Tenam, Daek, pukul 13.30 WIB.

Gelombang laut yang tinggi membuat ciut nyali beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Wanita Katolik Republik Indonesia Keuskupan Pangkalpinang, Komunitas Medik Katolik Indonesia Kepulauan Riau, Komunitas iCare dari Singapura dan staf Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

Di Daek, Uskup dan rombongan berkunjung ke Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lingga. Eddy Subrata berterimakasih atas kunjungan Uskup dan atas keterlibatan umat Katolik dalam upaya menjaga kerukunan di Kabupaten Lingga. “Umat Katolik adalah umat yang patuh,” kata Eddy Subrata.

Uskup kemudian mengunjungi dua keluarga Katolik di Daek. Menurut Purba, seorang umat, kalau ingin merayakan Ekaristi, mereka harus menyeberang ke pulau lain dengan pongpong, “tapi kalau pastor kebetulan datang ke Daek, kami merayakan Ekaristi di rumah.”

Setelah menikmati kopi dan durian Daek, rombongan melanjutkan perjalanan ke Linau untuk selanjutnya ke Ujung Beting. Untuk itu, rombongan harus menunggu air laut pasang supaya bisa naik ke pongpong. Namun saat ini mereka menunggu agak lama di pelantar (dermaga tradisional dengan tiang-tiang kayu pancang) karena sedang siklus ‘pasang sore.’

Jarak Linau ke Ujung Beting ditempuh dalam 30 menit. Beberapa ratus meter sebelum tiba di dermaga, masih di tengah laut, rombongan dalam tiga pongpong berhenti karena Uskup harus memberkati Patung Santa Maria Ratu Rosari, Patung Santo Petrus dan Ikon kerahiman Ilahi. Setelah pemberkatan, iring-iringan pongpong merapat ke pantai dan disambut meriah oleh umat yang sudah menunggu sejak siang.

Keletihan terbayar menyaksikan kegembiraan umat berjumpa dengan Gembalanya. Dari dermaga, Uskup dan rombongan beserta seluruh umat masuk ke gereja untuk berdoa. Setelah berdoa dan perkenalan singkat, mereka makan malam bersama.

Sabtu, 7 Juli 2018, Uskup memimpin Misa di Gereja Ujung Beting. Umat datang dari beberapa pulau di sekitar Ujung Beting. Mereka tiba dalam rombongan-rombongan kecil menggunakan sampan dan pongpong. Dalam Misa ini, delapan umat menerima Sakramen Krisma.

”Pulau-pulau akan bersukacita kalau Tuhanlah yang meraja atas pulau dan seluruh penghuninya,” kata uskup dalam homili mengutip Mazmur 97:1 yang menjadi motto tahbisan dan kegembalaan Mgr Sunarko. Setelah Misa, dokter-dokter dari KMKI melayani umat dengan pengobatan gratis dan penyuluhan cara hidup sehat, sedangkan Komunitas iCare mendampingi anak-anak, remaja, dan OMK dengan permainan-permainan edukatif sambil memberi animasi.

Malam hari, dalam pertemuan dengan umat, uskup mendengarkan beberapa permohonan umat terutama berkaitan dengan pendidikan anak-anak di pulau dan ketersediaan guru agama serta bahan-bahan pengajaran untuk dipakai di pulau-pulau.

Minggu 8 Juli 2018, Uskup berkunjung ke Stasi Pancur bersama umat Ujung Beting. Delapan pongpong berarak bersama di laut, dua di antaranya membawa patung Santa Maria dan Santo Petrus yang akan ditahtakan di Gereja Santa Maria Ratu Rosari, Pancur.

Setelah sekitar satu jam mengarungi samudra, barisan pongpong itu tiba di Pancur. Misa Pemberkatan Gereja Santa Maria Ratu Rosari, yang dimulai pukul 10.00 WIB, diawali penyerahan kunci dari Ketua Panitia Pembangunan Gereja.

Dalam homili, Mgr Sunarko mengajak umat untuk meneladani Bunda Maria yang setia kepada kehendak Allah dalam segala situasi, sedih maupun gembira, sebagaimana peristiwa-peristiwa Rosario. Gereja itu mengambil nama Santa Maria Ratu Rosari, maka umat yang berdoa di gereja ini diminta meneladani sikap iman dan kesetiaan Bunda Maria.

Tanggal 8 Juli 2018, Mgr Sunarko merayakan HUT Imamat ke-23. Maka, setelah Misa umat mempersembahkan kue ulang tahun kepada Uskup, yang lalu membagi potongan-potongan kue kepada Kapolsek Senayang , Danramil, Danpos AL dan perwakilan pemimpin agama.

Dari Pancur, rombongan mengendarai mobil menuju Sei Tenam untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Manik. Di sana, Uskup bertemu umat dan menikmati kopi sore dan menunda perjalanan beberapa jam ke Pulau Pulon sambil menunggu angin reda. Pukul 18.30 WIB, tiga pongpong meninggalkan Pulau Manik menuju Pulau Pulon. Dalam kegelapan malam di bawah taburan cahaya bintang, pongpong melaju membelah samudra dan tiba pukul 20.15.

“Selamat datang Bapa, selamat datang ibu, selamat datang kami ucapkan. Selamat datang Bapa Uskup…” menggema suara umat Stasi Santo Aloisius Gonzaga, Pulon. Seluruh warga, Katolik dan non Katolik, hadir menyambut kedatangan Uskup. Suasana persaudaraan kian terasa karena semua menikmati makan malam bersama.

Setelah Misa, 9 Juli 2018, Uskup berdialog dengan umat dengan menekankan identitas umat Keuskupan Pangkalpinang yang berpusat pada Kristus, hidup dalam komunio (persekutuan), dan aktif mewartakan kesaksian hidup sebagai misi yang diemban. Sore hari, dengan kapal “Lintas Kepri,” Uskup dan rombongan menuju Dabo, stasi terakhir dalam rangkaian kunjungan pastoral itu.

Dalam Misa di sana, Uskup menceritakan kisah terpilihnya sebagai Uskup hingga memilih motto Episkopat “hendaklah banyak pulau bersukacita” (Mzm 97:1) dan berharap “Semoga semua pulau dan penghuninya bersukacita.”

Meski hujan rintik mengguyur Dabo sejak pagi, 10 Juli 2018, Uskup bersama rombongan meninggalkan Dabo menuju Batam.***

Artikel terkait:

Mgr Sunarko: kalau Tuhan sendiri jadi raja dalam hidup kita banyak pulau akan bersukacita

Mgr Adrianus Sunarko OFM ditahbiskan jadi Uskup Pangkalpinang bukan rancangan saya

Live streaming tahbisan Uskup Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko-ofm

Saat Misa Perdana, Mgr Sunarko terima kepemimpinan keuskupan dan tanda kesetiaan para imam

Mgr Sunarko 1
Foto: Bruder Tri OFM
Mgr Sunarko2
Foto: Bruder Tri OFM
Mgr Sunarko3
Mgr Sunarko rayakan HUT Imamat/Foto: Bruder Tri OFM
Mgr Sunarko4
Foto: Bruder Tri OFM
Mgr Sunarko5
Foto: Bruder Tri OFM

Tinggalkan Pesan